Penjelasan Hadits Bukhari No. 3124 tentang Larangan mencuri ghanimah dan syarat keikhlasan dalam jihad

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kisah seorang nabi dari Bani Israil yang berperang dan bagaimana Allah menahan matahari untuknya hingga menang. Setelah menang, api yang biasanya turun untuk memakan (menghalalkan) ghanimah tidak mau memakannya karena ada pengkhianatan (ghulul) di antara pasukan. Pelajaran utamanya adalah: (1) ghanimah (harta rampasan perang) dihalalkan khusus untuk umat Nabi Muhammad ﷺ karena kelemahan kita, (2) ghulul (mencuri sebagian harta rampasan sebelum dibagi) adalah dosa besar yang menghalangi keberkahan, dan (3) pentingnya kesiapan jiwa dan tidak tersibukkan dengan urusan dunia saat berjuang di jalan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Shahih Al-Bukhari, Kitab Kewajiban Khumus, Bab Pernyataan Nabi ﷺ: "Dihalalkan bagi kalian Ghanimah", no. 3124
  • Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Jihad, no. 1747

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Al-Anfal [8]: 69

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu peroleh itu sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

QS. Al-Anfal [8]: 1

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ ۖ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Mereka bertanya kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: 'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul.' Oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman."

Penjelasan Ulama:

  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (6/145-146, cet. Dar al-Salam) menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini. Beliau menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa ghanimah dihalalkan khusus untuk umat Nabi Muhammad ﷺ, dan bahwa umat-umat sebelumnya tidak dihalalkan mengambil ghanimah, melainkan harus dibakar oleh api dari langit sebagai tanda diterimanya kurban/persembahan mereka.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (12/60-61) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Muhammad ﷺ karena Allah menghalalkan bagi mereka apa yang tidak dihalalkan bagi umat sebelumnya. Beliau juga menjelaskan bahwa "api yang datang" adalah mukjizat dari Allah untuk menunjukkan diterima atau tidaknya ghanimah tersebut.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (3/122) menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan betapa besarnya dosa ghulul, sampai-sampai api yang diperintahkan Allah tidak mau memakan ghanimah tersebut karena adanya pengkhianatan.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits

Hadits ini berisi kisah seorang nabi dari kalangan Bani Israil yang hendak berperang di jalan Allah. Sebelum berangkat, ia memberikan syarat yang tegas kepada pasukannya:

  1. Tidak boleh ikut orang yang baru menikah dan ingin segera membina rumah tangga dengan istrinya (belum bercampur).
  2. Tidak boleh ikut orang yang telah membangun rumah namun belum menyempurnakan atapnya.
  3. Tidak boleh ikut orang yang membeli kambing atau unta betina yang sedang hamil dan menunggu kelahirannya.

Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini menunjukkan pentingnya kesungguhan dan fokus penuh dalam berjihad. Nabi tersebut ingin memastikan bahwa setiap prajuritnya benar-benar siap berperang, tidak ada yang hatinya masih terikat pada urusan dunia yang belum selesai. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya keikhlasan dan kesiapan total dalam beramal.

Mukjizat Tertahannya Matahari

Ketika pasukan tiba di dekat kota musuh pada waktu Ashar, nabi tersebut khawatir matahari akan terbenam sebelum kemenangan diraih, karena jika malam tiba, pertempuran akan terhenti. Maka ia berdoa kepada Allah agar matahari ditahan. Allah mengabulkan doanya dan matahari pun tertahan hingga ia memperoleh kemenangan.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat yang Allah berikan kepada nabi tersebut sebagai bentuk pertolongan-Nya. Ini menunjukkan bahwa Allah senantiasa menolong hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya dengan ikhlas.

Kisah Api dan Ghulul

Setelah memperoleh kemenangan dan mengumpulkan ghanimah, datanglah api (sebagaimana kebiasaan umat-umat terdahulu) untuk memakan ghanimah tersebut sebagai tanda diterimanya persembahan mereka. Namun api tersebut tidak mau memakannya. Nabi itu pun mengetahui bahwa ada ghulul (pengkhianatan dengan menyembunyikan sebagian harta rampasan) di antara pasukannya.

