Penjelasan Hadits Bukhari No. 2858 tentang Keburukan omen pada kuda, wanita, dan rumah

Penjelasan Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2858

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini bukan berarti kuda, wanita, atau rumah itu sendiri membawa kesialan. Nabi ﷺ sedang menjelaskan keyakinan orang-orang jahiliyah yang menganggap ketiga hal itu sebagai sumber kesialan, lalu beliau menetapkan bahwa kesialan hakiki hanyalah dari Allah. Para ulama seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi, dan Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa makna hadits ini harus dipahami bersama hadits lain yang menegaskan "tidak ada kesialan (thiyarah)".

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 131

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

"Dan sungguh, Kami telah menghukum (Firaun dan) pengikut-pengikutnya dengan (mendatangkan) tahun-tahun kekeringan dan kekurangan buah-buahan, agar mereka menyadari."

Ayat ini menunjukkan bahwa musibah dan kesulitan datangnya dari Allah, bukan dari benda tertentu.

Hadits terkait:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ

"Tidak ada penyakit menular (secara sendirinya), tidak ada thiyarah (kesialan), dan tidak ada hammah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab yang paling rumit dipahami, dan beliau merinci berbagai penafsiran.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa makna "kesialan" di sini adalah kesialan yang dianggap oleh orang jahiliyah, bukan kesialan yang hakiki.
  • Ibnul Qayyim dalam Miftah Dar as-Sa'adah membahas panjang lebar bahwa thiyarah adalah syirik kecil yang harus ditinggalkan.

Penjelasan Rinci

1. Konteks hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri, seorang tabi'in besar) dari Salim bin Abdullah dari ayahnya Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

2. Bagaimana para ulama memahami hadits ini

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits ini, dan beliau menguatkan bahwa maknanya adalah:

> Kesialan yang dianggap orang Arab jahiliyah memang ada pada tiga hal ini dalam keyakinan mereka, lalu Nabi ﷺ mengabarkan hal itu sebagai berita tentang keyakinan mereka — bukan menetapkannya sebagai kebenaran.

Pendapat lain yang beliau sebutkan: makna "kesialan" di sini adalah ujian dan cobaan, bukan kesialan yang hakiki. Karena kuda bisa menjadi sebab kematian di medan perang, wanita bisa menjadi sebab fitnah, dan rumah bisa menjadi sebab seseorang lalai dari ibadah.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan:

> Hadits ini tidak menafikan hadits "laa thiyarah" (tidak ada kesialan), karena makna "kesialan" di sini adalah kesialan yang diyakini orang jahiliyah, dan Nabi ﷺ mengabarkan bahwa mereka meyakini tiga hal itu sebagai sumber kesialan.

Ibnul Qayyim dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa thiyarah (menganggap sesuatu sebagai pertanda sial) adalah syirik kecil karena menggantungkan hati kepada selain Allah. Beliau berkata:

> Thiyarah adalah kesyirikan yang paling halus, karena pelakunya menggantungkan harapan dan ketakutannya kepada makhluk, bukan kepada Allah.

3. Mengapa kuda, wanita, dan rumah?

Para ulama menjelaskan hikmah penyebutan tiga hal ini:

  • Kuda: di masa jahiliyah, kuda digunakan untuk perang dan perlombaan. Jika seseorang kalah atau tertimpa musibah, mereka menyalahkan kudanya.
  • Wanita: fitnah wanita sangat besar, dan orang jahiliyah menganggap wanita tertentu membawa kesialan bagi suaminya.
  • Rumah: orang jahiliyah menganggap rumah tertentu membawa kesialan bagi penghuninya.

Ibnu Hajar menukil dari Al-Khaththabi (yang termasuk ulama yang diakui dalam daftar) bahwa makna hadits ini adalah:

> Ini adalah berita tentang keyakinan orang Arab jahiliyah, dan Nabi ﷺ menyebutkannya untuk membantah dan melarangnya.

4. Kesimpulan para ulama

Mayoritas ulama dari daftar yang disebutkan — Ibnu Hajar, An-Nawawi, Ibnul Qayyim, Ibn Katsir — sepakat bahwa:

  1. Hadits ini tidak menetapkan bahwa kuda, wanita, dan rumah membawa kesialan.
  2. Kesialan hakiki hanya dari Allah.
  3. Thiyarah (menganggap sesuatu sebagai pertanda sial) adalah syirik kecil yang harus dijauhi.
  4. Yang benar adalah bertawakal kepada Allah dan tidak menggantungkan hati kepada makhluk.

Story Telling

Kisah Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma

Abdullah bin Umar adalah sahabat yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ dan menyampaikannya dengan sangat hati-hati. Dalam riwayat ini, beliau menyebutkan bahwa beliau mendengar sendiri Nabi ﷺ bersabda demikian.

Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya menempatkan hadits ini dalam Kitab Jihad dan Perang, bab tentang kuda. Ini menunjukkan bahwa hadits ini terkait dengan konteks peperangan, di mana kuda memegang peranan penting.

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sebagian ulama salaf menolak memahami hadits ini secara literal, dan mereka berkata:

> "Ini adalah berita tentang keyakinan orang jahiliyah, bukan penetapan hukum."

Hikmah: Seorang mukmin harus membersihkan hatinya dari ketergantungan kepada selain Allah. Jika seseorang merasa sial karena melihat sesuatu, hendaklah ia mengucapkan:

اللَّهُمَّ لَا يَأْتِي بِالْحَسَنَاتِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلَّا أَنْتَ

"Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang menolak keburukan kecuali Engkau."

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan percaya thiyarah — jangan menganggap sesuatu membawa sial, karena itu syirik kecil.
  2. Bertawakallah kepada Allah — semua kebaikan dan keburukan terjadi dengan izin Allah.
  3. Pahami hadits secara utuh — jangan memotong hadits sehingga maknanya menjadi salah.
  4. Jauhi keyakinan jahiliyah — seperti menganggap kuda, wanita, atau rumah tertentu membawa kesialan.
  5. Perbanyak doa dan dzikir — untuk membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?