Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya cinta dunia (harta dan kemewahan) yang berlebihan, serta pujian bagi orang yang ikhlas berjuang di jalan Allah dengan penuh kesederhanaan dan ketundukan. Intinya, kita diajak untuk menjadikan hati hanya bergantung kepada Allah, bukan kepada harta atau kedudukan, serta meneladani semangat para mujahid yang rela hidup sederhana demi agama-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Penjagaan dalam Perang di Jalan Allah, no. 2887, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Berikut dalil-dalil yang terkait:
- Ayat Al-Qur'an (tentang bahaya cinta dunia):
- Nama surah dan nomor ayat: QS. Al-Hadid [57]: 20
- Teks Arab (potongan yang relevan):
> اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
- Terjemahan/makna ringkas: "Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan..."
- Hadits terkait (tentang zuhud dan jihad):
- Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir." (HR. Muslim no. 2956). Hadits ini menjelaskan hakikat dunia bagi seorang mukmin, yang selaras dengan semangat hadits yang sedang kita kaji.
- Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) memberikan penjelasan panjang lebar tentang hadits ini, termasuk makna lafazh "ta'isa" (celaka) dan "thuba" (kebahagiaan). Beliau menukil penjelasan dari para ulama salaf tentang bahaya cinta dunia dan keutamaan jihad.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan hadits-hadits serupa tentang celaan terhadap sikap terlalu mementingkan dunia.
Penjelasan Rinci
Para ulama, di antaranya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua gambaran besar:
- Gambaran Pertama: Celakanya Hamba Dinar dan Dirham
- Nabi ﷺ mengucapkan "ta'isa" yang berarti "semoga Allah membinasakan" atau "celakalah". Ini adalah doa kebinasaan bagi orang yang menjadi budak harta. Yang dimaksud "hamba dinar dan dirham" bukanlah sekadar orang yang memiliki uang, tetapi orang yang diperbudak oleh uang. Tandanya jelas disebutkan: "Jika diberi, ia senang; jika tidak diberi, ia tidak senang." Ini adalah ujian riil bagi setiap muslim. Hati yang sehat adalah hati yang rela dan ikhlas dengan ketentuan Allah, baik diberi maupun tidak.
- Ungkapan "Jika tertusuk duri, tidak ada yang mengeluarkannya" adalah doa agar ia tidak mendapatkan kebaikan sedikit pun, bahkan untuk hal sekecil mengeluarkan duri dari kakinya. Ini menunjukkan betapa hinanya orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada dunia.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab-kitab tafsirnya sering mengingatkan bahwa ujian terbesar manusia adalah ketika hati terikat pada selain Allah. Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.
- Gambaran Kedua: Bahagianya Hamba yang Berjuang di Jalan Allah
- Nabi ﷺ memuji seorang mujahid yang digambarkan dengan "rambutnya acak-acakan dan kakinya berdebu". Ini adalah simbol kesederhanaan dan pengorbanan. Ia tidak peduli dengan penampilan duniawinya karena fokusnya hanya pada keridaan Allah.
- Sifatnya yang paling menonjol adalah ketaatan dan kepasrahan total. "Jika ditugaskan di barisan depan, ia di barisan depan; jika ditugaskan di barisan belakang, ia di barisan belakang." Ia tidak memilih-milih tugas, tidak mencari pujian, dan tidak menuntut jabatan.
- "Jika ia meminta izin, tidak diizinkan; jika memberi syafaat, tidak diterima." Ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tidak punya kedudukan di mata manusia karena terlalu sibuk dengan urusan Tuhannya. Namun, justru di sinilah letak kemuliaannya di sisi Allah. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kehinaan di dunia karena Allah adalah kemuliaan hakiki di akhirat.
Perbedaan Pendapat: Para ulama sepakat tentang makna dasar hadits ini. Perbedaan hanya mungkin terjadi pada penerapan praktisnya, misalnya tentang hukum meminta-minta atau mencari kekayaan. Namun, semua ulama dalam daftar rujukan kita sepakat bahwa zuhud (tidak terlalu mementingkan dunia) dan ikhlas dalam beramal adalah kunci keselamatan.
Story Telling
Dikisahkan dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar tabi'in yang sangat zuhud. Suatu hari, ia melihat seorang lelaki yang sangat sedih karena kehilangan hartanya. Al-Hasan menasihatinya dengan lembut, "Wahai saudaraku, jika hartamu itu yang membuatmu dekat dengan Allah, maka sekarang ia telah pergi dan kamu menjadi jauh dari-Nya. Tetapi jika hartamu itu yang membuatmu lalai dari Allah, maka sekarang ia telah pergi dan kamu bisa kembali dekat dengan-Nya. Maka jadikanlah musibah ini sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauhkanmu."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa ujian harta adalah untuk menguji di mana hati kita bersandar. Apakah kepada harta yang fana, atau kepada Allah yang kekal?
Kesimpulan Praktis
- Periksa Hati Kita: Jadikanlah keridaan Allah sebagai satu-satunya tujuan. Jika diberi nikmat, bersyukur; jika diuji dengan kekurangan, bersabar. Jangan sampai hati kita "diperbudak" oleh harta, jabatan, atau pujian.
- Hidup Sederhana: Tidak perlu malu dengan kesederhanaan. Justru kesederhanaan yang disertai keikhlasan adalah tanda keimanan yang kuat.
- Taat dan Pasrah: Dalam setiap tugas dan peran, baik di keluarga, masyarakat, atau pekerjaan, lakukanlah dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah, tanpa banyak menuntut.
- Semangat Berjuang: Jadikanlah semangat untuk berjuang di jalan Allah dalam arti yang luas—menuntut ilmu, berdakwah, dan berbuat kebaikan—sebagai prioritas hidup kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.