Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar sahabat Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu. Beliau disebut oleh Nabi ﷺ sebagai hawari (penolong setia) beliau, sebagaimana para nabi sebelumnya memiliki penolong-penolong setia. Hadits ini juga mengajarkan tentang pentingnya sikap cepat tanggap, berani, dan rela berkorban ketika diminta bantuan oleh pemimpin, serta pujian Nabi ﷺ yang menjadi kemuliaan abadi bagi Az-Zubair dan keluarganya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ، قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ يَقُولُ نَدَبَ النَّبِيُّ ﷺ النَّاسَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ، فَانْتَدَبَ الزُّبَيْرُ، ثُمَّ نَدَبَهُمْ فَانْتَدَبَ الزُّبَيْرُ، ثُمَّ نَدَبَهُمْ فَانْتَدَبَ الزُّبَيْرُ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ " إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَحَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ " . قَالَ سُفْيَانُ الْحَوَارِيُّ النَّاصِرُ
Makna: Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma berkata: "Pada hari perang Khandaq, Nabi ﷺ meminta orang-orang untuk maju (menjadi pengintai). Maka Az-Zubair maju. Beliau meminta lagi, Az-Zubair maju lagi. Beliau meminta lagi, Az-Zubair maju lagi. Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (penolong setia), dan hawari-ku adalah Az-Zubair.'" Sufyan (bin 'Uyainah) berkata: "Al-Hawari adalah penolong."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2415) dari jalur lain.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang para penolong (hawariyyun) Nabi Isa 'alaihis salam:
وَقَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ
QS. Ali 'Imran [3]: 52
Makna: "Ketika Isa merasakan keingkaran dari mereka (Bani Israil), dia berkata: 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?' Para hawariyyun (sahabat setianya) menjawab: 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.'"
Penjelasan Ulama tentang Makna Al-Hawari:
Imam Sufyan bin 'Uyainah — yang merupakan perawi hadits ini — menjelaskan bahwa al-hawari artinya an-nashir (penolong). Ini sebagaimana tercantum dalam riwayat di atas. Penjelasan ini juga dikuatkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (7/101) ketika mensyarah hadits ini, beliau menukil perkataan para ulama bahasa bahwa al-hawari adalah penolong yang mengkhususkan dirinya untuk menolong nabinya.
Penjelasan Rinci
Konteks Peristiwa:
Peristiwa ini terjadi pada Perang Khandaq (Perang Ahzab) di tahun ke-5 Hijriyah. Saat itu Madinah dikepung oleh pasukan sekutu (Quraisy, Ghathafan, dan kabilah-kabilah lain) yang jumlahnya sangat besar. Nabi ﷺ dan para sahabat menggali parit (khandaq) di sebelah utara Madinah atas usul Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu.
Di tengah situasi genting itu, Nabi ﷺ membutuhkan informasi tentang pergerakan musuh. Beliau memanggil orang-orang untuk menjadi sukarelawan pengintai — tugas yang sangat berbahaya karena harus mendekati perkemahan musuh yang besar. Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu langsung menyambut panggilan itu. Bukan sekali, melainkan tiga kali berturut-turut beliau maju tanpa ragu.
Keutamaan Az-Zubair bin Al-Awwam:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (7/101) menjelaskan bahwa pujian Nabi ﷺ ini merupakan kemuliaan yang sangat besar bagi Az-Zubair. Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (al-'asyarah al-mubasyarun bil jannah), dan termasuk salah satu dari enam anggota majelis syura yang ditunjuk oleh Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu.
Az-Zubair juga memiliki kedudukan khusus di sisi Nabi ﷺ. Beliau adalah putra dari Shafiyyah binti Abdul Muththalib (bibi Nabi ﷺ), suami dari Asma' binti Abu Bakar, dan ayah dari Abdullah bin Az-Zubair. Dalam banyak riwayat, Az-Zubair selalu hadir dalam peperangan membela Islam.
