Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ mengirim surat dakwah kepada Kaisar Romawi (Hiraql). Dalam surat itu beliau menegaskan bahwa jika Kaisar menolak Islam, maka dosa rakyatnya yang mengikutinya juga menjadi tanggungannya, karena seorang pemimpin bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Hadits ini menunjukkan adab dakwah kepada ahli kitab dan tanggung jawab seorang pemimpin.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Jihad dan Perang, Bab Apakah Muslim Mengarahkan Ahli Kitab atau Mengajarkan Mereka Kitab, nomor 2936, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tanggung jawab pemimpin atas rakyatnya:
QS. Al-A'raf [7]: 38
وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ مِن قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا ۖ قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ
"Dan pemuka-pemuka kaumnya yang kafir berkata: 'Sungguh kami akan mengusirmu, hai Syu'aib, dari negeri kami, atau kamu harus kembali kepada agama kami.' Dia (Syu'aib) berkata: 'Apakah (kamu akan mengusir kami) meskipun kami tidak menyukainya?'"
Makna ringkas: Ayat ini menunjukkan bahwa para pemuka dan pemimpin yang kafir bertanggung jawab atas kekufuran rakyatnya, karena mereka yang menyesatkan dan menghalangi rakyat dari kebenaran.
QS. Al-Ahzab [33]: 67-68
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
"Dan mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.'"
Makna ringkas: Ayat ini menegaskan bahwa pemimpin yang menyesatkan rakyat akan menanggung azab yang berlipat, karena mereka bertanggung jawab atas kesesatan orang-orang yang mengikutinya.
Hadits terkait tentang tanggung jawab pemimpin:
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits surat kepada Kaisar ini menunjukkan kewajiban menyampaikan dakwah kepada penguasa, dan bahwa pemimpin yang menolak kebenaran menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan bagian dari kisah terkenal tentang surat Nabi ﷺ kepada Hiraql, Kaisar Romawi. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya melalui jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Makna "الإثم الأريسيين" (dosa orang-orang Arisiyyin):
Kata "الأريسيين" (al-arisiyyin) adalah bentuk jamak dari "أريس" (aris), yang menurut para ulama bahasa berarti petani atau penggarap tanah. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah rakyat jelata yang menggarap tanah dan taat kepada Kaisar. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa maknanya adalah: jika engkau menolak Islam, maka engkau menanggung dosa rakyatmu yang mengikutimu dalam kekufuran, karena merekalah yang menggarap tanah dan berkhidmat kepadamu.
Pemahaman ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran bahwa seorang pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya. Jika ia menolak kebenaran yang telah jelas, maka ia menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya dalam kesesatan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan ayat-ayat tentang pemimpin yang menyesatkan, menjelaskan bahwa pemimpin yang menghalangi rakyat dari kebenaran akan menanggung dosa mereka, karena mereka adalah penyebab kesesatan tersebut.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa dakwah kepada penguasa adalah sunnah yang dilakukan Nabi ﷺ, dan bahwa tanggung jawab pemimpin atas rakyatnya adalah prinsip yang tetap dalam syariat.
Kaitan dengan bab:
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab tentang apakah Muslim mengarahkan ahli kitab atau mengajarkan mereka kitab. Ini menunjukkan bahwa dakwah kepada ahli kitab adalah bagian dari jihad dan penyampaian risalah, dan bahwa seorang Muslim boleh menulis surat kepada ahli kitab untuk mengajak mereka kepada Islam.
Perbedaan pendapat:
Para ulama dari daftar yang disebutkan tidak berbeda pendapat tentang makna dasar hadits ini. Mereka sepakat bahwa pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya, dan bahwa dakwah kepada penguasa adalah bagian dari syariat. Yang menjadi perbedaan hanyalah dalam teknis pelaksanaan dakwah kepada penguasa, namun itu di luar cakupan hadits ini.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Nabi ﷺ pada tahun keenam Hijriyah mengirim surat kepada beberapa penguasa besar, termasuk Hiraql, Kaisar Romawi. Surat itu dibawa oleh Dihyah al-Kalbi radhiyallahu 'anhu. Dalam surat tersebut, Nabi ﷺ menulis:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى، أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، وَأَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, Rasulullah, kepada Hiraql, pembesar Romawi. Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du: Sesungguhnya aku mengajakmu dengan dakwah Islam. Masuklah Islam, niscaya engkau selamat. Masuklah Islam, niscaya Allah memberimu pahala dua kali. Jika engkau menolak, maka engkau menanggung dosa orang-orang Arisiyyin (rakyatmu)."
Ketika surat itu sampai kepada Hiraql, ia memanggil Abu Sufyan bin Harb yang saat itu masih kafir dan sedang berada di Syam untuk berdagang. Hiraql bertanya tentang Nabi ﷺ, dan Abu Sufyan menjawab dengan jujur meskipun ia saat itu masih menentang Nabi ﷺ. Hiraql kemudian mengetahui tanda-tanda kenabian pada diri Nabi ﷺ, namun ia tetap menolak masuk Islam karena khawatir kehilangan kekuasaannya. Ia berkata: "Jika apa yang engkau katakan benar, maka ia akan menguasai tempat kedua kakiku ini." Namun ia tidak masuk Islam.
Hikmah dari kisah ini: Seorang pemimpin yang mengetahui kebenaran namun menolaknya karena ambisi dunia, akan menanggung dosa rakyat yang mengikutinya. Ini adalah peringatan keras bagi para pemimpin agar tidak menghalangi rakyat dari kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Dakwah kepada penguasa adalah sunnah Nabi ﷺ — hendaknya disampaikan dengan adab, jelas, dan penuh hikmah.
- Pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya — jika ia menolak kebenaran dan rakyat mengikutinya, maka dosa mereka juga menjadi tanggungannya.
- Setiap Muslim adalah pemimpin — minimal atas dirinya sendiri dan keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban.
- Hendaknya kita berhati-hati — jangan sampai kita menjadi penghalang bagi orang lain dari kebenaran, baik sebagai pemimpin keluarga, masyarakat, maupun dalam lingkup yang lebih luas.
- Kita wajib menyampaikan kebenaran — meskipun kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya, dengan cara yang santun dan penuh hikmah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.