Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pernah menunjukkan kepada orang-orang dua sandal kulit Nabi ﷺ yang sudah usang, sebagai bentuk tabarruk (mencari keberkahan) dan penjagaan terhadap peninggalan beliau. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai dalil tentang bolehnya tabarruk dengan sisa peninggalan Nabi ﷺ, serta keutamaan mengenal dan mengikuti sunnah beliau dalam hal sederhana sekalipun, seperti cara berpakaian dan bersandal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Kewajiban Khumus, Bab tentang perisai, tongkat, pedang, cawan, cincin Nabi ﷺ, serta peninggalan lain yang tidak dibagi dan rambut, sandal, wadah beliau yang diberkahi oleh para sahabat.
Teks hadits:
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَسَدِيُّ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ طَهْمَانَ، قَالَ أَخْرَجَ إِلَيْنَا أَنَسٌ نَعْلَيْنِ جَرْدَاوَيْنِ لَهُمَا قِبَالاَنِ، فَحَدَّثَنِي ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ بَعْدُ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُمَا نَعْلاَ النَّبِيِّ ﷺ
Terjemahan: "Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al-Asadi, telah menceritakan kepada kami Isa bin Tahman, ia berkata: Anas mengeluarkan kepada kami dua sandal kulit yang sudah usang tanpa bulu, keduanya memiliki dua tali kulit. Kemudian Tsabit Al-Bunani menceritakan kepadaku setelah itu dari Anas bahwa keduanya adalah sandal Nabi ﷺ."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan mengikuti Nabi ﷺ dan keberkahan peninggalan beliau:
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Terjemahan: "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah."
QS. Al-Ma'idah [5]: 35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung."
Ayat ini secara umum menunjukkan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang Dia syariatkan, termasuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan menghormati peninggalan beliau sesuai tuntunan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:
Pertama, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling lama berkhidmat kepada Nabi ﷺ. Beliau menyimpan dan menunjukkan sandal Nabi ﷺ kepada orang-orang. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga peninggalan Nabi ﷺ, bukan untuk disembah, tetapi untuk mengenang beliau dan mencari keberkahan.
Kedua, sandal tersebut digambarkan sebagai na'lain jardawain (dua sandal yang sudah usang, kulitnya terkelupas bulunya) dan memiliki qibalan (dua tali kulit). Ini menunjukkan kesederhanaan Nabi ﷺ dalam berpakaian dan bersandal. Beliau tidak memilih yang mewah, tetapi yang sederhana dan bermanfaat.
Ketiga, Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab tentang peninggalan Nabi ﷺ yang tidak dibagi, seperti perisai, tongkat, pedang, cawan, cincin, rambut, sandal, dan wadah. Ini menunjukkan bahwa peninggalan-peninggalan tersebut memiliki keistimewaan dan tidak diperlakukan seperti harta warisan biasa.
Keempat, para ulama seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya tabarruk dengan peninggalan Nabi ﷺ, sebagaimana yang dilakukan para sahabat. Namun, tabarruk ini khusus dengan peninggalan Nabi ﷺ dan tidak boleh dilakukan dengan peninggalan orang lain secara umum, karena keberkahan hakiki hanya milik Nabi ﷺ dan apa yang beliau tinggalkan.
Kelima, Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (meskipun hadits ini dari Bukhari, beliau membahas tema serupa) menegaskan bahwa para sahabat mencari keberkahan dengan peninggalan Nabi ﷺ karena keyakinan mereka terhadap keutamaan beliau, bukan karena benda itu sendiri memiliki kekuatan.
Keenam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tabarruk dengan peninggalan Nabi ﷺ adalah khusus dan tidak bisa diqiyaskan kepada peninggalan selain beliau, karena keberkahan hanya datang dari Allah dan hanya pada apa yang Dia berkahi, yaitu peninggalan Nabi ﷺ.
Ketujuh, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menegaskan bahwa tabarruk dengan peninggalan Nabi ﷺ adalah perkara yang tsabit (tetap) dari para sahabat, tetapi tidak boleh dilakukan dengan peninggalan orang saleh secara umum, karena hal itu bisa membuka pintu syirik.
Kedelapan, hadits ini juga menunjukkan adab dalam berpakaian dan bersandal. Nabi ﷺ memakai sandal yang sederhana, dan ini menjadi sunnah yang bisa kita ikuti dalam hal kesederhanaan, bukan dalam hal bentuk sandalnya secara spesifik.
Kesembilan, dari sisi ilmu hadits, hadits ini memiliki sanad yang shahih. Isa bin Tahman adalah perawi yang tsiqah (terpercaya), dan Tsabit Al-Bunani adalah tabi'in yang terkenal. Anas bin Malik adalah sahabat yang mulia. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang bersambung hingga Anas.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan Nabi ﷺ yang setia, suatu ketika mengeluarkan dua sandal kulit yang sudah usang. Sandal itu tidak lagi berbulu, hanya tersisa tali-tali kulitnya. Orang-orang yang hadir mungkin heran mengapa Anas menunjukkan sandal usang itu. Kemudian Tsabit Al-Bunani, seorang tabi'in yang mulia, menceritakan bahwa sandal itu adalah sandal Nabi ﷺ.
Anas menyimpan sandal itu bukan karena nilainya sebagai benda, tetapi karena ia adalah peninggalan orang yang paling ia cintai, Rasulullah ﷺ. Anas ingin agar orang-orang setelahnya mengenal bagaimana kesederhanaan Nabi ﷺ, dan bagaimana beliau berjalan di atas bumi ini dengan sandal yang sederhana, namun jejaknya mengubah dunia.
Hikmahnya: cinta kepada Nabi ﷺ tidak selalu diwujudkan dengan benda, tetapi dengan mengikuti sunnah beliau, termasuk dalam hal-hal kecil seperti berpakaian dan bersandal. Dan peninggalan beliau adalah kenangan yang mengingatkan kita kepada beliau, bukan untuk disembah atau dijadikan wasilah yang salah.
Kesimpulan Praktis
- Hendaknya kita mencintai Nabi ﷺ dengan mengikuti sunnah beliau, termasuk dalam hal berpakaian dan bersandal secara sederhana.
- Tabarruk dengan peninggalan Nabi ﷺ adalah khusus untuk beliau, dan tidak boleh dilakukan dengan peninggalan orang lain.
- Hendaknya kita menjaga adab terhadap peninggalan Nabi ﷺ dan para sahabat, serta tidak berlebihan dalam menghormati benda.
- Kesederhanaan adalah sunnah yang mulia, dan kita dianjurkan untuk tidak berlebihan dalam urusan dunia.
- Hendaknya kita mempelajari hadits-hadits tentang peninggalan Nabi ﷺ dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah, agar tidak salah dalam mengamalkannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.