Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang kekuasaan Allah ﷻ yang sempurna dalam menciptakan manusia. Sejak awal penciptaan, Allah telah menakdirkan dan menuliskan segala urusan hamba-Nya, baik jenis kelamin, rezeki, ajal, maupun kebahagiaan atau kesengsaraannya. Ini adalah bagian dari iman kepada qada dan qadar, yang seharusnya menjadikan kita bersemangat beramal baik, bukan berputus asa atau malah bertawakal tanpa usaha.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Haid, Bab "Mengenai yang Diciptakan dan yang Tidak Diciptakan", nomor 318, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Dalil dari Al-Qur'an yang sangat relevan dengan hadits ini adalah firman Allah ﷻ:
QS. Al-Hajj [22]: 5
ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ
"Kemudian dari setetes air mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna kejadiannya..."
Ayat ini menjelaskan tahapan penciptaan manusia yang disebutkan dalam hadits, dan bahwa di antara janin ada yang disempurnakan dan ada yang tidak, sesuai kehendak Allah.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk tentang makna "ditulis di dalam perut ibunya" dan hubungannya dengan hadits-hadits tentang pencatatan takdir. Beliau juga membawakan riwayat-riwayat lain yang memperkuat pemahaman ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu pilar pemahaman Ahlus Sunnah tentang takdir. Mari kita bedah maknanya:
- "Allah mengutus seorang malaikat kepada rahim": Ini menunjukkan perhatian dan pengaturan Allah yang sangat detail terhadap penciptaan manusia. Malaikat ini bertugas mencatat dan mengurus proses penciptaan atas perintah Allah. Ini bukan berarti Allah butuh bantuan, tetapi ini adalah bentuk kemuliaan dan ketelitian pengaturan-Nya.
- Tahapan Penciptaan: Malaikat itu berkata, "Ya Rabbi, nutfah (setetes mani), Ya Rabbi, 'alaqah (segumpal darah), Ya Rabbi, mudhghah (segumpal daging)." Ini adalah tahapan yang juga disebutkan dalam Al-Qur'an. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tahapan-tahapan ini adalah bukti kekuasaan Allah dalam menghidupkan dan mematikan, dan menjadi dalil kebangkitan setelah mati.
- Pencatatan Takdir: Ketika Allah menghendaki untuk menyempurnakan penciptaannya, malaikat bertanya tentang empat hal:
- Jenis kelamin: laki-laki atau perempuan.
- Celaka atau bahagia: Ini berkaitan dengan akhir kehidupan seseorang, apakah ditutup dengan kebaikan (bahagia) atau keburukan (celaka).
- Rezeki: Berapa banyak dan bagaimana rezekinya.
- Ajal: Kapan dan bagaimana kematiannya.
Semua ini ditulis saat janin masih dalam kandungan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa pencatatan ini adalah salah satu bentuk takdir mu'allaq (yang tergantung) yang telah Allah tetapkan ilmunya sejak azali, dan kemudian ditulis oleh malaikat sebagai perwujudan dari takdir tersebut.
- Perbedaan dengan Hadits Ibnu Mas'ud: Terdapat hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang menyebutkan bahwa pencatatan ini terjadi setelah 40 hari kedua (yaitu setelah 80 hari). Sedangkan dalam hadits Anas ini tidak disebutkan waktunya secara spesifik. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara keduanya. Pencatatan takdir ini bisa terjadi berulang kali, atau yang dimaksud adalah pencatatan yang berbeda. Namun, yang terpenting adalah hakikat bahwa semua takdir telah ditulis dan diketahui oleh Allah.
- Kesalahan Pemahaman: Hadits ini seringkali disalahpahami oleh sebagian orang yang mengatakan, "Kalau sudah ditulis celaka, buat apa beramal?" Ini adalah pemahaman yang keliru dan dibantah oleh para ulama. Nabi ﷺ sendiri bersabda dalam hadits riwayat Muslim, "Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang dia diciptakan." Artinya, takdir itu tidak diketahui oleh kita. Kita diperintahkan untuk beramal dan berusaha, dan Allah akan memudahkan kita sesuai dengan apa yang Dia ketahui tentang kita. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah menegaskan bahwa iman kepada takdir tidak meniadakan usaha, bahkan usaha itu sendiri adalah bagian dari takdir.
Story Telling
Ada satu kisah yang sangat masyhur tentang seorang sahabat yang bertanya tentang takdir ini. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Kami berada di suatu pemakaman (jenazah) di Baqi' al-Gharqad. Lalu Rasulullah ﷺ datang dan duduk di samping kami. Beliau membawa sebuah tongkat kecil, lalu beliau menundukkan kepalanya dan menggores-gores tanah dengan tongkatnya tersebut. Beliau bersabda:
"Tidak ada seorang pun di antara kalian, melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka dan tempat duduknya di surga."
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau begitu, apakah kita tidak boleh berserah diri saja (tanpa beramal)?"
Beliau menjawab, "Beramallah kalian, sebab setiap orang akan dimudahkan (untuk melakukan amalan yang sesuai dengan takdirnya)." Kemudian beliau membacakan ayat:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (QS. Al-Lail [92]: 5-7)
(Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari kisah ini: Para sahabat yang mulia tidak pernah menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas beribadah. Justru sebaliknya, mereka semakin bersemangat karena mereka tahu bahwa amal mereka adalah bukti dari takdir yang baik. Kita tidak diperintahkan untuk menebak-nebak takdir kita, tetapi kita diperintahkan untuk beramal dengan sungguh-sungguh.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Meyakini Qada dan Qadar: Kita harus beriman bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah sejak azali, termasuk rezeki, ajal, dan amal kita. Ini akan menenangkan hati dan menghilangkan rasa iri serta dengki.
- Bersungguh-sungguh dalam Beramal: Takdir bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Justru dengan beramal, kita sedang berjalan di atas takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita.
- Tidak Berputus Asa: Jika kita merasa banyak dosa, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Takdir "celaka" atau "bahagia" adalah rahasia Allah. Selama kita masih hidup, pintu taubat selalu terbuka. Perbaiki diri kita sekarang juga.
- Merenungkan Penciptaan Diri: Melihat tahapan penciptaan kita yang begitu sempurna, seharusnya menambah rasa syukur dan takjub kita kepada Allah ﷻ, serta menyadari bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan sangat bergantung kepada-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.