Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak mengharap-harap bertemu musuh (dalam peperangan), karena itu termasuk sikap tidak tawakal dan bisa menjerumuskan pada kesombongan. Sebaliknya, kita dianjurkan selalu memohon keselamatan (‘afiyah) kepada Allah. Apabila pertemuan dengan musuh tidak terhindarkan, maka perintahkan diri untuk bersabar, yakin bahwa surga berada di bawah naungan pedang (yaitu dalam jihad fisabilillah, dengan niat ikhlas), serta membaca doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
---
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits
Hadits riwayat Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab “Lā Tamannau Liqā’ al-‘Aduww” (No. 3024), dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhuma. Lafadz yang terdapat dalam hadits ini adalah:
> لَا تَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ
“Janganlah kalian berharap bertemu musuh, dan mintalah kepada Allah keselamatan (‘afiyah). Apabila kalian bertemu mereka, bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah naungan pedang.”
(Sahih al-Bukhari, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab “Lā Tamannau Liqā’ al-‘Aduww”, no. 3024. Juga diriwayatkan Muslim, no. 1742)
Ayat Al-Qur’an yang terkait (sifat sabar dan tawakal)
Allah تعالى berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berhadapan dengan suatu pasukan (musuh), maka teguhkanlah pendirianmu dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.”
(QS. al-Anfal [8]: 45)
Dan firman-Nya:
> وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (kebutuhannya).”
(QS. ath-Thalaq [65]: 3)
Penjelasan Ulama
- Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (6/120, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah) menjelaskan: “Larangan mengharap-harap bertemu musuh karena hal itu bisa menjerumuskan pada kesombongan, mengandalkan kekuatan sendiri, dan meninggalkan doa. Sedangkan perintah memohon ‘afiyah adalah bentuk tawakal dan pengakuan bahwa kemenangan hanya dari Allah. Apabila sudah terpaksa bertemu, perintah sabar adalah untuk menjaga istiqamah di medan perang dan menghindari lari. Ungkapan ‘surga di bawah naungan pedang’ adalah motivasi bahwa jihad yang ikhlas akan mengantarkan pada syahadah dan surga.”
(Dinukil dari Fath al-Bari, bab tersebut)
- Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (13/47–48) berkata: “Makna hadits ini adalah melarang seorang muslim berangan-angan bertemu musuh karena di dalamnya terdapat bahaya (fitnah) dan tidak ada jaminan selamat. Namun diperintahkan untuk memohon ‘afiyah. Apabila sudah terjadi pertemuan, maka wajib bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah. Sabar di sini mencakup sabar dalam berperang, sabar dalam menerima luka, dan sabar dalam ketaatan kepada pemimpin.”
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhus Shalihin (3/178) menjelaskan: “Larangan ini untuk menjaga keikhlasan dan menghindari ‘ujub (bangga diri). Seorang muslim tidak boleh percaya pada kekuatan dirinya semata, melainkan bergantung pada Allah. Doa yang diajarkan Nabi – ‘Allahummunzil al-kitab…’ – adalah doa yang sangat tepat ketika berhadapan dengan musuh, karena memohon pertolongan dari Allah yang menurunkan kitab (Al-Qur’an) sebagai pedoman, dan yang mengalahkan golongan-golongan musuh.”
---
Penjelasan Rinci
Hadits ini mencakup beberapa pelajaran penting:
- Larangan tamanni (berangan-angan) bertemu musuh.
Tamanni di sini adalah keinginan hati untuk berjumpa dengan musuh dalam peperangan. Larangan ini bukan berarti tidak boleh berjihad, tetapi karena berangan-angan seperti itu bisa lahir dari rasa percaya diri berlebihan, lupa berdoa, dan tidak tawakal. Sahabat dan para ulama salaf – seperti al-Hasan al-Bashri – sangat berhati-hati dalam hal ini. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Janganlah kamu mengatakan ‘aku ingin berperang’ sebelum waktunya, karena itu bisa mengundang fitnah. Cukuplah kamu memohon keselamatan dan bersiap saat diperlukan.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, dan dinukil oleh Ibn Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam).
- Perintah memohon ‘afiyah (keselamatan).
‘Afiyah mencakup keselamatan di dunia dan akhirat, termasuk selamat dari musuh dan dari sifat-sifat tercela. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa “meminta ‘afiyah adalah doa yang paling mencakup kebaikan.” Beliau mengutip atsar dari Sa’id bin al-Musayyib yang berkata: “Seorang mukmin tidak pernah bosan memohon ‘afiyah.”
- Apabila sudah terpaksa bertemu, perintahkan sabar dan niat jihad.
Sabar dalam menghadapi musuh mencakup:
- Sabar dalam barisan, tidak lari.
- Sabar menerima luka dan kesulitan.
- Sabar dalam melaksanakan perintah komandan.
- Sabar dengan niat ikhlas untuk Allah.
- “Surga berada di bawah naungan pedang.”
Ini adalah motivasi yang sangat kuat, bahwa surga dijanjikan bagi para syuhada. Namun syaratnya adalah jihad yang ikhlas, bukan karena riya atau ingin disebut pemberani. Sebagaimana perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah: “Niat yang ikhlas dalam jihad lebih berat dari amal itu sendiri.” (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam asy-Syu’ab).
- Doa yang dibaca ketika berhadapan dengan musuh.
Doa tersebut diajarkan oleh Nabi ﷺ:
“Ya Allah, yang menurunkan kitab, yang menggerakkan awan, dan yang mengalahkan golongan-golongan (musuh), kalahkanlah mereka dan tolonglah kami atas mereka.”
Doa ini mengandung tauhid rububiyyah dan mengakui kekuasaan Allah. Al-Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma’ad (3/179) menjelaskan bahwa doa ini adalah doa yang paling sempurna ketika bertemu musuh.
---
Story Telling
Kisah Keteguhan dan Tawakal Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu ‘anhuma
Abdullah bin Abu Aufa adalah seorang sahabat yang ikut dalam banyak peperangan. Dalam suatu surat yang ditulisnya kepada ‘Umar bin ‘Ubaidillah (yang saat itu hendak berperang melawan kelompok Haruriyyah), beliau mengingatkan hadits Nabi tersebut. Beliau menekankan agar tidak mengharap-harap pertemuan dengan musuh, namun tetap bersiap dan bersabar.
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga adab dan tuntunan Nabi, tidak mengandalkan kekuatan semata, tetapi selalu memohon ‘afiyah dan pertolongan Allah. (Sumber: Shahih al-Bukhari no. 3024, lihat juga Fath al-Bari 6/120)
---
Kesimpulan Praktis
- Jangan berangan-angan untuk terlibat dalam peperangan atau konfrontasi dengan musuh, karena hal itu bisa lahir dari rasa sombong atau kurang tawakal.
- Perbanyak doa memohon ‘afiyah (keselamatan) dalam segala keadaan.
- Apabila tidak terhindarkan, hadapilah dengan sabar, niat ikhlas, dan berdoalah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Ingatlah bahwa surga berada di bawah naungan pedang hanya bagi mereka yang berjihad dengan benar dan ikhlas.
- Tetaplah mengikuti sunnah dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dalam setiap langkah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.