Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah berdiri berkhutbah, lalu menunjuk ke arah rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan menyebut bahwa dari arah itu akan muncul fitnah (ujian besar) dan “tanduk setan.” Ini bukan celaan kepada ‘Aisyah, melainkan isyarat tentang arah timur dan peristiwa besar yang akan terjadi di kemudian hari, sebagaimana dijelaskan para ulama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kewajiban Khumus, Bab Apa yang Dikatakan tentang Rumah-Rumah Istri Nabi ﷺ (no. 3104), dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Teks hadits:
قَامَ النَّبِيُّ ﷺ خَطِيبًا فَأَشَارَ نَحْوَ مَسْكَنِ عَائِشَةَ فَقَالَ: «هُنَا الْفِتْنَةُ — ثَلَاثًا — مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ»
Terjemah ringkas: “Nabi ﷺ berdiri berkhutbah, lalu memberi isyarat ke arah tempat tinggal ‘Aisyah dan bersabda: ‘Di sinilah fitnah — tiga kali — dari arah munculnya tanduk setan.’”
Dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan fitnah sebagai ujian:
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 35)
Terjemah: “Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian), dan kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini, dan Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas riwayat serupa. Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya tentang “tanduk setan” sebagai kiasan dari arah timur dan sumber kekacauan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini sering disalahpahami. Sebagian orang menyangka Nabi ﷺ mencela ‘Aisyah atau rumahnya. Padahal para ulama menjelaskan bahwa maksudnya bukan celaan pribadi, melainkan isyarat arah dan peristiwa.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menunjuk ke arah rumah ‘Aisyah karena rumah itu berada di sisi timur Masjid Nabawi. Jadi yang dimaksud adalah arah timur, bukan pribadi ‘Aisyah. Ini dikuatkan oleh hadits lain yang menyebut secara tegas “arah timur” (Al-Bukhari no. 3279, Muslim no. 2905).
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menerangkan bahwa “tanduk setan” (قَرْنُ الشَّيْطَانِ) adalah kiasan tentang munculnya kekacauan, kesombongan, dan fitnah dari arah timur. Beliau menegaskan ini bukan celaan kepada penghuni rumah tersebut.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa dari arah timur banyak muncul fitnah besar dalam sejarah umat Islam, seperti munculnya berbagai kelompok yang menyimpang dan peperangan besar. Ini termasuk isyarat kenabian yang terbukti di kemudian hari.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa fitnah di sini bermakna ujian dan cobaan yang menguji keimanan, bukan sekadar kekacauan biasa. Umat diuji dengan harta, kekuasaan, dan perpecahan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan pentingnya memahami hadits ini dengan pemahaman salaf, tidak menafsirkannya sebagai celaan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang jelas kesuciannya disebut dalam Al-Qur’an (QS. An-Nur [24]: 11-20).
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar, sebagian memfokuskan pada arah timur secara geografis, sebagian pada peristiwa sejarah tertentu. Namun semuanya sepakat: bukan celaan kepada ‘Aisyah, dan ini termasuk tanda kenabian. Yang paling kuat adalah pendapat Ibnu Hajar dan an-Nawawi: isyarat arah timur dan fitnah besar yang muncul darinya.
Story Telling
‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, seorang sahabat yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits, menyampaikan peristiwa ini. Suatu hari Nabi ﷺ berdiri di mimbar, wajah beliau serius, lalu tangan beliau menunjuk ke arah timur — ke arah kamar ‘Aisyah yang berada di sisi timur masjid. Beliau mengulang tiga kali: “Di sinilah fitnah, dari arah munculnya tanduk setan.”
Para sahabat yang mendengar langsung memahami bahwa ini peringatan, bukan celaan. Bertahun-tahun kemudian, terbukti banyak fitnah besar muncul dari arah timur, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sejarah dan dijelaskan para ulama seperti Ibnu Katsir dan adz-Dzahabi. Ini menjadi bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini bukan celaan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, melainkan isyarat arah timur dan fitnah besar yang akan muncul.
- “Tanduk setan” adalah kiasan tentang kekacauan, kesombongan, dan ujian berat.
- Hendaknya kita berhati-hati terhadap fitnah, terutama fitnah harta, kekuasaan, dan perpecahan.
- Kembalilah kepada Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman salaf dalam menghadapi setiap ujian.
- Jangan menafsirkan hadits dengan hawa nafsu atau menuduh orang-orang shalih tanpa dalil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.