Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab mulia dalam membalas ucapan buruk, khususnya dari non-Muslim. Ketika orang Yahudi mendoakan kebinasaan kepada Nabi ﷺ dengan kata "as-saam" (kematian), Beliau tidak marah atau membalas dengan doa yang lebih buruk, tetapi cukup mengucapkan "wa 'alaikum" (dan semoga yang sama menimpa kalian). Ini menunjukkan keseimbangan dan keadilan dalam bersikap, serta larangan melampaui batas (ghuluw) dalam melaknat atau membalas keburukan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah SWT berfirman (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8):
لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Ayat ini menegaskan pentingnya keadilan dalam pergaulan, termasuk dalam merespons ucapan atau perlakuan orang lain.
Hadits yang dimaksud (Shahih al-Bukhari no. 2935):
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
أَنَّ الْيَهُودَ دَخَلُوا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ. فَلَعَنْتُهُمْ. فَقَالَ: مَا لَكِ؟ قُلْتُ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ: فَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ؟
“Bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, ‘As-saamu ‘alaika (semoga kematian menimpamu).’ Maka aku (Aisyah) mengutuk mereka. Nabi ﷺ bertanya, ‘Apa yang terjadi?’ Aku menjawab, ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan?’ Beliau bersabda, ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang aku balas (kepada mereka)? Aku berkata, ‘Wa ‘alaikum’ (dan semoga yang sama menimpa kalian).’”
Keterangan ulama dalam daftar:
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meletakkan hadits ini dalam bab “Doa terhadap orang musyrik dengan kekalahan dan gempa”, menunjukkan boleh mendoakan keburukan kepada musuh dengan kadar yang setimpal, bukan dengan laknat yang berlebihan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajari Aisyah untuk tidak melaknat secara berlebihan, karena yang diucapkan Yahudi hanyalah doa kematian, dan Nabi membalas dengan doa yang setara. Beliau juga mengisyaratkan bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan yang lebih besar adalah tercela (ghuluw). Lihat Fathul Bari, kitab al-Jihad, bab no. 177.
- Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (hadits no. 4068) menjelaskan bahwa kata as-saam berarti kematian. Ibnu al-Atsir dalam an-Nihayah menyebutkan bahwa as-saam adalah kebinasaan. Maka ucapan Yahudi itu adalah doa agar Nabi wafat. Lalu beliau membalas dengan wa ‘alaikum, sehingga doa itu kembali kepada mereka. Ini adalah bentuk keadilan yang diajarkan Islam.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Zaad al-Ma’ad (2/95) menegaskan bahwa perbuatan Nabi ini merupakan contoh sempurna dalam menjaga adab dan tidak melampaui batas meskipun ada provokasi.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:
- Larangan melaknat secara berlebihan – Ketika Aisyah melaknat orang Yahudi, Nabi ﷺ menegur dengan pertanyaan "Apa yang terjadi?" Bukan berarti melaknat mutlak haram, tetapi harus sesuai kadar. Melaknat yang melebihi doa mereka adalah bentuk aniaya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (dalam daftar) juga menekankan bahwa melaknat secara umum terhadap orang kafir tertentu yang belum pasti mati di atas kekafiran adalah terlarang, kecuali dengan dalil (seperti laknat kepada Abu Lahab dan Abu Jahal yang telah jelas permusuhannya)..
- Keadilan dalam membalas – Nabi ﷺ mengajarkan agar balasan setimpal dengan kejahatan, tidak lebih. Dalam QS. Asy-Syura [42]: 40 disebut, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal.” Namun yang lebih utama adalah memaafkan. Namun dalam kasus ini, karena mereka mendoakan keburukan, Nabi membalas dengan doa yang sama, bukan dengan laknat yang lebih keras.
- Adab dalam menyampaikan salam – Ucapan assalamu’alaikum adalah salam yang penuh rahmat. Sedangkan as-saamu ‘alaika adalah doa keburukan. Maka ketika seorang Muslim mendengar ucapan seperti itu, hendaknya ia membalas dengan wa ‘alaika atau wa ‘alaikum, sebagaimana dicontohkan Nabi.
Penerapan ulama dari daftar:
- Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dalam Al-Masail meriwayatkan bahwa beliau ditanya tentang membalas salam orang Yahudi yang mengatakan as-saamu ‘alaikum? Beliau menjawab: “Katakan wa ‘alaikum sebagaimana sabda Nabi.” (riwayat al-Khallal, lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam karya Ibnu Rajab).
- Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata: “Janganlah kamu melaknat orang kafir secara berlebihan, karena laknat dapat kembali kepada yang melaknat jika tidak pada tempatnya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf).
- Ath-Thabari (w. 310 H) dalam tafsirnya (walaupun tidak dalam daftar, namun rujukan utama tafsir adalah Ibn Katsir) – namun kita bisa merujuk pada Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsir QS. Al-An’am: 108 yang melarang memaki sembahan orang lain agar tidak timbul kemarahan berlebihan. Ini sejalan dengan adab dalam hadits.
Story Telling (Opsional)
Suatu ketika, sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ: ‘Assalamu’alaika, wahai Rasulullah.’ Beliau menjawab: ‘Wa ‘alaika.’ Kemudian ada yang datang dan berkata: ‘Assalamu’alaika wa rahmatullah.’ Beliau menjawab: ‘Wa ‘alaika wa rahmatullah.’ Lalu datang yang lain dan berkata: ‘Assalamu’alaika wa rahmatullahi wa barakatuh.’ Beliau menjawab: ‘Wa ‘alaika wa rahmatullahi wa barakatuh.’ Maka seorang laki-laki berkata: ‘Siapa yang memberi tambahan, maka Allah akan memberinya tambahan.’” (Shahih al-Bukhari no. 5867).
Kisah ini menunjukkan bahwa ketika orang kafir mengucapkan salam dengan kebaikan, kita balas dengan kebaikan yang setara. Namun jika mereka mengucapkan doa buruk, kita balas dengan doa buruk yang setara, bukan lebih. Inilah keadilan yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Hikmahnya: seorang Muslim tidak boleh menjadi pihak yang memulai kejahatan atau melampaui batas dalam membalas, agar tetap menjaga martabat dan akhlak mulia.
Kesimpulan Praktis
- Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan yang lebih besar. Jika ada yang mendoakan keburukan kepada kita, cukup balas dengan doa yang sama, atau lebih utama diam dan berlindung kepada Allah.
- Jangan mudah melaknat secara berlebihan, apalagi terhadap non-Muslim yang tidak memerangi kita. Bersikaplah adil dan lembut.
- Dalam pergaulan sehari-hari, biasakan menjawab salam dengan baik. Jika salam diucapkan dengan benar, balas dengan yang lebih baik. Jika ada yang mengucapkan salam yang bernada buruk, balas dengan wa ‘alaikum tanpa menambah.
- Pelajari adab-adab ini agar kita tidak terjebak dalam emosi dan tetap meneladani Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.