Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan proses pengumpulan Al-Qur'an pada masa Khalifah Abu Bakar dan Utsman bin Affan, di mana Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu kehilangan satu ayat dari Surah Al-Ahzab yang biasa beliau dengar dibaca Rasulullah ﷺ, lalu beliau menemukannya pada Khuza'imah bin Tsabit Al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Ayat tersebut adalah QS. Al-Ahzab [33]: 23, yang memuji para sahabat yang menepati janji kepada Allah. Hadits ini menunjukkan keutamaan Khuza'imah bin Tsabit, keutamaan ayat ini, serta kehati-hatian para sahabat dalam menjaga Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Ahzab [33]: 23
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu; dan mereka tidak mengubah (janjinya)."
Hadits terkait:
- Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Jihad dan Perang, Bab Firman Allah: "Di antara orang-orang beriman ada lelaki yang telah menepati janji yang mereka buat dengan Allah" (no. 2807).
- Perawi: Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu melalui putranya Kharijah bin Zaid.
- Jalur periwayatan: Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) — salah satu tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Khuza'imah bin Tsabit dan kehati-hatian sahabat dalam mengumpulkan Al-Qur'an.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa kesaksian Khuza'imah dianggap dua orang karena keputusan langsung Rasulullah ﷺ.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan para sahabat yang berjanji kepada Nabi ﷺ dalam peristiwa Perang Khandaq dan Bai'at Ridwan.
Penjelasan Rinci
Konteks hadits:
Hadits ini terjadi pada masa pengumpulan Al-Qur'an menjadi satu mushaf. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, ada dua tahap pengumpulan: pertama pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, dan kedua pada masa Utsman bin Affan. Zaid bin Tsabit adalah salah satu penulis wahyu utama yang dipercaya memimpin tim pengumpulan.
Makna "نسخت الصحف في المصاحف" (aku menyalin lembaran-lembaran ke dalam mushaf):
Menurut Az-Zuhri, ini merujuk pada proses pengumpulan ayat-ayat yang tersebar di berbagai lembaran (shuhuf) menjadi satu mushaf yang teratur. Zaid bin Tsabit sangat teliti, sehingga ketika beliau tidak menemukan satu ayat yang beliau hafal dan dengar langsung dari Rasulullah ﷺ, beliau tidak langsung menuliskannya tanpa bukti tertulis.
Keutamaan Khuza'imah bin Tsabit:
Rasulullah ﷺ menjadikan kesaksian Khuza'imah setara dengan dua orang. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah kekhususan (khasais) yang diberikan Nabi ﷺ kepada Khuza'imah karena beliau dikenal sangat jujur dan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Dalam riwayat lain, Khuza'imah adalah sahabat yang membeli sumur untuk kaum muslimin dan menyedekahkannya.
Makna ayat QS. Al-Ahzab [33]: 23:
- Mujahid bin Jabr (tabi'in, ahli tafsir) menjelaskan bahwa "menepati janji" berarti mereka yang berjanji kepada Allah untuk berjihad dan tidak mundur.
- Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menjelaskan bahwa "قَضَىٰ نَحْبَهُ" berarti yang telah gugur syahid, sedangkan "يَنتَظِرُ" berarti yang masih menunggu syahid dengan sabar.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini mencakup para sahabat yang berperang di Badar, Uhud, Khandaq, dan Bai'at Ridwan. Di antara mereka ada yang syahid seperti Hamzah bin Abdul Muththalib, Mush'ab bin Umair, dan Anas bin Nadhr radhiyallahu 'anhum.
- As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan derajat tertinggi iman, yaitu istiqamah di atas janji kepada Allah sampai akhir.
Perbedaan pendapat ulama daftar:
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama yang tercantum mengenai keutamaan ayat ini dan keutamaan Khuza'imah. Yang ada adalah perbedaan dalam hal teknis pengumpulan Al-Qur'an (apakah ayat ini ditulis berdasarkan hafalan Zaid atau berdasarkan tulisan Khuza'imah), namun semuanya sepakat bahwa Al-Qur'an terjaga keasliannya.
Story Telling
Kisah Zaid bin Tsabit dan Khuza'imah bin Tsabit
Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dipercaya dalam menulis wahyu. Beliau hafal banyak ayat Al-Qur'an dan mendengar langsung bacaan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau diperintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur'an, beliau sangat berhati-hati. Beliau tidak menulis satu ayat pun kecuali ada dua bukti: hafalan dan tulisan yang sah.
Suatu hari, beliau menyadari bahwa satu ayat dari Surah Al-Ahzab yang beliau hafal dan sering dengar Rasulullah ﷺ membacanya tidak beliau temukan dalam catatan yang ada. Beliau mencari ke berbagai sahabat, namun tidak menemukannya. Akhirnya, beliau menemukan ayat itu pada Khuza'imah bin Tsabit Al-Anshari radhiyallahu 'anhu.
Khuza'imah bukan sahabat sembarangan. Rasulullah ﷺ pernah menjadikan kesaksiannya setara dengan dua orang. Ini menunjukkan betapa tinggi kejujuran dan kepercayaan Nabi ﷺ kepadanya. Ayat yang ditemukan itu adalah:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah."
Hikmah:
- Al-Qur'an terjaga dengan cara yang sangat teliti, melibatkan banyak sahabat dan bukti tertulis.
- Kejujuran dan amanah Khuza'imah diakui langsung oleh Nabi ﷺ.
- Ayat ini menjadi bukti nyata bahwa para sahabat adalah generasi terbaik yang menepati janji kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jaga amanah dan janji — sebagaimana para sahabat menepati janji kepada Allah, kita juga harus menepati janji dalam ibadah, muamalah, dan kehidupan sehari-hari.
- Teladani kehati-hatian Zaid bin Tsabit — dalam urusan agama, khususnya Al-Qur'an dan hadits, kita harus merujuk kepada sumber yang sah dan ulama yang terpercaya.
- Hargai kejujuran — Khuza'imah bin Tsabit diangkat derajatnya karena kejujurannya. Kejujuran adalah sifat mulia yang harus kita jaga.
- Baca dan renungkan QS. Al-Ahzab [33]: 23 — ayat ini mengingatkan kita bahwa iman yang benar akan melahirkan keteguhan dalam menepati janji kepada Allah.
- Berdoa agar termasuk golongan yang menepati janji — sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, tetapkanlah kami di atas jalan yang lurus hingga kami berjumpa dengan-Mu."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.