Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah riwayat dari Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu 'anha yang menggambarkan tata cara mandi junub Nabi ﷺ secara praktis. Intinya, mandi junub yang diajarkan Nabi ﷺ adalah: mencuci kemaluan, berwudhu seperti wudhu shalat (tanpa mencuci kaki dulu), kemudian menuangkan air ke kepala dan seluruh tubuh, lalu mencuci kaki setelah berpindah tempat. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak memakai kain pengering setelah mandi, dan lebih memilih mengibaskan air dengan tangannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Mandi, Bab "Orang yang Berwudhu dalam Keadaan Junub Kemudian Mencuci Seluruh Tubuhnya, dan Tidak Mengulangi Mencuci Bagian Wudhu Sekali Lagi", nomor 274, dari Maimunah radhiyallahu 'anha.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara khusus membahas tata cara mandi junub secara terperinci, namun dasar kewajiban mandi junub adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Ma'idah [5]: 6
وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا
"Dan jika kamu dalam keadaan junub, maka bersucilah (mandilah)."
Adapun penjelasan hadits ini, para ulama dari kalangan yang disebutkan dalam daftar rujukan, seperti Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam An-Nawawi, dan Ibnu Hajar Al-Asqalani, menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa mandi junub yang sempurna adalah dengan mendahulukan membersihkan kemaluan, kemudian berwudhu, lalu mengguyur kepala dan seluruh tubuh, dan mengakhirkan mencuci kaki.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits Maimunah ini memberikan gambaran yang sangat jelas tentang tata cara mandi junub Nabi ﷺ. Mari kita rinci langkah-langkahnya:
- Nabi ﷺ meletakkan air untuk mandi junub. Ini menunjukkan bahwa mandi junub adalah ibadah yang memerlukan persiapan dan kesengajaan.
- Beliau menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri dua atau tiga kali. Ini adalah bentuk pembersihan awal, memulai dengan yang kanan dan membersihkan tangan terlebih dahulu.
- Kemudian mencuci kemaluannya. Ini adalah langkah penting untuk menghilangkan najis atau kotoran yang mungkin ada.
- Setelah itu, beliau mengusapkan tangannya ke tanah atau dinding. Ini adalah cara untuk membersihkan tangan dari bekas mencuci kemaluan. Ini menunjukkan perhatian terhadap kebersihan.
- Lalu beliau berkumur, memasukkan air ke hidung, mencuci muka dan kedua tangan (lengan). Ini adalah rangkaian wudhu, namun tanpa mencuci kaki. Ini menunjukkan bahwa wudhu dalam mandi junub tidak wajib diulang setelah mandi, dan mencuci kaki bisa diakhirkan.
- Kemudian beliau menuangkan air ke kepalanya dan mencuci seluruh tubuhnya. Ini adalah inti dari mandi junub, yaitu mengguyur seluruh tubuh dengan air.
- Setelah selesai, beliau berpindah dari tempatnya dan mencuci kedua kakinya. Ini menunjukkan bahwa mencuci kaki boleh diakhirkan setelah selesai mandi, dan tidak harus dalam urutan wudhu. Ini juga mengajarkan adab untuk tidak berdiri di genangan air bekas mandi.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa orang yang mandi junub tidak wajib mengulangi wudhunya setelah mandi, karena wudhu yang dilakukan di awal sudah dianggap cukup. Beliau juga menukil pendapat Imam Asy-Syafi'i yang membolehkan mengakhirkan mencuci kaki hingga setelah selesai mandi, sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya mendahulukan membersihkan kotoran sebelum berwudhu, dan bahwa mencuci kaki boleh diakhirkan. Beliau juga menekankan bahwa seluruh rangkaian ini adalah bentuk kesempurnaan mandi, dan jika seseorang hanya mengguyur seluruh tubuhnya dengan niat mandi junub, maka mandinya sudah sah.
Adapun bagian akhir hadits, ketika Maimunah membawakan kain untuk mengeringkan badan, Nabi ﷺ menolaknya dan mengibaskan air dengan tangannya. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan bolehnya tidak memakai kain pengering, dan bahwa mengibaskan air dengan tangan adalah cara yang lebih utama karena lebih menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan bekas. Ini juga menunjukkan kesederhanaan dan kemandirian Nabi ﷺ.
Story Telling
Ada sebuah kisah yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang juga menjadi perawi hadits ini. Suatu malam, Ibnu Abbas pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu 'anha, untuk mengamati langsung bagaimana Nabi ﷺ shalat malam dan beribadah. Ketika Nabi ﷺ bangun dan berwudhu dari tempat tidurnya, Ibnu Abbas memperhatikan dengan seksama setiap gerakan beliau.
Kisah ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menuntut ilmu, bahkan hingga rela menginap di rumah kerabatnya hanya untuk melihat langsung tata cara ibadah Nabi ﷺ. Mereka tidak hanya mendengar perkataan beliau, tetapi juga memperhatikan perbuatan dan diamnya beliau. Dari sini kita belajar bahwa menuntut ilmu itu butuh pengorbanan dan ketelitian. Hikmah lainnya adalah bahwa kita harus berusaha meniru Nabi ﷺ dalam setiap detail ibadah, karena di dalamnya terdapat keberkahan dan kesempurnaan.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits ini, ada beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Niatkan mandi junub untuk bersuci dari hadas besar.
- Mulailah dengan membersihkan kemaluan dan tangan.
- Berwudhu seperti wudhu shalat, namun boleh mengakhirkan mencuci kaki.
- Guyurkan air ke kepala dan seluruh tubuh hingga merata.
- Setelah selesai, berpindah tempat lalu mencuci kaki.
- Tidak mengapa tidak memakai kain pengering, dan boleh mengibaskan air dengan tangan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.