Penjelasan Hadits Bukhari No. 3099 tentang Perawatan Nabi di rumah Aisyah saat sakit

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, beliau meminta izin kepada para istri beliau untuk dirawat di rumah Aisyah رضي الله عنها, dan mereka semua mengizinkan. Hadits ini menunjukkan adab musyawarah dalam keluarga, kasih sayang para istri Nabi ﷺ, serta keutamaan Aisyah رضي الله عنها. Ini juga menjadi dalil bahwa rumah-rumah istri Nabi ﷺ adalah tempat yang mulia dan dikenal, sebagaimana judul bab yang disebutkan Al-Bukhari.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Kewajiban Khumus, Bab Apa yang Dikatakan Tentang Rumah-Rumah Istri Nabi ﷺ. Sanadnya: Hibban bin Musa dan Muhammad → Abdullah (Ibnu al-Mubarak) → Ma'mar dan Yunus → Az-Zuhri → Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud → Aisyah رضي الله عنها.

Teks hadits:

<p>لَمَّا ثَقُلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ أَنْ يُمَرَّضَ فِي بَيْتِي فَأَذِنَّ لَهُ</p>

Terjemahan: "Ketika Rasulullah ﷺ semakin berat sakitnya, beliau meminta izin kepada istri-istrinya untuk dirawat di rumahku, lalu mereka mengizinkannya."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan rumah-rumah istri Nabi ﷺ:

<p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا</p>

QS. Al-Ahzab [33]: 33 — "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan rumah-rumah istri Nabi ﷺ dan kedudukan mereka sebagai ahlul bait yang disucikan Allah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan rumah-rumah tersebut adalah tempat yang dikenal dan memiliki keutamaan, serta menjadi bagian dari pembahasan khumus karena rumah-rumah itu termasuk yang dibicarakan dalam konteks harta dan warisan Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan para ulama:

Pertama: Adab musyawarah dan meminta izin dalam keluarga.

Rasulullah ﷺ meskipun sebagai pemimpin umat dan kepala keluarga, tetap meminta izin kepada para istri beliau ketika ingin dirawat di rumah Aisyah رضي الله عنها. Ini menunjukkan bahwa beliau menjunjung tinggi adab musyawarah dan tidak memaksakan kehendak, meskipun beliau memiliki kedudukan tertinggi. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa ini adalah contoh kelembutan dan akhlak mulia Nabi ﷺ dalam berinteraksi dengan keluarganya.

Kedua: Keutamaan Aisyah رضي الله عنها.

Para istri Nabi ﷺ mengizinkan beliau dirawat di rumah Aisyah, yang menunjukkan kecintaan dan penghormatan mereka kepada Aisyah, serta pengakuan akan kedudukannya. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini juga menjadi dalil keutamaan Aisyah karena Nabi ﷺ memilih rumahnya untuk tempat perawatan terakhir beliau.

Ketiga: Kemuliaan rumah-rumah istri Nabi ﷺ.

Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab tentang rumah-rumah istri Nabi ﷺ, yang menunjukkan bahwa rumah-rumah tersebut memiliki keutamaan khusus. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa rumah-rumah itu adalah bagian dari ahlul bait yang Allah muliakan dan sucikan. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa rumah-rumah istri Nabi ﷺ memiliki kehormatan yang harus dijaga, dan tidak boleh dijadikan tempat maksiat atau hal yang mengurangi kemuliaannya.

Keempat: Kasih sayang dan kerja sama para istri Nabi ﷺ.

Mereka semua sepakat mengizinkan meskipun secara fitrah seorang istri ingin merawat suaminya sendiri. Ini menunjukkan ketinggian akhlak dan keimanan mereka, serta kesadaran bahwa kepentingan Nabi ﷺ lebih utama daripada perasaan pribadi. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah contoh sikap itsar (mendahulukan orang lain) yang tinggi.

Kelima: Sakitnya Nabi ﷺ menjelang wafat.

Hadits ini menggambarkan beratnya sakit yang dialami Nabi ﷺ di akhir hayatnya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari ujian yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ untuk meninggikan derajat beliau, dan menunjukkan bahwa beliau juga manusia yang merasakan sakit.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada hari-hari terakhir hidupnya, Rasulullah ﷺ benar-benar lemah karena sakit yang berat. Beliau yang biasanya berpindah dari rumah ke rumah istri-istrinya, kini tidak mampu lagi melakukannya. Dengan penuh adab, beliau bertanya kepada para istri beliau: "Apakah kalian mengizinkan aku dirawat di rumah Aisyah?" Mereka semua, dengan hati yang lapang dan penuh cinta, menjawab: "Ya, ya Rasulullah." Sejak saat itu, beliau dirawat di rumah Aisyah رضي الله عنها hingga wafat. Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa beliau wafat di rumahnya, di kamarnya, dan di antara dada dan lehernya. Ini adalah bukti cinta dan kepercayaan Nabi ﷺ kepada Aisyah, serta bukti kemuliaan rumah yang Allah sucikan. (Kisah ini disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah رضي الله عنها).

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani adab musyawarah Nabi ﷺ — dalam keluarga, hendaknya suami-istri bermusyawarah dan saling meminta izin dalam urusan yang menyangkut keduanya.
  2. Jaga kehormatan rumah — rumah adalah tempat yang harus dijaga dari hal-hal yang mengurangi kemuliaannya, sebagaimana rumah-rumah istri Nabi ﷺ yang Allah sucikan.
  3. Teladani sikap itsar (mendahulukan orang lain) — para istri Nabi ﷺ mengalah demi kebaikan beliau, ini contoh akhlak mulia dalam keluarga.
  4. Hormati dan cintai ahlul bait — mencintai Aisyah رضي الله عنها dan istri-istri Nabi ﷺ lainnya adalah bagian dari iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
  5. Sadari bahwa Nabi ﷺ juga manusia — beliau merasakan sakit dan membutuhkan perawatan, namun tetap sabar dan tawakal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?