Penjelasan Hadits Bukhari No. 3182 tentang Ketaatan kepada Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab besar: ketika keadaan terasa berat dan kita belum memahami hikmahnya, jangan tergesa menuduh syariat atau pemimpin yang benar, tetapi curigailah diri sendiri dan tetaplah taat. Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu sempat bertanya karena beratnya Perjanjian Hudaibiyah, lalu Nabi ﷺ menegaskan bahwa beliau adalah Rasulullah dan Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Tidak lama kemudian turun Surah Al-Fath, dan perjanjian yang tampak merugikan itu justru menjadi kemenangan yang nyata.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat yang berkaitan dengan peristiwa ini adalah awal Surah Al-Fath:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

(QS. Al-Fath [48]: 1)

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Jizyah wa al-Muwada'ah (Kitab Jizyah dan Perjanjian), dari Abu Wail (Syaqiq bin Salamah), dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu 'anhu.

Para ulama yang menjelaskan makna peristiwa ini antara lain:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, beliau menjelaskan bahwa Surah Al-Fath turun berkaitan dengan Perjanjian Hudaibiyah, dan bahwa "fath" (kemenangan) di sini mencakup kemenangan yang tampak maupun yang tersembunyi.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan keutamaan tunduknya Umar kepada kebenaran dan keagungan kedudukan Abu Bakar.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Perjanjian Hudaibiyah adalah pembuka jalan bagi penaklukan Makkah (Fathu Makkah).
  • Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan hikmah-hikmah Perjanjian Hudaibiyah secara terperinci.

Penjelasan Rinci

Peristiwa ini terjadi pada tahun keenam Hijriyah, ketika Nabi ﷺ bersama para sahabat berangkat menuju Makkah untuk menunaikan umrah, namun di Hudaibiyah mereka dihalangi oleh kaum Quraisy. Akhirnya diadakan perjanjian damai yang isinya terasa berat bagi kaum muslimin, seperti kembali ke Madinah tanpa umrah pada tahun itu, dan beberapa syarat lain yang secara lahir tampak merugikan.

Di sinilah Sahl bin Hunaif radhiyallahu 'anhu, dalam riwayat ini, mengingatkan manusia di Shiffin agar mencurigai diri sendiri, bukan mencurigai kebijakan Nabi ﷺ. Beliau mengingatkan bahwa pada hari Hudaibiyah, mereka bersama Rasulullah ﷺ, dan seandainya mereka diperintahkan berperang, mereka akan berperang. Tetapi Nabi ﷺ memilih jalan perjanjian, dan itulah yang terbaik.

Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, karena semangat membela agama dan kecintaannya kepada kebenaran, bertanya kepada Nabi ﷺ dengan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kejujuran hatinya, bukan penentangan. Beliau bertanya: bukankah kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan? Bukankah yang terbunuh dari pihak kita masuk surga dan yang terbunuh dari pihak mereka masuk neraka? Lalu mengapa kita menerima kehinaan dalam agama kita?

Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang sangat tegas dan menenangkan: "Wahai Ibnul Khattab, aku adalah Rasulullah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakanku selamanya." Ini adalah pelajaran tauhid dan tawakal yang agung: seorang rasul tidak akan dibiarkan Allah, dan janji Allah pasti ditunaikan meskipun hikmahnya belum tampak.

Umar kemudian menemui Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dan menyampaikan hal yang sama. Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang sama: "Dia adalah Rasulullah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakannya selamanya." Ini menunjukkan keutamaan Abu Bakar dalam ketenangan, keyakinan, dan kedalaman ilmu, serta adab Umar yang mau bertanya kepada orang yang lebih tahu.

Kemudian turun Surah Al-Fath, dan Nabi ﷺ membacakannya kepada Umar hingga akhir. Umar bertanya: "Apakah ini sebuah kemenangan?" Nabi ﷺ menjawab: "Ya." Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Surah Al-Fath turun berkaitan dengan Perjanjian Hudaibiyah, dan bahwa perjanjian itu adalah kemenangan yang nyata, karena membuka jalan bagi dakwah, masuknya banyak orang ke dalam Islam, dan akhirnya penaklukan Makkah.

Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Perjanjian Hudaibiyah adalah salah satu buah kecerdasan politik dan hikmah kenabian yang paling agung, karena dengan perjanjian itu kaum muslimin dapat berdakwah dengan leluasa, dan banyak kabilah Arab masuk Islam.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang kewajiban taat kepada Rasulullah ﷺ, adab bertanya dengan baik, dan keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama tentang sikap Umar dalam peristiwa ini, maka para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa Umar tidak keluar dari ketaatan, tetapi beliau bertanya karena beratnya keadaan dan keinginan kuat untuk membela agama. Nabi ﷺ tidak mencelanya dengan keras, tetapi menegaskan kebenaran dan menenangkannya. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu tetap dalam keimanan dan ketaatan, dan pertanyaannya adalah bentuk ijtihad dan kecintaan kepada kebenaran.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa setelah Perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin merasa berat, bahkan sebagian hampir tidak mampu menyembelih hewan kurban karena sedih. Namun Nabi ﷺ tetap tenang dan yakin. Tidak lama kemudian, Surah Al-Fath turun, dan Nabi ﷺ membacakannya. Umar radhiyallahu 'anhu, yang sebelumnya bertanya dengan penuh semangat, kini memahami bahwa apa yang beliau anggap sebagai kehinaan justru adalah kemenangan. Beliau pun menerima dengan lapang dada.

Hikmahnya: kadang Allah memberikan kemenangan melalui jalan yang tidak kita duga. Kesabaran dan ketaatan pada saat sulit adalah kunci datangnya pertolongan.

Kesimpulan Praktis

  1. Ketika menghadapi keadaan yang berat dan belum memahami hikmahnya, curigailah diri sendiri dan jangan tergesa menuduh syariat atau pemimpin yang benar.
  2. Taat kepada Rasulullah ﷺ dan para pemimpin yang adil adalah kewajiban, terutama saat keadaan sulit.
  3. Bertanyalah dengan adab yang baik, seperti Umar radhiyallahu 'anhu, bukan dengan penentangan.
  4. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang beriman dan beramal saleh.
  5. Kadang kemenangan datang melalui jalan yang tampak merugikan, seperti Perjanjian Hudaibiyah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?