Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3050 tentang Bab Tebusan Orang Musyrik

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca surat At-Tur (yang panjangnya sekitar 2 halaman) dalam shalat Maghrib. Ini membantah anggapan bahwa shalat Maghrib harus selalu pendek. Yang penting adalah tidak memberatkan makmum, dan bacaan panjang seperti ini diperbolehkan jika makmum kuat dan tidak keberatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Shahih Al-Bukhari, no. 3050
  • Diriwayatkan oleh Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu

Teks Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنِي مَحْمُودٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ ـ وَكَانَ جَاءَ فِي أُسَارَى بَدْرٍ ـ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ.

Terjemahan:

"Dari Jubair bin Muth'im (yang termasuk dalam tawanan Perang Badar) ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ membaca surat At-Tur dalam shalat Maghrib."

Ayat Pendukung:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

Artinya: "Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya. Dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an."

Kaitan dengan Ulama:

Imam Al-Bukhari rahimahullah (w. 256 H) - salah satu ulama besar dalam daftar - meletakkan hadits ini dalam bab "Tebusan Orang Musyrik" karena Jubair bin Muth'im adalah tawanan Perang Badar yang kemudian masuk Islam. Ini menunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi tawanan, ia tetap memperhatikan bacaan Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Pemahaman Ulama tentang Hadits Ini:

  1. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Majmu' menjelaskan: "Hadits ini menunjukkan bahwa membaca surat At-Tur dalam shalat Maghrib adalah sunnah. At-Tur adalah surat yang panjangnya sekitar 2 halaman, dan ini membantah anggapan bahwa Maghrib harus selalu pendek."
  2. Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan: "Yang dimaksud dengan bacaan panjang dalam Maghrib adalah kadang-kadang, tidak setiap waktu. Ini menunjukkan kelapangan dalam masalah ini."
  3. Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H) dalam Al-Umm berkata: "Disunnahkan membaca surat-surat yang panjang dalam shalat Maghrib pada malam-malam tertentu, seperti malam Jum'at."
  4. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) - sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Khallal - membolehkan membaca surat panjang dalam Maghrib selama tidak memberatkan makmum.

Hikmah dari Hadits:

  • Nabi ﷺ kadang membaca panjang, kadang pendek dalam Maghrib
  • Yang menjadi patokan adalah kondisi makmum
  • Jika makmum kuat, bacaan panjang lebih utama
  • Jika ada yang lemah atau tergesa-gesa, bacaan pendek lebih baik

Pendapat Ulama Lain:

  • Imam Malik (w. 179 H) dalam Al-Muwaththa' lebih cenderung kepada bacaan pendek dalam Maghrib, namun tetap membolehkan bacaan panjang jika tidak memberatkan.
  • Imam Abu Hanifah (w. 150 H) membolehkan bacaan panjang dalam Maghrib, namun yang afdhal adalah bacaan sedang.

Story Telling

Kisah Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu:

Jubair bin Muth'im adalah salah seorang musyrik Quraisy yang ikut dalam Perang Badar. Setelah kalah, ia menjadi tawanan. Dalam kondisi sebagai tawanan, ia mendengar Nabi ﷺ membaca surat At-Tur dalam shalat Maghrib.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Ishabah meriwayatkan bahwa Jubair berkata: "Ketika aku mendengar bacaan surat At-Tur, hatiku bergetar. Aku belum pernah mendengar bacaan yang begitu indah. Sejak saat itu, Islam mulai masuk ke dalam hatiku."

Akhirnya, Jubair masuk Islam setelah Perang Khaibar (tahun 7 H). Ia menjadi sahabat yang mulia dan meriwayatkan banyak hadits.

Hikmah:

  • Suara merdu dan bacaan yang khusyuk bisa menjadi wasilah hidayah
  • Meskipun dalam kondisi tawanan, hati tetap terbuka untuk menerima kebenaran
  • Kisah ini menunjukkan bahwa dakwah bisa dilakukan melalui shalat yang khusyuk

Kesimpulan Praktis

  1. Bacaan Maghrib bisa panjang - seperti surat At-Tur, namun tidak setiap waktu
  2. Perhatikan kondisi makmum - jangan memberatkan yang lemah
  3. Sunnah membaca surat panjang pada malam-malam tertentu
  4. Yang penting adalah khusyuk dan memahami bacaan
  5. Jangan terlalu kaku dalam masalah ini - ada kelapangan

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.