Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 2794 tentang Keutamaan berjihad di jalan Allah melebihi dunia seisinya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa mulianya berjuang di jalan Allah, meskipun hanya sebentar. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa satu kali perjalanan di pagi hari atau sore hari dalam rangka jihad fi sabilillah nilainya lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. Ini adalah dorongan besar untuk tidak meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun di jalan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

<p>حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "الرَّوْحَةُ وَالْغَدْوَةُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا".</p>

Makna: "Satu usaha di jalan Allah di sore dan pagi hari lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (HR. Al-Bukhari, no. 2794)

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

<p>"لَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا"</p>

"Sungguh, tempat busur salah seorang dari kalian di surga itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (HR. Al-Bukhari, no. 2793)

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. At-Taubah [9]: 111

<p>إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."

Penjelasan Rinci

Makna "الرَّوْحَةُ" (Ar-Rauḥah) dan "الْغَدْوَةُ" (Al-Ghadwah):

  • Al-Ghadwah adalah perjalanan di waktu pagi, yaitu dari terbit fajar hingga waktu dhuha.
  • Ar-Rauḥah adalah perjalanan di waktu sore, yaitu dari waktu zawal (matahari tergelincir) hingga terbenam matahari.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits ini adalah berangkat untuk berjihad di jalan Allah pada dua waktu tersebut. Meskipun hanya sebentar—sekadar perjalanan pagi atau sore—nilainya sudah melebihi dunia dan seisinya.

Mengapa dunia dan seisinya tidak sebanding?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa dunia seluruhnya adalah sesuatu yang fana dan akan binasa, sedangkan amal jihad di jalan Allah akan menghasilkan pahala yang kekal di akhirat. Maka bagaimana mungkin sesuatu yang fana bisa disamakan dengan sesuatu yang kekal? Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya mengabarkan bahwa amal sekecil apa pun di jalan Allah lebih utama daripada dunia dan seluruh isinya.

Kedudukan hadits ini dalam bab jihad:

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Kitab Jihad dan Perang" pada bab tentang keberangkatan dan kembali di jalan Allah. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah perjalanan fisik untuk berjihad, bukan sekadar niat. Namun para ulama juga mengambil faedah bahwa semangat dan kecintaan kepada jihad harus tertanam dalam hati seorang mukmin.

Pandangan para ulama tentang keutamaan jihad:

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa jihad adalah sebaik-baik amalan setelah iman kepada Allah. Beliau menukil perkataan sebagian ulama salaf bahwa tidak ada amalan yang lebih utama setelah shalat wajib selain jihad di jalan Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah ketika menafsirkan ayat-ayat jihad menjelaskan bahwa Allah menjanjikan pahala yang besar bagi para mujahid, baik yang gugur (syahid) maupun yang kembali dengan selamat. Keduanya mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Perbedaan antara jihad fisik dan jihad maknawi:

Para ulama menjelaskan bahwa jihad memiliki tingkatan:

  1. Jihad melawan musuh kafir yang memerangi umat Islam.
  2. Jihad melawan setan yang selalu menggoda manusia.
  3. Jihad melawan hawa nafsu dan dorongan keburukan.
  4. Jihad dalam menuntut ilmu dan menyebarkan agama Allah.

Namun yang dimaksud dalam hadits ini secara khusus adalah jihad fisik di medan perang, karena konteks hadits dan bab yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhari.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

<p>"مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا"</p>

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa Ramadhan, maka Allah wajib memasukkannya ke surga, baik ia berjihad di jalan Allah maupun duduk di tanah kelahirannya."

Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kami tidak boleh memberi kabar gembira kepada manusia dengan ini?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya di surga ada seratus derajat yang Allah sediakan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Maka apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah Al-Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi." (HR. Al-Bukhari, no. 2790)

Kisah ini menunjukkan betapa Allah memuliakan para pejuang di jalan-Nya dengan derajat yang sangat tinggi di surga.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meremehkan amal kecil di jalan Allah — karena satu perjalanan pagi atau sore dalam jihad nilainya melebihi dunia dan seisinya.
  2. Tanamkan kecintaan kepada jihad fi sabilillah dalam hati, meskipun saat ini mungkin kita tidak sedang berperang secara fisik.
  3. Jihad yang bisa kita lakukan saat ini antara lain: menuntut ilmu syar'i, mengajarkan kebaikan, berjuang melawan hawa nafsu, dan membantu kaum muslimin yang tertindas sesuai kemampuan.
  4. Jadikan dunia sebagai ladang akhirat — jangan terlalu mencintai dunia sehingga melupakan persiapan untuk kehidupan yang kekal.
  5. Perbanyak doa memohon syahadah (mati di jalan Allah) dengan keikhlasan, karena siapa yang jujur memintanya, Allah akan mengangkatnya ke derajat para syuhada.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi