Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah (kemenangan) dan rezeki yang kita peroleh sangat terkait dengan keberadaan orang-orang lemah dan miskin di tengah-tengah kita. Bukan karena kekuatan atau kehebatan kita semata, melainkan karena doa dan keikhlasan mereka. Ini adalah peringatan agar kita tidak sombong dan selalu menghargai serta menyayangi saudara-saudara kita yang kurang mampu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Shahih Al-Bukhari, Kitab Jihad dan Perang, Bab Siapa yang Meminta Pertolongan kepada Orang Lemah dan Saleh dalam Perang, no. 2896. Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa'i.
Teks Hadits:
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ، عَنْ طَلْحَةَ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ رَأَى سَعْدٌ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ لَهُ فَضْلاً عَلَى مَنْ دُونَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ " هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ ".
Terjemahan:
Diriwayatkan dari Mus'ab bin Sa'd: Suatu ketika Sa'd (bin Abi Waqqas) mengira bahwa dia lebih unggul dari mereka yang berada di bawahnya. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Kalian tidak akan mendapatkan kemenangan atau rezeki kecuali melalui (berkah dan doa) orang-orang miskin di antara kalian."
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang-orang lemah dan miskin. Mereka adalah sebab turunnya rahmat dan pertolongan Allah.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan "ضُعَفَائِكُمْ" (orang-orang lemah di antara kalian) adalah orang-orang miskin, hamba sahaya, dan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan duniawi. Doa mereka lebih ikhlas dan lebih dekat kepada Allah.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar mengatakan bahwa hadits ini adalah motivasi untuk merendahkan diri dan mencintai orang-orang miskin, serta peringatan agar tidak meremehkan mereka.
Penjelasan Rinci
Hadits ini bermula dari sebuah perasaan yang wajar namun perlu diluruskan. Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat mulia yang gagah berani dan kaya raya, sempat memiliki perasaan bahwa dirinya lebih utama dari orang-orang yang lebih lemah darinya. Nabi ﷺ langsung meluruskan pemikiran ini dengan sebuah pernyataan yang sangat mendalam.
Sabda Nabi ﷺ, "Kalian tidak akan mendapatkan kemenangan atau rezeki kecuali melalui (berkah dan doa) orang-orang miskin di antara kalian," memiliki makna yang sangat besar. Mari kita bedah:
- "Tidak akan ditolong (dimenangkan)": Ini mencakup kemenangan dalam peperangan, kemenangan dalam menghadapi musuh, dan kemenangan dalam setiap urusan yang sulit. Allah menurunkan pertolongan-Nya bukan semata-mata karena kekuatan pasukan atau strategi perang, tetapi karena keberadaan hamba-hamba-Nya yang rendah hati, ikhlas, dan banyak berdoa.
- "Tidak akan diberi rezeki": Ini mencakup rezeki secara luas, baik harta, kesehatan, keamanan, maupun keberkahan dalam hidup. Rezeki yang kita nikmati setiap hari, baik yang kita usahakan maupun yang datang tanpa diduga, adalah karena doa dan keberkahan dari orang-orang lemah di sekitar kita.
- "Melalui (berkah dan doa) orang-orang miskin di antara kalian": Ini adalah inti dari hadits. Orang-orang lemah dan miskin memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah. Mengapa? Karena hati mereka lebih dekat kepada Allah, mereka tidak sombong, dan doa mereka lebih tulus karena tidak bergantung pada kekuatan duniawi. Doa mereka bagaikan "kunci" yang membuka pintu rahmat Allah.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitab Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ selalu memerintahkan untuk mencari dan menyertakan orang-orang lemah dan miskin dalam setiap urusan, terutama dalam peperangan. Beliau bersabda, "Carilah aku di antara orang-orang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong karena (keberkahan) orang-orang lemah di antara kalian." (HR. Abu Dawud, shahih).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarahnya atas hadits ini menekankan bahwa hadits ini adalah obat bagi penyakit hati seperti ujub (merasa hebat sendiri) dan sombong. Ketika seseorang merasa dirinya lebih hebat, ia harus ingat bahwa keberhasilannya mungkin justru karena doa seorang fakir yang ia remehkan.
Story Telling
Ada sebuah kisah yang masyhur dari zaman tabi'in. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya, "Wahai Abu Sa'id, mengapa doa kami seringkali tidak dikabulkan?" Beliau menjawab, "Karena hati kalian telah mati." Mereka bertanya lagi, "Apa yang mematikan hati kami?" Beliau menjawab, "Kalian mengetahui hak-hak Allah, tetapi kalian tidak menunaikannya. Kalian membaca Al-Qur'an, tetapi kalian tidak mengamalkannya. Kalian mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya. Kalian takut mati, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuknya. Kalian sibuk dengan aib orang lain, tetapi lupa dengan aib sendiri. Dan kalian mengubur orang-orang mati di antara kalian, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya."
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kunci terkabulnya doa dan turunnya rahmat adalah hati yang hidup, rendah, dan penuh rasa butuh kepada Allah. Sifat inilah yang banyak dimiliki oleh orang-orang lemah dan miskin yang ikhlas.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Meremehkan Orang Lain: Jangan pernah merasa lebih hebat dari orang lain, baik karena kekayaan, jabatan, atau ilmu. Bisa jadi orang yang kita anggap rendah lebih mulia di sisi Allah.
- Hormati dan Sayangi Orang Lemah: Berikan perhatian, bantuan, dan kasih sayang kepada fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan. Mereka adalah pintu rezeki dan pertolongan.
- Minta Doa dari Mereka: Jangan ragu untuk meminta doa dari orang-orang saleh yang sederhana. Doa mereka sangat mustajab.
- Tawadhu' (Rendah Hati): Hadits ini adalah obat untuk penyakit sombong. Ingatlah selalu bahwa keberhasilan kita adalah karena rahmat Allah, yang salah satu jalannya adalah melalui keberkahan orang-orang lemah.
- Perbanyak Doa dengan Merendahkan Diri: Jadikanlah diri kita seperti orang-orang lemah yang selalu merendah dan bersandar penuh kepada Allah dalam setiap doa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.