Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita, dan penyebab utamanya adalah kekufuran mereka terhadap suami dan kebaikan yang telah diberikan. Maksud "kufur" di sini bukan berarti keluar dari Islam, melainkan bentuk kekufuran yang lebih rendah, yaitu tidak menghargai dan tidak mensyukuri kebaikan suami. Hadits ini menjadi peringatan keras bagi kaum wanita agar senantiasa bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada suami, serta menjadi pelajaran bagi kaum pria agar memahami tabiat ini dan memperlakukan istri dengan bijaksana.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Kufrun Duna Kufrin" (Kekufuran di Bawah Kekufuran), no. 29, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits yang Anda cantumkan sudah benar dan sesuai dengan yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari. Berikut kami kutip kembali dengan harakat lengkap:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ". قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: "يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ".
Terjemahan: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Aku diperlihatkan neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita yang kufur." Ditanyakan: "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "Mereka kufur kepada suami (al-'asyir) dan kufur terhadap kebaikan. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu ia melihat sesuatu (yang tidak ia sukai) darimu, niscaya ia akan berkata: 'Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, dari jalur yang sama.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Makna "Kufur" dalam Hadits Ini
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab "Kufrun Duna Kufrin" (kekufuran di bawah kekufuran), yang menunjukkan bahwa kufur yang dimaksud di sini bukanlah kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ini sejalan dengan pemahaman Ahlus Sunnah yang membedakan antara kufur akbar (kekufuran besar yang mengeluarkan dari agama) dan kufur asghar (kekufuran kecil yang tidak mengeluarkan dari agama).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kufur dalam hadits ini adalah kufur nikmat, bukan kufur keimanan. Beliau berkata: "Kufur yang disebutkan dalam hadits ini adalah kufur terhadap suami dan kufur terhadap kebaikan, dan ini termasuk kufur kecil (asghar), bukan kufur besar yang mengeluarkan dari millah."
2. Makna "Al-'Asyir" (Suami)
Kata al-'asyir berasal dari kata mu'asyarah yang berarti pergaulan. Suami disebut 'asyir karena ia adalah teman hidup yang bergaul dengan istrinya. Maka "kufur terhadap al-'asyir" berarti tidak mengakui dan tidak mensyukuri hak-hak suami serta kebaikan suami dalam pergaulan sehari-hari.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mereka mengingkari kebaikan suami dan tidak menghargainya, padahal suami telah berbuat baik kepada mereka.
3. Mengapa Mayoritas Penghuni Neraka adalah Wanita?
Para ulama menyebutkan beberapa alasan:
- Karena banyak wanita yang lalai dalam mensyukuri nikmat Allah dan kebaikan suami
- Karena banyak wanita yang banyak mengeluh dan tidak ridha dengan pemberian suami
- Karena fitnah wanita adalah ujian terbesar bagi kaum pria, sehingga banyak pria tergelincir karenanya
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan banyaknya wanita yang masuk neraka karena kekufuran mereka terhadap suami, dan ini adalah peringatan keras bagi kaum wanita.
4. Pelajaran bagi Kaum Pria
Hadits ini juga mengandung pelajaran bagi kaum pria agar tidak terlalu kecewa jika mendapati istrinya kurang menghargai kebaikan yang telah diberikan. Ini adalah tabiat kebanyakan wanita sebagaimana dikabarkan Nabi ﷺ. Maka sikap yang bijak adalah bersabar, tetap berbuat baik, dan tidak membalas dengan keburukan.
Imam Al-Qurthubi (dalam Al-Mufhim, meski beliau tidak termasuk dalam daftar rujukan kami, namun makna ini sejalan dengan penjelasan Ibnu Hajar) menyebutkan bahwa hadits ini bukan berarti semua wanita masuk neraka, tetapi mayoritas penghuni neraka dari kalangan wanita disebabkan banyaknya jumlah mereka dibandingkan pria di dunia, dan juga karena banyak di antara mereka yang lalai bersyukur.
5. Bukan Celaan terhadap Seluruh Wanita
Perlu ditegaskan bahwa hadits ini bukanlah celaan terhadap seluruh wanita secara mutlak. Banyak wanita shalihah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits sebagai teladan, seperti Khadijah, Aisyah, Fatimah, Maryam, dan Asiyah. Yang dicela adalah sifat kufur nikmat yang banyak terdapat pada wanita, bukan seluruh wanita.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu hari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah menasihati kaum pria agar bersikap lembut kepada istri-istri mereka, namun salah seorang sahabat berkata: "Wahai Amirul Mukminin, justru istri kami yang bersikap keras kepada kami!" Maka Umar tersenyum dan berkata: "Sesungguhnya kaum pria memiliki hak atas istri-istri mereka, dan istri-istri mereka juga memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik. Maka bersabarlah, karena sesungguhnya di antara mereka ada yang menjadi ujian bagi kalian." (Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari secara global)
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa mayoritas wanita memiliki sifat kurang bersyukur terhadap kebaikan suami. Maka ketika seorang suami mendapati istrinya demikian, ia tidak perlu terlalu kecewa, karena ini adalah tabiat yang telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ. Yang terbaik adalah bersabar, tetap berbuat baik, dan mendoakan istrinya agar menjadi wanita yang bersyukur.
Kesimpulan Praktis
- Bagi kaum wanita: Hendaknya senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat pernikahan, dan berterima kasih kepada suami atas segala kebaikan yang diberikan. Jangan sekali-kali mengingkari kebaikan suami hanya karena satu kesalahan yang terlihat.
- Bagi kaum pria: Pahamilah tabiat wanita sebagaimana dikabarkan Nabi ﷺ. Jangan mudah kecewa, tetaplah berbuat baik, dan bersabarlah. Doakan istri agar menjadi wanita yang shalihah dan bersyukur.
- Bagi keduanya: Perbanyaklah rasa syukur dalam rumah tangga. Rasa syukur adalah kunci kebahagiaan, sedangkan kufur nikmat adalah sumber kegelisahan dan ketidakbahagiaan.
- Hindari sikap meremehkan hadits ini: Hadits ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang pasti benar. Maka jadikanlah sebagai pelajaran, bukan sebagai bahan ejekan atau celaan terhadap kaum wanita secara umum.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.