Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab perjalanan yang indah dari Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Intinya, ketika kita naik (ke tempat yang lebih tinggi), kita dianjurkan bertakbir (Allahu Akbar), dan ketika turun (ke tempat yang lebih rendah), kita dianjurkan bertasbih (Subhanallah). Ini adalah bentuk dzikir yang mengiringi aktivitas sehari-hari agar hati selalu terhubung dengan Allah, serta mengakui kebesaran-Nya di saat kita merasa kuat (naik) dan menyucikan-Nya dari segala kekurangan di saat kita merasa butuh (turun).
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab "Tasbih Ketika Menuruni Lembah", nomor 2993, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma.
Teks Arab Hadits:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا.
Terjemahan: "Kami dahulu apabila kami menaiki (suatu tempat yang tinggi), kami bertakbir, dan apabila kami menuruni (suatu tempat yang rendah), kami bertasbih."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa dzikir ini adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ. Hikmahnya, saat naik seseorang merasa kuat dan mampu, maka ia bertakbir mengakui bahwa Allah-lah Yang Maha Besar, bukan dirinya. Saat turun, ia bertasbih mensucikan Allah dari segala kekurangan, karena turun adalah kondisi yang lebih rendah dan butuh pertolongan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menyebutkan bahwa para ulama mengambil faedah dari hadits ini tentang disyariatkannya dzikir pada setiap perubahan kondisi, dan ini adalah bagian dari syiar dalam perjalanan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah bagian dari petunjuk Nabi ﷺ dalam safar (perjalanan). Para sahabat radhiyallahu 'anhum membiasakan diri berdzikir dalam setiap keadaan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah mahdhah (khusus), tetapi juga adab dan dzikir dalam aktivitas keseharian.
Makna "Naik" dan "Turun":
- Naik (صعود): Menaiki tempat yang tinggi, seperti bukit, gunung, atau tangga. Saat naik, seseorang berada dalam posisi yang lebih tinggi, merasa kuat dan mampu. Maka, ia diperintahkan untuk bertakbir (Allahu Akbar), sebagai pengakuan bahwa Allah-lah Yang Maha Besar, dan tidak ada kekuatan yang hakiki selain dari-Nya. Ini juga sebagai bentuk syukur atas kemudahan yang diberikan.
- Turun (نزول): Menuruni tempat yang rendah, seperti lembah. Saat turun, seseorang berada dalam posisi yang lebih rendah dan mungkin merasa lemah atau butuh. Maka, ia diperintahkan untuk bertasbih (Subhanallah), sebagai pengakuan bahwa Allah Maha Suci dari segala kekurangan dan kelemahan. Ini juga sebagai bentuk permohonan perlindungan dari bahaya yang mungkin ada di lembah.
Hikmah dari Dzikir Ini:
- Menghadirkan Allah dalam setiap langkah: Dzikir ini membuat perjalanan kita tidak pernah lepas dari mengingat Allah.
- Menjaga hati dari kesombongan: Saat berada di tempat tinggi, kita diingatkan bahwa Allah-lah yang Maha Besar, bukan kita.
- Menjaga hati dari putus asa: Saat turun atau berada di tempat rendah, kita diingatkan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Kuasa, sehingga tidak ada alasan untuk berputus asa.
- Mengikuti sunnah Nabi ﷺ: Ini adalah warisan berharga dari Rasulullah ﷺ yang dicontohkan oleh para sahabatnya.
Pandangan Ulama:
- Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan dzikir-dzikir khusus dalam perjalanan, termasuk bertakbir saat naik dan bertasbih saat turun. Ini adalah bagian dari kesempurnaan syariat yang mengatur seluruh aspek kehidupan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa dzikir ini adalah sunnah yang dianjurkan, dan tidak ada larangan untuk menggabungkan keduanya (bertakbir dan bertasbih) dalam setiap kondisi, namun yang paling utama adalah mengikuti contoh yang disebutkan dalam hadits.
Story Telling
Suatu ketika, para sahabat dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah ﷺ. Mereka melewati jalan yang menanjak dan menurun. Maka, mereka pun bertakbir saat menanjak dan bertasbih saat menurun. Ini adalah pemandangan yang biasa terjadi di tengah-tengah safar mereka.
Dari sini, kita bisa membayangkan bagaimana dzikir itu hidup di tengah-tengah mereka. Bukan hanya di masjid, tetapi di setiap tempat dan keadaan. Ini mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur seluruh gerak-gerik hamba-Nya agar selalu dalam keadaan berdzikir.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan:
- Menghidupkan sunnah dzikir dalam perjalanan: Saat kita naik (misalnya mendaki bukit, naik tangga, atau pesawat yang sedang take off), ucapkanlah "Allahu Akbar". Saat turun (menuruni lembah, tangga, atau pesawat landing), ucapkanlah "Subhanallah".
- Menjadikan dzikir sebagai kebiasaan: Jangan menganggap dzikir ini hanya untuk safar jauh, tetapi juga untuk aktivitas sehari-hari yang melibatkan naik dan turun.
- Mengambil pelajaran tauhid: Dzikir ini mengajarkan kita untuk selalu mengagungkan Allah dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan, dalam setiap kondisi.
- Meneladani para sahabat: Mereka adalah generasi terbaik yang paling semangat dalam mengamalkan sunnah Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.