Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang kejujuran dan amanah dalam memenuhi janji, terutama janji seorang pemimpin kepada rakyatnya. Kisah ini juga menunjukkan betapa mulianya akhlak Abu Bakar ash-Shiddiq yang segera menunaikan janji Rasulullah ﷺ setelah beliau wafat. Di sisi lain, kisah Abbas bin Abdul Muththalib mengingatkan kita tentang sifat dasar manusia yang cenderung tamak terhadap harta, namun hal itu tidak mengurangi kedudukan beliau sebagai paman Rasulullah ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jizyah dan Mu'awadah, Bab "Apa yang Diberikan Nabi dari Bahrain, dan Apa yang Dijanjikan dari Harta Bahrain dan Jizyah, dan Untuk Siapa yang Diberikan Fa'i dan Jizyah", no. 3165, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma.
Dalil terkait tentang keutamaan menepati janji:
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji (akad-akad) itu."
(QS. Al-Ma'idah [5]: 1)
Allah Ta'ala juga berfirman:
وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا
"Dan tepatilah janji dengan Allah."
(QS. An-Nahl [16]: 91)
Hadits terkait:
Rasulullah ﷺ bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
"Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat."
(HR. Al-Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya seorang pemimpin untuk menunaikan janji yang telah diucapkan oleh pemimpin sebelumnya, karena janji tersebut adalah hak rakyat yang harus ditunaikan. Beliau juga menyebutkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu memahami bahwa janji Rasulullah ﷺ kepada Jabir adalah utang yang harus dibayar dari harta kaum muslimin.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Tentang Menepati Janji dan Amanah Kepemimpinan
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang menunaikan janji-janji pendahulunya yang belum sempat ditunaikan, selama janji tersebut sesuai dengan syariat. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu ketika harta Bahrain datang, beliau tidak serta merta membagikannya, tetapi terlebih dahulu mengumumkan kepada kaum muslimin: "Siapa yang memiliki janji dari Rasulullah ﷺ, hendaknya datang kepadaku." Ini menunjukkan kejujuran dan ketelitian beliau dalam menjaga amanah.
2. Tentang Keutamaan Jabir bin Abdullah
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, karena Rasulullah ﷺ secara khusus menjanjikan harta kepadanya. Jabir adalah sahabat yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ dan banyak meriwayatkan hadits.
3. Tentang Kisah Abbas bin Abdul Muththalib
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa kisah Abbas ini menunjukkan bahwa manusia secara fitrahnya sangat mencintai harta. Abbas radhiyallahu 'anhu ketika diminta mengambil harta, beliau mengambil sebanyak yang beliau bisa bawa, bahkan berulang kali mencoba untuk membawa lebih banyak. Namun ini tidak mengurangi kedudukan beliau di sisi Nabi ﷺ, karena beliau adalah paman Rasulullah ﷺ dan salah seorang yang membela Islam.
4. Tentang Sikap Nabi ﷺ terhadap Abbas
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ yang tidak mau membantu Abbas mengangkat harta tersebut bukan berarti Nabi ﷺ pelit atau tidak menghormati pamannya. Tetapi ini adalah bentuk pendidikan dari Nabi ﷺ agar manusia tidak terlalu tamak terhadap harta dunia. Nabi ﷺ membiarkan Abbas merasakan sendiri beratnya membawa harta yang terlalu banyak, sehingga beliau sadar untuk mengurangi sendiri.
5. Tentang Harta Fa'i dan Pembagiannya
Imam Asy-Syafi'i menjelaskan bahwa harta fa'i (harta rampasan dari orang kafir tanpa peperangan) adalah milik kaum muslimin secara umum, dan pemimpin berhak membagikannya sesuai kebijaksanaan yang maslahat. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ membagikan seluruh harta Bahrain tersebut hingga tidak tersisa satu dirham pun di masjid.
Story Telling
Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran dari sikap Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Ketika beliau menjadi khalifah, beliau sangat teliti dalam mengurus harta kaum muslimin. Beliau tidak mau mengambil hak siapapun, dan tidak mau menunda hak yang harus diberikan.
Dikisahkan bahwa ketika Abu Bakar radhiyallahu 'anhu sakit menjelang wafatnya, beliau berpesan kepada Aisyah radhiyallahu 'anha: "Wahai Aisyah, sesungguhnya aku memiliki harta dari pemberian Rasulullah ﷺ yang belum aku bagikan. Setelah aku wafat, bagikanlah harta tersebut kepada ahli waris dan orang-orang yang berhak menerimanya."
Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga amanah harta, bahkan di saat-saat terakhir kehidupan mereka. Mereka takut jika ada hak orang lain yang belum ditunaikan.
Kesimpulan Praktis
Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Menepati janji adalah kewajiban seorang muslim, terlebih lagi jika janji tersebut diucapkan oleh pemimpin kepada rakyatnya.
- Seorang pemimpin hendaknya menunaikan janji pendahulunya yang belum sempat ditunaikan, selama janji tersebut sesuai syariat.
- Jangan terlalu tamak terhadap harta dunia. Kisah Abbas mengajarkan kita bahwa harta yang berlebihan justru memberatkan pemiliknya.
- Harta yang dimiliki adalah amanah dari Allah yang harus dikelola dengan baik dan dibagikan sesuai haknya.
- Kejujuran dan ketelitian dalam mengurus harta adalah sifat yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.