Penjelasan Hadits Bukhari No. 2782 tentang Amalan paling utama: shalat, berbakti, jihad

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa amalan paling utama adalah shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada orang tua, kemudian jihad di jalan Allah. Urutan ini menunjukkan bahwa kewajiban ibadah harian dan adab kepada orang tua lebih didahulukan sebelum jihad, karena keduanya adalah fondasi ketaatan seorang Muslim. Jihad tetap amalan besar, tetapi bukan berarti mengabaikan shalat dan bakti kepada orang tua.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Jihad dan Perang, Bab Keutamaan Jihad dan Perang, nomor 2782, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه.

Teks hadits (sesuai riwayat):

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ صَبَّاحٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ، قَالَ سَمِعْتُ الْوَلِيدَ بْنَ الْعَيْزَارِ، ذَكَرَ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ، قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ ـ رضى الله عنه ـ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ " الصَّلاَةُ عَلَى مِيقَاتِهَا ". قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ. قَالَ " ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ". قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ " الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ". فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.

Terjemahan: Abdullah bin Mas'ud berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Shalat pada waktunya.' Aku bertanya, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Berbakti kepada orang tua.' Aku bertanya, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah.' Aku pun diam, dan seandainya aku meminta tambahan, pasti beliau akan menambahkannya."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan berbakti kepada orang tua:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

QS. Al-Isra' [17]: 23 — "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu atau keduanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan jangan engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."

Dalil tentang shalat pada waktunya:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

QS. An-Nisa' [4]: 103 — "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditetapkan waktunya atas orang-orang yang beriman."

Penjelasan Rinci

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan urutan keutamaan amalan, dan urutan tersebut bukan sekadar urutan penyebutan, tetapi menunjukkan tingkatan. Shalat disebut pertama karena ia adalah hak Allah yang paling agung dan berulang setiap hari. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa penyebutan "shalat pada waktunya" mencakup menunaikan shalat di awal waktu, menjaga syarat dan rukunnya, serta tidak menundanya tanpa uzur.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa shalat adalah timbangan keimanan seseorang; siapa yang menjaga shalatnya, maka ia akan menjaga amalan lainnya. Karena itu, shalat didahulukan atas jihad — karena jihad tidak sah dan tidak diterima jika seseorang meninggalkan shalat.

Imam Al-Bukhari sengaja meletakkan hadits ini dalam Kitab Jihad dan Perang untuk menunjukkan bahwa jihad memiliki keutamaan besar, tetapi tetap berada di bawah shalat dan bakti kepada orang tua. Ini adalah bantahan halus terhadap orang yang menganggap jihad lebih utama dari semua amalan tanpa mempertimbangkan kewajiban dasar.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua disebut setelah shalat karena ia adalah hak makhluk yang paling agung, dan Islam sangat menekankan adab kepada orang tua. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa seorang Muslim harus mendahulukan yang wajib atas yang sunnah, dan yang fardhu atas yang fardhu kifayah.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa keutamaan amalan bisa berbeda tergantung kondisi waktu dan keadaan seseorang. Dalam kondisi perang dan darurat, jihad bisa menjadi amalan paling utama bagi orang tertentu. Namun, secara umum dan dalam kondisi normal, urutan yang disebutkan Nabi ﷺ dalam hadits ini adalah urutan yang paling kuat dan dipegang oleh jumhur ulama Ahlus Sunnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling banyak meriwayatkan hadits. Ia dikenal sebagai ahli fiqih dan qari Al-Qur'an yang mulia. Ketika ia bertanya tentang amalan paling utama, ia tidak bertanya untuk sekadar mengetahui, tetapi untuk mengamalkan. Ia bertanya tiga kali, dan setelah jawaban ketiga, ia diam karena merasa cukup dan hormat kepada Nabi ﷺ. Sikap ini mengajarkan adab dalam bertanya dan semangat dalam beramal.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang Mukmin adalah orang yang menggabungkan antara shalat yang terjaga, bakti kepada orang tua, dan kesiapan berjihad di jalan Allah sesuai kemampuan dan kondisinya. Fudail bin 'Iyadh menekankan bahwa meninggalkan shalat karena sibuk dengan urusan dunia atau bahkan urusan akhirat yang lain adalah kerugian besar.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat pada waktunya — ini adalah amalan paling utama, baik di awal waktu maupun tepat waktu, dengan syarat, rukun, dan kekhusyukan.
  2. Berbakti kepada orang tua — dahulukan ridha orang tua dalam hal yang tidak melanggar syariat, dan jangan pernah menyakiti hati mereka.
  3. Jihad di jalan Allah — pahami jihad sesuai tuntunan Nabi ﷺ dan para ulama, tidak mengabaikan kewajiban lain, dan tidak melampaui batas.
  4. Urutan prioritas — dahulukan yang wajib atas yang sunnah, dan yang fardhu 'ain atas yang fardhu kifayah.
  5. Adab bertanya — bertanyalah kepada ahlinya dengan sopan, dan amalkan apa yang sudah diketahui sebelum menambah pertanyaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?