Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa Bai'at Ridwan, yaitu bai'at (janji setia) para sahabat kepada Rasulullah ﷺ di bawah pohon pada peristiwa Hudaibiyah. Bai'at ini dilakukan di atas kematian, artinya mereka berjanji akan berperang dan tidak akan lari dari medan perang, bahkan jika harus mati. Ini menunjukkan tingginya keimanan, keteguhan, dan ketaatan para sahabat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menjadi pelajaran bagi kita tentang makna kesetiaan dan pengorbanan dalam Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Fath [48]: 18:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
"Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, dan Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat."
Hadits terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Siyar, Bab Bai'at dalam Perang agar tidak melarikan diri, no. 2960, dari sahabat Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
Peristiwa Bai'at Ridwan ini dijelaskan oleh para ulama, di antaranya:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim saat menafsirkan QS. Al-Fath ayat 18, beliau menjelaskan bahwa bai'at ini terjadi pada tahun 6 Hijriah di Hudaibiyah, dan Allah meridhai mereka serta memuji mereka dalam Al-Qur'an.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan makna bai'at "di atas kematian" yaitu mereka berjanji untuk tidak lari dari peperangan sampai mati.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menafsirkan ayat ini bahwa Allah meridhai mereka karena kejujuran dan ketulusan hati mereka dalam berbai'at.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menceritakan bahwa Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu telah berbai'at kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau pindah ke tempat teduh. Ketika orang-orang sudah mulai berkurang, Nabi ﷺ memanggilnya, "Wahai Ibnu Al-Akwa', tidakkah engkau berbai'at?" Salamah menjawab, "Aku sudah berbai'at wahai Rasulullah." Nabi ﷺ bersabda, "Dan (bai'at) lagi." Maka Salamah pun berbai'at untuk kedua kalinya.
Ketika ditanya oleh perawi (Yazid bin Abi 'Ubaid) kepada Salamah, "Untuk apa kalian berbai'at pada hari itu?" Beliau menjawab, "Kami berbai'at untuk mati."
Makna Bai'at di Atas Kematian:
Para ulama menjelaskan bahwa bai'at ini adalah janji untuk bersabar dan teguh dalam berperang, tidak lari dari medan perang, bahkan jika harus menghadapi kematian. Ini adalah bentuk kesiapan total untuk berkorban di jalan Allah.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bai'at ini terjadi ketika berita sampai bahwa Utsman bin Affan (yang diutus Rasulullah ﷺ ke Mekkah) telah terbunuh. Maka Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat untuk berbai'at untuk membalas atau tidak lari dari musuh. Beliau bersabda, "Kami berbai'at di atas kematian."
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa bai'at ini menunjukkan kejujuran para sahabat dalam beriman. Mereka tidak hanya berjanji dengan lisan, tetapi siap membuktikan dengan jiwa dan harta mereka.
Hikmah Bai'at Kedua untuk Salamah:
Nabi ﷺ meminta Salamah bin Al-Akwa' untuk berbai'at lagi bukan karena bai'at pertamanya tidak sah, tetapi ini adalah bentuk perhatian khusus Nabi ﷺ kepadanya, sekaligus untuk memperkuat tekadnya. Ini juga menunjukkan bahwa bai'at bisa diulang untuk menambah keteguhan hati.
Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan keutamaan Salamah bin Al-Akwa' yang dikenal sebagai prajurit yang gagah berani dan cepat dalam berperang. Nabi ﷺ secara khusus memanggilnya untuk memperkuat bai'atnya.
Kedudukan Para Sahabat yang Berbai'at:
Allah ﷻ sendiri yang memuji mereka dalam Al-Qur'an. Imam Ibnu Katsir menukil perkataan para ulama bahwa semua sahabat yang ikut dalam Bai'at Ridwan diampuni dosanya dan dijamin masuk surga. Ini adalah keutamaan yang sangat besar yang tidak diberikan kepada selain mereka.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada peristiwa Hudaibiyah, ketika berita tentang terbunuhnya Utsman bin Affan tersebar, Rasulullah ﷺ duduk di bawah pohon dan mengajak para sahabat untuk berbai'at. Para sahabat berbondong-bondong mendatangi beliau.
Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu menceritakan, "Kami berbai'at kepada Rasulullah ﷺ di bawah pohon. Aku berbai'at, lalu aku pindah ke tempat teduh. Ketika orang-orang sudah berkurang, beliau memanggilku, 'Wahai Ibnu Al-Akwa', tidakkah engkau berbai'at?' Aku menjawab, 'Aku sudah berbai'at wahai Rasulullah.' Beliau bersabda, 'Dan (bai'at) lagi.' Maka aku pun berbai'at untuk kedua kalinya."
Kemudian ketika ditanya, "Untuk apa kalian berbai'at?" Salamah menjawab, "Kami berbai'at untuk mati."
Perhatikanlah keteguhan para sahabat ini. Mereka tidak takut mati, bahkan mereka siap mati di jalan Allah. Inilah puncak keimanan yang Allah ridhai dan puji dalam Al-Qur'an.
Hikmah: Kesetiaan dan pengorbanan para sahabat ini menjadi teladan bagi kita. Mereka tidak hanya beriman dengan lisan, tetapi siap membuktikan dengan jiwa dan raga.
Kesimpulan Praktis
- Bai'at Ridwan adalah peristiwa agung yang Allah puji langsung dalam Al-Qur'an, menunjukkan keutamaan para sahabat yang ikut di dalamnya.
- Makna bai'at di atas kematian adalah kesiapan total untuk berkorban di jalan Allah, tidak lari dari medan perang.
- Perhatian khusus Nabi ﷺ kepada Salamah menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus memperhatikan kondisi dan semangat pengikutnya.
- Kita harus meneladani keteguhan para sahabat dalam memegang janji dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesuai kemampuan kita dalam kehidupan sehari-hari.
- Bai'at yang benar adalah yang didasari keikhlasan dan kesiapan untuk menunaikan konsekuensinya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.