Penjelasan Hadits Bukhari No. 3108 tentang Peninggalan pakaian Nabi saat wafat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah menunjukkan kepada para sahabat dua potong pakaian beliau ﷺ yang beliau kenakan saat wafat: sebuah kain penutup pinggang (izar) yang tebal buatan Yaman, dan sebuah pakaian wol yang ditambal (mulabbad). Ini menunjukkan kesederhanaan (zuhud) Nabi ﷺ, sekaligus kebolehan menyimpan dan menampilkan peninggalan orang saleh untuk mengambil pelajaran dan keberkahan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kewajiban Khumus, dari Abu Burdah (putra Abu Musa Al-Asy'ari) radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، قَالَ أَخْرَجَتْ إِلَيْنَا عَائِشَةُ ـ رضى الله عنها ـ كِسَاءً مُلَبَّدًا وَقَالَتْ فِي هَذَا نُزِعَ رُوحُ النَّبِيِّ ﷺ

Terjemahan: "Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Humaid bin Hilal, dari Abu Burdah, ia berkata: 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengeluarkan kepada kami sebuah pakaian wol yang ditambal, dan ia berkata: Pada (pakaian) ini ruh Nabi ﷺ dicabut.'"

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan zuhud dan kesederhanaan Nabi ﷺ, di antaranya firman Allah:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

QS. Thaha [20]: 131

Terjemahan: "Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami menguji mereka dengan (kenikmatan) itu. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penghiburan bagi Nabi ﷺ agar tidak tertarik pada kemewahan dunia, karena yang di sisi Allah lebih baik dan kekal. Ini sejalan dengan keadaan beliau ﷺ saat wafat, sebagaimana ditunjukkan 'Aisyah dalam hadits ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Kesederhanaan Nabi ﷺ hingga akhir hayat.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia di sisi Allah, namun beliau memilih hidup sederhana (zuhud) dan tidak tertarik pada kemewahan dunia. Beliau wafat dalam keadaan mengenakan pakaian yang sudah ditambal dan kain penutup pinggang yang kasar. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan harta atau pakaian mewah.

Kedua: Bolehnya menyimpan peninggalan orang saleh (tabarruk).

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbuatan 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengeluarkan pakaian Nabi ﷺ kepada para sahabat menunjukkan kebolehan menyimpan dan menampilkan peninggalan beliau untuk mengambil pelajaran dan keberkahan. Para sahabat sendiri, sebagaimana disebutkan dalam judul bab, mengambil keberkahan dari rambut, sandal, dan peralatan beliau ﷺ setelah wafatnya.

Ketiga: Keutamaan 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

'Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ di akhir hayatnya, sehingga ia menyaksikan langsung keadaan beliau saat wafat. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dalam Siyar A'lam An-Nubala menyebutkan bahwa 'Aisyah adalah salah satu wanita paling faqih dan paling banyak meriwayatkan hadits, dan kesaksiannya tentang keadaan Nabi ﷺ saat wafat merupakan bukti kedekatannya.

Keempat: Makna "mulabbad".

Kata "mulabbad" (مُلَبَّد) berarti pakaian yang ditambal atau yang kainnya menempel karena sudah lama dipakai. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan pakaian tersebut sudah sangat usang, namun tetap beliau kenakan. Ini menegaskan betapa zuhudnya Nabi ﷺ.

Kelima: Kain buatan Yaman.

Dalam riwayat tambahan, 'Aisyah menyebutkan izar (kain penutup pinggang) yang tebal buatan Yaman. Ini menunjukkan bahwa pakaian tersebut bukanlah pakaian mewah, melainkan pakaian sederhana yang biasa dipakai orang-orang pada masa itu.

Para ulama dalam daftar rujukan sepakat bahwa hadits ini adalah dalil tentang keutamaan zuhud, kesederhanaan, dan kebolehan mengambil pelajaran dari peninggalan orang saleh. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan dalam hal ini.

Story Telling

Dikisahkan bahwa setelah Nabi ﷺ wafat, para sahabat sering datang kepada Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha untuk bertanya tentang keadaan beliau ﷺ. Pada suatu hari, Abu Burdah (putra Abu Musa Al-Asy'ari) datang bersama beberapa orang. 'Aisyah kemudian mengeluarkan sebuah pakaian wol yang sudah ditambal dan sehelai kain penutup pinggang yang tebal buatan Yaman. Ia berkata dengan mata yang berkaca-kaca, "Pada pakaian inilah ruh Nabi ﷺ dicabut."

Para sahabat yang melihatnya pun terdiam. Mereka menyadari bahwa manusia paling mulia di sisi Allah, yang telah membawa risalah terbesar dalam sejarah, ternyata wafat dalam keadaan mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada harta yang menumpuk. Yang ada hanyalah kesederhanaan dan ketawakalan kepada Allah.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya bahwa kemuliaan sejati bukanlah pada pakaian atau harta, melainkan pada ketakwaan dan kedekatan dengan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Hendaklah kita meneladani zuhud Nabi ﷺ — tidak berlebihan dalam berpakaian, makan, dan harta, karena kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan kemewahan dunia.
  2. Boleh menyimpan peninggalan orang saleh untuk mengambil pelajaran dan keberkahan, sebagaimana yang dilakukan 'Aisyah dan para sahabat.
  3. Hendaklah kita mengajarkan kesederhanaan kepada keluarga — bahwa pakaian yang sederhana dan bersih lebih baik daripada pakaian mewah yang membuat lalai dari akhirat.
  4. Ingatlah bahwa akhir hayat adalah misteri — Nabi ﷺ wafat dalam keadaan sederhana, maka hendaklah kita mempersiapkan diri dengan amal saleh, bukan dengan menumpuk harta.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?