Kemudian nabi tersebut meminta setiap kabilah untuk berbai'at (berjabat tangan) dengannya. Tangan salah seorang lelaki "lengket" tidak mau lepas dari tangannya, menandakan bahwa kabilahnya telah melakukan ghulul. Ketika kabilah itu diminta berbai'at, tangan dua atau tiga orang ikut lengket, dan akhirnya mereka mengakui telah menyembunyikan emas sebesar kepala sapi. Setelah emas itu diserahkan, api pun datang dan memakannya.

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "lengketnya tangan" ini adalah mukjizat dari Allah untuk membongkar kebohongan. Ini menunjukkan bahwa ghulul adalah dosa yang sangat serius, karena ia menghalangi keberkahan dan menyebabkan amal pasukan secara keseluruhan tidak diterima.

Dihalalkannya Ghanimah untuk Umat Ini

Di akhir hadits, Nabi ﷺ bersabda: "Kemudian Allah menghalalkan ghanimah bagi kami. Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kami, maka Dia menghalalkannya bagi kami."

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah kekhususan bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Umat-umat sebelumnya tidak dihalalkan mengambil ghanimah; mereka harus membakarnya sebagai bentuk pembersihan dan pengorbanan. Namun karena umat ini adalah umat yang lemah dan tidak mampu jika harus membakar harta yang banyak, Allah dengan rahmat-Nya menghalalkan ghanimah bagi mereka.

Syaikh al-Utsaimin menambahkan bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah mengetahui bahwa umat ini akan banyak berperang dan membutuhkan harta untuk menopang dakwah dan jihad mereka, maka Allah menghalalkannya.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak ada seorang nabi pun yang diutus oleh Allah kecuali dia adalah penggembala." Para sahabat bertanya: "Engkau juga, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya, aku dahulu menggembalakan kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath." (HR. Al-Bukhari, no. 2262)

Kisah ini mengingatkan kita bahwa para nabi dan rasul tidak pernah merasa berat untuk melakukan pekerjaan sederhana. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan tidak tersibukkan oleh urusan dunia yang berlebihan. Dalam hadits yang kita bahas, nabi tersebut melarang pasukannya yang masih "sibuk" dengan urusan dunia yang belum selesai untuk ikut berperang, karena kesungguhan dan fokus adalah kunci keberhasilan.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Sesungguhnya Allah tidak akan menolong suatu kaum yang hati mereka terpecah oleh urusan dunia." Maka hendaknya kita meneladani kesungguhan para nabi dalam beramal dan berjuang, serta menjauhkan diri dari sifat ghulul yang menghancurkan keberkahan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguh dan fokuslah dalam setiap amal. Jangan biarkan urusan dunia yang belum selesai menghalangi kesungguhan kita dalam beribadah dan berjuang di jalan Allah.
  2. Jauhi sifat khianat (ghulul) dalam segala bentuknya. Baik dalam harta rampasan perang, harta baitul mal, harta negara, maupun harta orang lain yang dipercayakan kepada kita. Ghulul menghancurkan keberkahan dan menyebabkan amal tidak diterima.
  3. Bersyukurlah atas kemudahan syariat Islam. Allah menghalalkan ghanimah bagi umat ini sebagai rahmat dan kasih sayang-Nya. Ini menunjukkan betapa Allah sangat memperhatikan kemaslahatan hamba-hamba-Nya.
  4. Yakinlah bahwa Allah menolong hamba-Nya yang berjuang dengan ikhlas. Sebagaimana Allah menahan matahari untuk nabi tersebut, Allah akan memberikan pertolongan-Nya dengan cara yang tidak disangka-sangka.
  5. Jadikan kisah para nabi sebagai pelajaran. Kisah-kisah dalam Al-Qur'an dan hadits bukan sekadar cerita, tetapi sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga untuk kehidupan kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?