Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang para sahabat Nabi ﷺ yang terbunuh di Bi'r Ma'unah. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas berdakwah dan akhirnya mati syahid. Hadits ini mengajarkan kita tentang kemuliaan mati syahid, keikhlasan dalam berdakwah, dan bahwa Allah meridhai hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Ada juga pelajaran tentang adanya ayat Al-Qur'an yang dihapus (mansukh) bacaannya tetapi tetap menjadi pelajaran berharga bagi umat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."
(QS. Ali 'Imran [3]: 169)
Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Ali 'Imran: 169 ini berkaitan erat dengan peristiwa-peristiwa syahadah di jalan Allah, termasuk di antaranya para sahabat yang gugur di Bi'r Ma'unah. Beliau menukil penjelasan dari para ulama salaf tentang keadaan ruh para syuhada yang hidup di sisi Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Kisah Bi'r Ma'unah
Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa Bi'r Ma'unah adalah sebuah sumur di daerah antara Makkah dan Madinah. Kisahnya bermula ketika seorang pemimpin dari Bani 'Amir, yaitu Abu Bara' Amir bin Malik, datang kepada Nabi ﷺ dan meminta beliau mengirimkan utusan dakwah kepada penduduk Najd. Nabi ﷺ mengirimkan sekitar 70 orang sahabat yang hafal Al-Qur'an dan ahli ibadah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa para sahabat yang diutus ini adalah orang-orang pilihan, para qurra' (penghafal Al-Qur'an) dan ahli ibadah. Namun ketika mereka sampai di Bi'r Ma'unah, mereka dikhianati oleh 'Amir bin Thufail yang memerintahkan pasukannya untuk membunuh mereka semua. Hanya sedikit yang selamat, di antaranya Ka'ab bin Zaid dan Haram bin Milhan yang sempat menyampaikan pesan syahadahnya.
2. Doa Nabi ﷺ terhadap suku yang berkhianat
Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mendoakan keburukan (qunut) selama 30 hari terhadap suku Ri'l, Dhakwan, dan 'Ushayyah yang terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ini menunjukkan bolehnya mendoakan keburukan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dilakukan oleh para ulama dalam kondisi tertentu.
3. Ayat yang dihapus (mansukh)
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adanya ayat Al-Qur'an yang dibaca para sahabat kemudian dihapus bacaannya, namun maknanya tetap benar dan pelajarannya tetap abadi. Ayat tersebut berbunyi: "Sampaikan kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu dengan Tuhan kami, Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya."
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini termasuk jenis naskh (penghapusan) bacaan tanpa menghapus hukum atau pelajarannya. Para ulama ushul fiqih menjadikan hadits ini sebagai dalil adanya naskh tilawah (penghapusan bacaan).
4. Keutamaan mati syahid
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa para syuhada tidak mati secara hakiki, tetapi mereka hidup di sisi Allah dengan kehidupan yang khusus yang tidak kita ketahui hakikatnya. Mereka diberi rezeki, bergembira dengan karunia Allah, dan tidak merasa takut maupun bersedih.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa kehidupan para syuhada di alam barzakh adalah kehidupan yang penuh kenikmatan, mereka merasakan kelapangan dan kegembiraan yang tidak dirasakan oleh orang-orang yang mati biasa.
Story Telling
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan bahwa ketika para sahabat yang diutus ke Bi'r Ma'unah sampai di tempat tersebut, mereka dihadapkan pada pengkhianatan. Haram bin Milhan radhiyallahu 'anhu berkata kepada pembunuhnya, "Allahu Akbar, aku menang!" Orang itu heran dan bertanya, "Apa yang membuatmu menang?" Haram menjawab, "Demi Allah, aku telah mencapai syahadah di jalan Allah, dan aku telah bertemu dengan Rabbku yang meridhai aku dan aku meridhai-Nya."
Kemudian orang itu membunuhnya. Namun sebelum wafat, Haram sempat menyampaikan pesan yang kemudian menjadi ayat yang dibaca para sahabat: "Sampaikan kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu dengan Tuhan kami, Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya."
Ketika berita ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau sangat sedih dan marah atas pengkhianatan tersebut. Namun beliau juga bangga dengan keimanan dan keikhlasan para sahabatnya yang lebih memilih syahadah daripada kehidupan dunia.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa tingginya semangat para sahabat dalam berdakwah, mereka tidak takut mati karena mereka yakin akan bertemu dengan Allah dalam keadaan diridhai.
Kesimpulan Praktis
- Keikhlasan dalam berdakwah — Para sahabat di Bi'r Ma'unah pergi berdakwah dengan ikhlas tanpa mengharap balasan dunia, sehingga Allah memuliakan mereka dengan syahadah.
- Keyakinan akan kehidupan syuhada — Kita harus meyakini bahwa orang-orang yang mati syahid di jalan Allah tidak mati, tetapi hidup di sisi Allah dan diberi rezeki.
- Doa untuk kezaliman — Boleh mendoakan keburukan bagi orang-orang yang menzalimi dan memerangi Allah serta Rasul-Nya, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.
- Meneladani keridhaan para syuhada — Para syuhada ridha kepada Allah dan Allah ridha kepada mereka. Kita pun harus berusaha mencapai keridhaan Allah dalam setiap amal kita.
- Hikmah adanya ayat yang dihapus — Ini menunjukkan bahwa wahyu itu dijaga Allah, dan apa yang dihapus tetap mengandung pelajaran bagi umat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.