Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Mekkah), ketika Nabi ﷺ memasuki Kota Mekkah dari arah atas (Kada') dengan menunggang kendaraan, ditemani oleh Usamah bin Zaid di belakang beliau, serta Bilal dan Utsman bin Thalhah. Setibanya di Masjidil Haram, beliau meminta kunci Ka'bah, lalu masuk ke dalamnya bersama mereka bertiga dan shalat di dalamnya. Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting: bolehnya naik kendaraan saat perjalanan, adab memasuki kota, dan keutamaan Bilal serta Utsman bin Thalhah yang dipercaya memegang kunci Ka'bah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, Bab "Mengendarai Keledai" (no. 2988), dari jalur Yahya bin Bukair dari Al-Laits dari Yunus dari Nafi' dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara langsung membahas peristiwa ini, namun ada ayat yang berkaitan dengan Fathu Makkah, yaitu firman Allah Ta'ala:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (pembebasan Mekkah)."
(QS. An-Nashr [110]: 1)
Ayat ini menurut para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan As-Sa'di merujuk kepada peristiwa Fathu Makkah, yang menjadi tanda dekatnya ajal Rasulullah ﷺ dan merupakan momentum masuknya manusia berbondong-bondong ke dalam agama Islam.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini:
1. Tentang Fathu Makkah dan masuknya Nabi ﷺ dari arah atas (Kada')
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memasuki Mekkah dari arah Kada' (dataran tinggi) pada tahun 8 Hijriah. Ini adalah sunnah beliau yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Masuk dari arah atas memiliki hikmah tersendiri, yaitu memudahkan pergerakan pasukan dan menunjukkan kemenangan yang nyata.
2. Tentang mengendarai kendaraan saat perjalanan
Imam An-Nawawi dan para ulama lainnya menjelaskan bahwa bolehnya menunggang kendaraan dalam perjalanan adalah perkara yang disepakati. Bahkan dalam hadits ini, Nabi ﷺ memboncengkan Usamah bin Zaid di belakang beliau. Ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dan kasih sayang beliau kepada sahabat muda.
3. Tentang keutamaan Utsman bin Thalhah dan kunci Ka'bah
Utsman bin Thalhah adalah salah seorang pemegang kunci Ka'bah dari Bani Syaibah. Pada hari Fathu Makkah, Nabi ﷺ memerintahkannya untuk membawa kunci dan membuka pintu Ka'bah. Setelah peristiwa itu, Nabi ﷺ mengembalikan kunci tersebut kepadanya sambil bersabda: "Ambillah wahai Bani Thalhah, kunci ini akan tetap berada di tangan kalian hingga hari kiamat, tidak akan diambil oleh orang yang zhalim." Ini menunjukkan penghormatan Islam terhadap amanah dan tradisi yang baik selama tidak bertentangan dengan syariat.
4. Tentang shalat di dalam Ka'bah
Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ shalat di dalam Ka'bah. Abdullah bin Umar lupa bertanya kepada Bilal berapa rakaat shalat yang dilakukan Nabi ﷺ di dalam Ka'bah. Namun dari riwayat lain (dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim), disebutkan bahwa Nabi ﷺ shalat dua rakaat di dalam Ka'bah, dengan posisi menghadap ke arah tertentu. Para ulama bersepakat bahwa shalat di dalam Ka'bah hukumnya boleh, berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ ini.
5. Tentang keutamaan Bilal bin Rabah
Bilal adalah muadzin Rasulullah ﷺ yang sangat dicintai. Kehadirannya bersama Nabi ﷺ di dalam Ka'bah menunjukkan kedekatannya dengan beliau. Ini juga menjadi dalil bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan berdasarkan keturunan atau status sosial, tetapi berdasarkan ketakwaan dan pengabdian.
Story Telling
Dikisahkan bahwa pada hari Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ memasuki Kota Mekkah dengan penuh ketawadhu'an. Kepala beliau tertunduk hingga hampir menyentuh pelana untanya, sebagai bentuk rasa syukur dan kerendahan hati di hadapan Allah. Beliau tidak sombong meskipun telah menaklukkan kota yang selama bertahun-tahun memusuhi beliau.
Setelah tiba di Masjidil Haram, beliau meminta kunci Ka'bah dari Utsman bin Thalhah. Ketika pintu dibuka, beliau masuk bersama Usamah, Bilal, dan Utsman. Di dalam Ka'bah, beliau melihat gambar-gambar yang bertentangan dengan tauhid, lalu beliau memerintahkan untuk menghapusnya. Beliau kemudian shalat di dalamnya sebagai bentuk ibadah dan penghormatan kepada Baitullah.
Setelah keluar, orang-orang berebut untuk masuk. Abdullah bin Umar adalah orang pertama yang masuk, dan ia mendapati Bilal berdiri di belakang pintu. Ia bertanya tentang tempat shalat Nabi ﷺ, dan Bilal menunjukkannya. Namun Abdullah lupa menanyakan jumlah rakaat shalat beliau. Dari riwayat lain, kita mengetahui bahwa beliau shalat dua rakaat.
Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa kemenangan terbesar bukanlah penaklukan kota, tetapi kemenangan hati untuk tunduk kepada Allah. Nabi ﷺ menunjukkan bahwa tujuan utama dari segala perjuangan adalah ibadah dan kedekatan kepada Allah, bukan kekuasaan atau kejayaan duniawi.
Kesimpulan Praktis
Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Meneladani Nabi ﷺ dalam perjalanan — menggunakan kendaraan yang halal dan nyaman, serta bersikap lembut kepada orang yang bersama kita.
- Menghormati amanah — seperti Utsman bin Thalhah yang menjaga kunci Ka'bah, kita pun harus menjaga amanah yang dipercayakan kepada kita.
- Bersikap tawadhu' saat meraih keberhasilan — Nabi ﷺ menundukkan kepala saat memasuki Mekkah, mengajarkan kita untuk tidak sombong atas pencapaian.
- Semangat untuk beribadah di tempat-tempat mulia — Nabi ﷺ shalat di dalam Ka'bah, menunjukkan keutamaan ibadah di tempat yang dimuliakan Allah.
- Menghargai orang-orang saleh di sekitar kita — seperti Bilal yang setia mendampingi Nabi ﷺ, kita pun harus menghormati orang-orang yang berjasa dalam kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.