Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan dan keberkahan yang Allah letakkan pada kuda, khususnya di bagian ubun-ubun (dahi) kuda. Keberkahan ini mencakup kebaikan yang besar, baik di dunia maupun di akhirat, bagi orang yang memelihara dan memanfaatkannya di jalan Allah hingga hari kiamat. Ini adalah dorongan untuk menyiapkan kekuatan dan mencintai hal-hal yang bermanfaat bagi agama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap sesuai periwayatan):
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "الْبَرَكَةُ فِي نَوَاصِي الْخَيْلِ".
Makna: Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Keberkahan itu berada pada ubun-ubun kuda."
Hadits-hadits lain yang semakna:
Dalam riwayat lain dari Urwah bin Abi Al-Ja'd Al-Bariqi radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"الْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ"
"Kuda itu terikat di ubun-ubunnya kebaikan hingga hari kiamat." (HR. Al-Bukhari no. 2850 dan Muslim no. 1873)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan secara panjang lebar tentang makna keberkahan pada kuda ini. Beliau menukil penjelasan para ulama sebelumnya tentang hikmah di balik penyebutan ubun-ubun kuda secara khusus.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa kata "الْبَرَكَةُ" (keberkahan) berarti kebaikan yang tetap dan bertambah. Adapun kata "النَّوَاصِي" adalah bentuk jamak dari "النَّاصِيَةُ" yang berarti ubun-ubun atau bagian depan kepala.
Mengapa disebutkan ubun-ubun kuda secara khusus?
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa disebutkannya ubun-ubun secara khusus karena beberapa alasan:
- Tempat berkumpulnya kekuatan: Ubun-ubun adalah bagian terdepan dari kuda yang menjadi penunjuk arah. Kekuatan kuda untuk berlari, berputar, dan berhenti terkait dengan bagian ini. Ketika kuda berlari kencang, ubun-ubunnya yang pertama menghadap ke depan.
- Bentuk penghormatan: Dalam budaya Arab, menyebut ubun-ubun adalah bentuk penghormatan terhadap sesuatu yang mulia. Sebagaimana dalam doa, kita memuji Allah dengan menyebut keagungan-Nya.
- Tanda kepemimpinan: Ubun-ubun adalah bagian yang paling menonjol dan menjadi penanda identitas kuda yang baik.
Makna keberkahan pada kuda:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa keberkahan pada kuda mencakup beberapa hal:
- Keberkahan pada pemiliknya: Orang yang memelihara kuda untuk berjihad di jalan Allah akan mendapatkan pahala yang besar. Kuda tersebut menjadi sebab ia mendapatkan kebaikan dunia (seperti manfaat berkendara) dan kebaikan akhirat (pahala jihad).
- Keberkahan pada kuda itu sendiri: Kuda diciptakan Allah dengan kekuatan yang luar biasa untuk membantu manusia dalam berbagai keperluan, terutama dalam peperangan membela agama Allah.
- Keberkahan yang berkelanjutan: Dalam riwayat lain disebutkan "hingga hari kiamat", menunjukkan bahwa kebaikan dan keberkahan ini tidak akan terputus selama kuda masih ada di muka bumi.
Pandangan Imam An-Nawawi:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang keutamaan memelihara kuda yang digunakan untuk berjihad. Beliau menukil bahwa para ulama sepakat tentang disunnahkannya memelihara kuda untuk kepentingan jihad dan persiapan kekuatan umat Islam.
Pandangan Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah:
Ibnu Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan kekuatan umatnya. Beliau menyebutkan bahwa kuda adalah bagian dari kekuatan yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kesiapan militer dan pertahanan umat.
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang, yang dengan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu." (QS. Al-Anfal [8]: 60)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan segala bentuk kekuatan, baik kekuatan fisik, persenjataan, maupun kuda perang. Ini semua bertujuan untuk menjaga keamanan dan kehormatan umat Islam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada para sahabat yang sedang bersiap untuk berperang: "Sesungguhnya bumi ini tidak akan tegak kecuali dengan dua hal: pedang dan agama. Pedang tanpa agama akan membawa kerusakan, dan agama tanpa pedang akan mudah dihancurkan."
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami betul pentingnya persiapan kekuatan fisik di samping kekuatan iman. Mereka tidak hanya berdoa, tetapi juga mempersiapkan kuda-kuda terbaik mereka untuk berjihad di jalan Allah.
Ada juga kisah tentang Khalid bin Al-Walid radhiyallahu 'anhu yang sangat mencintai kuda-kudanya. Beliau merawat kuda-kudanya dengan baik, memberinya makan yang cukup, dan melatihnya dengan sungguh-sungguh. Karena kecintaannya pada kuda untuk berjihad, Allah memberikan kemenangan besar melalui pasukan berkuda yang dipimpinnya.
Kesimpulan Praktis
- Memelihara kuda untuk kepentingan jihad dan pertahanan umat adalah perbuatan yang diberkahi dan dicintai Allah serta Rasul-Nya.
- Islam sangat memperhatikan persiapan kekuatan untuk menjaga keamanan dan kehormatan umat, baik di masa lalu maupun masa kini dengan berbagai bentuk persenjataan modern.
- Keberkahan pada kuda menunjukkan bahwa Allah memberkahi hal-hal yang digunakan untuk ketaatan kepada-Nya. Maka, kita pun hendaknya menggunakan harta dan kemampuan kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi agama.
- Bagi yang tidak mampu berjihad secara fisik, kita tetap bisa mendukung dengan doa, harta, atau mempersiapkan generasi yang kuat dan cinta kepada agama.
- Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak meremehkan hal-hal kecil yang bisa menjadi sebab kebaikan yang besar di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.