Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan keutamaan besar yang Allah berikan kepada orang yang syahid di jalan-Nya. Semua penghuni Surga tidak ingin kembali ke dunia, kecuali seorang syahid yang berangan-angan kembali agar bisa mati syahid berkali-kali, karena besarnya kemuliaan yang ia saksikan. Ini menunjukkan tingginya derajat syahid dan besarnya pahala yang Allah siapkan bagi mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Harapan Mujahid untuk Kembali ke Dunia, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi.
Teks hadits:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ، إِلَّا الشَّهِيدُ، يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ، لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ»
Terjemahan:
"Tidak ada seorang pun yang masuk Surga yang ingin kembali ke dunia meskipun ia memiliki segala sesuatu di bumi, kecuali seorang syahid, ia berangan-angan untuk kembali ke dunia lalu dibunuh sepuluh kali, karena ia melihat kemuliaan (yang Allah berikan kepadanya)."
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
(QS. Ali 'Imran [3]: 169)
Terjemahan:
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."
Hadits pendukung:
Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dari Anas bin Malik, dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan makna yang sama, bahwa syahid meminta untuk dikembalikan ke dunia agar dapat berjihad dan mati syahid lagi.
Kaitan dengan ulama:
- Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (perawi hadits ini) menjelaskan bahwa keutamaan syahid ini karena mereka melihat langsung kemuliaan dan pahala yang Allah siapkan, sehingga mereka rela mengorbankan nyawa berkali-kali.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kekhususan syahid dibandingkan penghuni Surga lainnya, karena mereka merasakan langsung buah dari pengorbanan jiwa mereka.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa angan-angan syahid untuk kembali bukanlah karena ketidaksenangan terhadap Surga, melainkan karena kecintaan mereka kepada jihad dan besarnya pahala yang mereka saksikan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Penghuni Surga tidak ingin kembali ke dunia.
Ini menunjukkan bahwa kenikmatan Surga begitu sempurna, sehingga tidak ada seorang pun yang menginginkan kembali ke dunia, meskipun ia diberi seluruh isi bumi. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Kahfi [18]: 107-108 tentang kenikmatan Surga yang kekal.
Kedua: Kekhususan bagi syahid.
Syahid adalah satu-satunya golongan yang berangan-angan kembali ke dunia. Ini bukan berarti mereka tidak puas dengan Surga, tetapi karena mereka telah menyaksikan langsung besarnya pahala dan kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang berjihad di jalan-Nya. Mereka ingin merasakan lagi manisnya pengorbanan dan pahala yang berlipat ganda.
Ketiga: Makna "dibunuh sepuluh kali".
Angka sepuluh di sini menunjukkan banyaknya, bukan pembatasan jumlah. Dalam kaidah bahasa Arab, angka tertentu kadang digunakan untuk menunjukkan banyaknya sesuatu. Ini menunjukkan betapa besarnya pahala yang mereka saksikan, sehingga mereka rela mengulang pengorbanan berkali-kali.
Keempat: "Lima yara minal karamah" (karena melihat kemuliaan).
Ini adalah kunci hadits. Syahid melihat langsung kemuliaan yang Allah berikan: pahala yang besar, derajat yang tinggi, dan kedudukan mulia di sisi Allah. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa ruh syahid berada dalam kenikmatan Surga, dan mereka mengetahui pahala yang Allah siapkan bagi orang yang berjihad.
Perbedaan pendapat ulama:
Sebagian ulama seperti Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa keutamaan syahid ini karena mereka telah mencapai derajat tertinggi dalam pengorbanan, yaitu menyerahkan jiwa untuk Allah. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan jihad dan syahadah secara umum, baik syahid di medan perang maupun syahid dalam arti luas (seperti mati karena tenggelam, terbakar, atau sakit perut, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain).
Yang paling kuat:
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa keutamaan ini khusus bagi syahid di medan perang (syahid fi sabilillah), karena konteks hadits ini adalah tentang jihad dan perang. Namun, syahid dalam arti luas juga mendapatkan keutamaan besar, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih lainnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah Perang Badar, Nabi ﷺ bersabda tentang para syuhada Badar bahwa mereka hidup di sisi Allah dan diberi rezeki. Para sahabat yang mendengar ini sangat rindu untuk mendapatkan keutamaan tersebut. Abdullah bin Rawahah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia, pernah berkata dalam syairnya:
"Wahai jiwa, jika engkau tidak mati syahid, engkau tetap akan mati. Ini adalah kematian yang telah ditakdirkan, dan apa yang engkau tunggu adalah syahadah."
Ia kemudian gugur sebagai syahid dalam Perang Mu'tah. Ini menunjukkan bagaimana para sahabat memahami hadits ini dan berusaha meraih keutamaan syahid.
Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang pun yang terluka di jalan Allah - dan Allah lebih mengetahui siapa yang terluka di jalan-Nya - kecuali ia akan datang pada hari Kiamat dengan lukanya berwarna darah dan baunya seperti minyak kasturi."
Kesimpulan Praktis
- Keutamaan syahid sangat besar — melebihi keutamaan penghuni Surga lainnya, karena mereka melihat langsung kemuliaan yang Allah berikan.
- Jihad di jalan Allah adalah amal yang mulia — namun harus dilakukan dengan niat ikhlas dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.
- Rindu kepada syahadah — para salafus shalih seperti Abdullah bin Rawahah dan lainnya berdoa agar diberi syahadah, bukan karena cinta mati, tetapi karena cinta kepada kemuliaan yang Allah janjikan.
- Bersabar dalam kesulitan — jika kita belum bisa berjihad dengan jiwa, kita bisa berjihad dengan harta, ilmu, dan dakwah, serta menjaga niat yang benar.
- Mempelajari kisah para syuhada — untuk menumbuhkan semangat pengorbanan dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.