Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang sangat mulia: beliau tidak pelit, tidak berdusta, dan tidak pengecut. Meskipun para A'rab (orang Badui) bersikap kasar dengan menarik jubah beliau, Nabi ﷺ tetap lembut, menenangkan mereka, dan menegaskan bahwa beliau tidak menyimpan harta untuk dirinya sendiri. Hadits ini juga menjadi dalil tentang pembagian harta khums dan sikap dermawan Nabi ﷺ kepada orang-orang yang hatinya didekatkan (mu'allafatu qulubuhum).
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kewajiban Khums, Bab Apa yang Diberikan Nabi ﷺ kepada Orang-orang yang Hatinya Didekatkan dan Lainnya dari Khums dan Sebagainya, nomor 3148. Perawi sahabat: Jubair bin Mut'im radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits (potongan yang relevan):
فَوَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: أَعْطُونِي رِدَائِي، فَلَوْ كَانَ عَدَدُ هَذِهِ الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ، ثُمَّ لاَ تَجِدُونِي بَخِيلاً وَلاَ كَذُوبًا وَلاَ جَبَانًا
Terjemahan: "Maka Rasulullah ﷺ berdiri dan bersabda: 'Kembalikan jubahku. Seandainya jumlah pohon ini adalah unta, sungguh akan aku bagikan kepada kalian, kemudian kalian tidak akan mendapati aku sebagai orang yang pelit, tidak pula pendusta, dan tidak pula pengecut.'"
Ayat yang berkaitan dengan akhlak Nabi ﷺ:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
QS. Al-Qalam [68]: 4
Terjemahan: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."
Ayat tentang pembagian harta dan larangan berburuk sangka kepada Nabi ﷺ:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
QS. Ali 'Imran [3]: 144
Terjemahan: "Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
Ayat tentang khums:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ
QS. Al-Anfal [8]: 41
Terjemahan: "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnus sabil."
Penjelasan Rinci
Hadits ini terjadi setelah Perang Hunain. Dalam perjalanan kembali, orang-orang Badui (A'rab) mengepung Nabi ﷺ dan meminta bagian harta secara mendesak hingga mereka mendesak beliau ke bawah pohon Samurah dan menarik jubah beliau. Sikap mereka kasar, namun Nabi ﷺ tidak marah. Beliau justru berdiri dan menenangkan mereka dengan sabda yang penuh hikmah.
Pertama: Akhlak Nabi ﷺ yang agung.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kesabaran Nabi ﷺ, kelembutan beliau, dan betapa beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sengaja tidak menegur mereka dengan keras, melainkan menenangkan dan menjelaskan bahwa beliau tidak menyimpan harta untuk diri sendiri.
Kedua: Penafian tiga sifat tercela.
Nabi ﷺ menafikan tiga sifat: pelit (بَخِيلًا), pendusta (كَذُوبًا), dan pengecut (جَبَانًا). Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa tiga sifat ini adalah sumber segala keburukan: pelit menghalangi hak orang lain, dusta merusak kejujuran, dan pengecut menghalangi jihad dan pembelaan kebenaran. Nabi ﷺ bersih dari ketiganya.
Ketiga: Pembagian khums dan mu'allafatu qulubuhum.
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Khums, bab tentang pemberian kepada orang-orang yang hatinya didekatkan. Ini menunjukkan bahwa sebagian harta khums diberikan kepada mu'allafatu qulubuhum (orang yang hatinya perlu didekatkan kepada Islam). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memberi mereka untuk melunakkan hati mereka, meskipun mereka bersikap kasar. Ini adalah bentuk kedermawanan dan hikmah dakwah.
Keempat: Perbedaan pendapat tentang jumlah harta.
Para ulama seperti Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan hadits ini dengan berbagai jalur. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membagikan harta Hunain kepada mu'allaf, dan sebagian sahabat merasa kurang, namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa beliau tidak menyimpan untuk dirinya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat tentang khums (QS. Al-Anfal: 41) turun berkaitan dengan pembagian harta rampasan perang, dan Nabi ﷺ menerapkannya dengan adil.
Kelima: Pelajaran tentang kepemimpinan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus sabar menghadapi rakyatnya, tidak mudah marah, dan menjelaskan dengan baik. Nabi ﷺ adalah teladan dalam hal ini.
Story Telling
Jubair bin Mut'im radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa saat itu ia bersama Nabi ﷺ dan banyak orang dalam perjalanan pulang dari Hunain. Orang-orang Badui mengepung Nabi ﷺ, meminta bagian harta dengan mendesak. Mereka mendorong beliau hingga tersangkut di pohon Samurah, dan jubah beliau tertarik lepas. Nabi ﷺ tidak marah, tetapi berdiri dan bersabda dengan tenang: "Kembalikan jubahku. Seandainya aku memiliki unta sebanyak pohon ini, aku akan membagikannya kepada kalian. Kalian tidak akan mendapati aku pelit, pendusta, atau pengecut."
Imam Al-Bukhari meriwayatkan kisah ini dalam Shahih-nya. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa besar akhlak Nabi ﷺ dan betapa beliau mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.
Kesimpulan Praktis
- Teladani akhlak Nabi ﷺ: Sabar, lembut, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
- Jauhi tiga sifat tercela: Pelit, dusta, dan pengecut.
- Pahami pembagian khums: Sebagian harta diberikan kepada mu'allafatu qulubuhum untuk melunakkan hati mereka.
- Jadilah pemimpin yang adil dan penyayang: Seperti Nabi ﷺ yang tidak marah kepada rakyatnya yang kasar.
- Yakinlah bahwa rezeki dari Allah: Nabi ﷺ menegaskan bahwa jika harta sebanyak pohon pun ada, beliau akan membagikannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.