Penjelasan Hadits Bukhari No. 3100 tentang Kisah wafat Nabi di rumah Aisyah dan siwak terakhir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan detik-detik terakhir kehidupan Nabi ﷺ: beliau wafat di rumah Aisyah رضي الله عنها, pada hari gilirannya, dalam keadaan bersandar di dada beliau. Hadits ini juga menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap kebersihan mulut (siwak) hingga akhir hayat, dan kelembutan Aisyah yang mengunyah siwak agar lunak untuk beliau. Dari sini kita mengambil pelajaran tentang keutamaan Aisyah, adab menjaga sunnah sampai akhir, dan kasih sayang dalam rumah tangga Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ahzab [33]: 6

وَٱلنَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمْ ۗ

Terjemahan: "Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istri beliau adalah ibu-ibu mereka."

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kewajiban Khums, Bab tentang rumah-rumah istri Nabi ﷺ. Perawi sahabat: Aisyah رضي الله عنها, melalui jalur Ibnu Abu Mulaika.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ wafat di rumah Aisyah adalah salah satu keutamaan khusus beliau yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Aisyah dan menjadi dalil bahwa Nabi ﷺ wafat di rumah beliau, bukan di tempat lain.

Penjelasan Rinci

1. Wafatnya Nabi ﷺ di rumah Aisyah dan hari gilirannya

Aisyah رضي الله عنها menyebutkan tiga keutamaan sekaligus: beliau wafat di rumahnya, pada hari gilirannya, dan dalam keadaan bersandar di antara dada dan lehernya. Ini menunjukkan betapa Allah memuliakan Aisyah dengan kedudukan yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ hingga akhir hayat.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa penyebutan "hari giliranku" menunjukkan bahwa Nabi ﷺ wafat pada hari yang menjadi hak Aisyah, bukan karena kebetulan semata, tetapi sebagai bentuk keutamaan yang Allah berikan kepadanya.

2. Makna "Allah menjadikan air liurku bercampur dengan air liurnya"

Aisyah menyebutkan bahwa air liurnya bercampur dengan air liur Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan ini terjadi ketika Nabi ﷺ membaca sesuatu atau berdoa di dekat beliau, atau ketika Aisyah memberikan siwak yang telah beliau kunyah kepada Nabi ﷺ. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ini adalah salah satu keutamaan Aisyah yang tidak dimiliki istri-istri Nabi yang lain.

3. Perhatian Nabi ﷺ terhadap siwak hingga akhir hayat

Dalam hadits ini, Abdurrahman bin Abu Bakar masuk membawa siwak. Nabi ﷺ yang sudah sangat lemah tidak mampu mengunyah atau menggunakan siwak sendiri. Aisyah lalu mengambil siwak itu, mengunyahnya hingga lunak, kemudian memberikannya kepada Nabi ﷺ untuk membersihkan gigi beliau.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan sunnah siwak sangat ditekankan, bahkan di saat-saat terakhir kehidupan Nabi ﷺ. Ini juga menunjukkan kelembutan dan pelayanan Aisyah kepada Nabi ﷺ di masa-masa sulit.

4. Perbedaan pendapat ulama tentang siwak di akhir hayat

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa siwak adalah sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan ketika seseorang sedang sakit berat. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar bahwa siwak tetap disyariatkan dalam segala keadaan selama tidak membahayakan.

5. Keutamaan Aisyah رضي الله عنها

Hadits ini menjadi salah satu dalil utama tentang keutamaan Aisyah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa wafatnya Nabi ﷺ di rumah Aisyah adalah bukti kecintaan Nabi ﷺ kepada beliau dan kedudukan beliau yang tinggi. Ini juga menjawab tuduhan-tuduhan yang tidak benar terhadap Aisyah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada hari-hari terakhir Nabi ﷺ, beliau sedang sakit keras. Aisyah رضي الله عنها merawat beliau dengan penuh kasih sayang. Ketika Abdurrahman bin Abu Bakar masuk membawa siwak, Nabi ﷺ memandang siwak itu dengan pandangan yang menunjukkan keinginan, namun beliau terlalu lemah untuk mengunyahnya sendiri.

Aisyah yang memahami keinginan Nabi ﷺ segera mengambil siwak itu, mengunyahnya hingga lunak, lalu memberikannya kepada beliau. Nabi ﷺ pun membersihkan gigi beliau dengan siwak tersebut. Tidak lama setelah itu, Nabi ﷺ wafat dalam keadaan bersandar di dada Aisyah, di rumah beliau, pada hari giliran beliau.

Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa momen ini adalah salah satu momen paling mulia dalam sejarah Islam, di mana Nabi ﷺ wafat dalam keadaan mulut yang bersih karena siwak, dan di tempat yang paling beliau cintai.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga sunnah siwak — Nabi ﷺ masih menginginkan siwak bahkan di saat-saat terakhir hidupnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kebersihan mulut sebagai bagian dari ibadah.
  2. Teladani kelembutan Aisyah — Pelayanan dan kasih sayang Aisyah kepada Nabi ﷺ di masa sulit adalah contoh bagi kita dalam merawat orang tua, suami/istri, atau keluarga yang sakit.
  3. Kenali keutamaan Aisyah — Hadits ini menegaskan kedudukan Aisyah رضي الله عنها sebagai istri yang paling dekat dengan Nabi ﷺ di akhir hayat beliau.
  4. Hidup dengan sunnah sampai akhir — Nabi ﷺ tidak meninggalkan sunnah sampai akhir hayat. Kita pun hendaknya berusaha menjaga sunnah dalam setiap keadaan.
  5. Jaga adab terhadap rumah-rumah Nabi ﷺ — Sebagaimana bab dalam Shahih Al-Bukhari ini, para ulama mengingatkan pentingnya menghormati rumah-rumah istri Nabi ﷺ dan memahami kedudukan mereka sebagai ummahatul mukminin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?