Makna "Setiap Nabi Memiliki Hawari":
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (3/446) menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah setiap nabi memiliki penolong-penolong setia yang membenarkan dakwahnya dan berdiri di sampingnya dalam menghadapi musuh-musuh Allah. Para hawariyyun Nabi Isa adalah para pengikut setianya yang beriman dan siap berkorban. Adapun hawari Nabi Muhammad ﷺ adalah Az-Zubair bin Al-Awwam.
Syaikh al-Utsaimin juga menegaskan bahwa ini bukan berarti Az-Zubair lebih utama dari Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali — karena keutamaan mereka telah ditetapkan oleh nash-nash lain yang lebih kuat. Pujian khusus ini adalah bentuk penghargaan Nabi ﷺ atas keberanian dan kesiapan Az-Zubair dalam tugas yang sangat berbahaya saat itu.
Pelajaran dari Sikap Az-Zubair:
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam (hal. 320) menjelaskan bahwa sikap Az-Zubair yang maju berulang kali menunjukkan sifat mubadarah (bersegera) dalam kebaikan dan tidak menunda-nunda ketika diminta bantuan. Ini adalah akhlak mulia yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Seorang mukmin sejati tidak menunggu dipaksa atau diminta berulang kali, tetapi bersegera ketika ada panggilan kebaikan.
Perbedaan Istilah "Hawari" dengan "Khalifah":
Perlu dipahami bahwa gelar hawari berbeda dengan gelar khalifah atau washiy (penerus). Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa kedudukan terbaik setelah Nabi ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali. Gelar hawari untuk Az-Zubair adalah pujian atas sifat keberanian dan kesetiaannya, bukan berarti beliau lebih utama dari Abu Bakar dan para khalifah lainnya. Ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (7/101).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada Perang Yarmuk di masa kekhalifahan Umar bin Khathab, Az-Zubair bin Al-Awwam — yang saat itu sudah berusia lanjut — tetap turun ke medan perang dengan semangat yang luar biasa. Beliau memakai kain merah dan berperang dengan gagah berani. Diriwayatkan bahwa beliau memiliki bekas luka di tubuhnya — ada yang mengatakan sekitar delapan puluh luka akibat tusukan tombak dan tebasan pedang — semuanya diderita dalam membela agama Allah.
Ketika putranya, Abdullah bin Az-Zubair, menasihatinya agar tidak terlalu berani sehingga membahayakan dirinya, Az-Zubair menjawab dengan semangat keimanan yang membara. Beliau tetap maju hingga akhirnya gugur sebagai syahid setelah Perang Jamal pada tahun 36 Hijriyah.
Kisah ini menunjukkan bahwa pujian Nabi ﷺ bukan sekadar kata-kata, tetapi menjadi pembakar semangat yang terus menyala sepanjang hayat Az-Zubair. Beliau membuktikan gelar hawari itu dengan pengorbanan yang tiada henti hingga akhir hayatnya.
Kesimpulan Praktis
- Bersegeralah dalam kebaikan. Ketika ada panggilan untuk membantu agama Allah, jangan menunda atau mencari alasan. Az-Zubair maju tiga kali tanpa diminta berulang kali.
- Jadilah penolong yang setia. Setiap muslim hendaknya menjadi penolong bagi saudaranya dan pembela kebenaran, sebagaimana para hawariyyun menolong nabi-nabi mereka.
- Hargai jasa para sahabat. Kita wajib mencintai semua sahabat Nabi ﷺ dan mengakui keutamaan mereka sesuai dengan yang ditetapkan syariat, tanpa berlebihan dan tanpa merendahkan.
- Keberanian harus dibangun di atas iman. Keberanian Az-Zubair bukan karena keberanian fisik semata, tetapi karena keyakinan bahwa Allah bersama hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.
- Jadikan pujian yang baik sebagai motivasi. Ketika seseorang dipuji karena kebaikannya, jadikan itu sebagai dorongan untuk istiqamah, bukan membuat sombong.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.