Penjelasan Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2731
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa besar Perjanjian Hudaibiyah, di mana Nabi ﷺ dan para sahabat berangkat untuk umrah namun dihalangi oleh Quraisy. Meskipun secara lahir tampak merugikan kaum Muslimin, perjanjian ini justru menjadi kemenangan besar yang nyata (fathun mubin). Hadits ini mengajarkan tentang ketaatan kepada pemimpin, adab terhadap Nabi ﷺ, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan keyakinan bahwa keputusan Allah selalu mengandung hikmah terbaik.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (QS. Al-Fath [48]: 1)
وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah [2]: 220 — potongan ayat)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Asy-Syurut (Syarat-Syarat), Bab Syarat dalam Jihad dan Perjanjian dengan Ahli Perang, dari Al-Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam. Az-Zuhri menyebutkan bahwa keduanya saling membenarkan riwayat satu sama lain.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar hadits ini sebagai dalil-dalil fiqih dan sirah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (pada riwayat serupa) menekankan pelajaran adab dan ketaatan sahabat.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menguraikan hikmah Perjanjian Hudaibiyah secara rinci.
- Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya menjelaskan konteks ayat-ayat yang turun berkenaan peristiwa ini.
Penjelasan Rinci
1. Latar Belakang Peristiwa
Nabi ﷺ berangkat bersama sekitar 1.400 sahabat menuju Makkah dengan niat berumrah, bukan berperang. Beliau mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan kurban (badanah). Quraisy, yang merasa terancam, mengirim Khalid bin Al-Walid dengan pasukan berkuda untuk menghadang. Nabi ﷺ mengambil jalan alternatif ke kanan melalui jalur pegunungan hingga tiba di Hudaibiyah.
2. Onta Nabi ﷺ Berhenti (Qashwa' Berhenti)
Ketika sampai di Tsaniyyah, onta Nabi ﷺ bernama Al-Qashwa' berhenti dan tidak mau maju. Orang-orang berkata, "Al-Qashwa' keras kepala!" Nabi ﷺ membantah:
مَا خَلأَتِ الْقَصْوَاءُ، وَمَا ذَاكَ لَهَا بِخُلُقٍ، وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ
"Al-Qashwa' tidak keras kepala, dan itu bukan kebiasaannya, tetapi dia dihentikan oleh Dzat yang menghentikan gajah."
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah isyarat bahwa Allah menahan mereka dari memasuki Makkah, sebagaimana Allah menahan pasukan gajah (Abrahah) dari menghancurkan Ka'bah. Ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi adalah ketentuan Allah, bukan kelemahan.
3. Sabda Nabi ﷺ tentang Menghormati Hurumat Allah
Nabi ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلاَّ أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mereka meminta kepadaku suatu perkara yang mereka agungkan padanya hurumat (kehormatan) Allah, kecuali aku akan memberikannya kepada mereka."
Ibn Qayyim menjelaskan bahwa ini adalah prinsip Nabi ﷺ dalam berdiplomasi: selama permintaan itu tidak melanggar kehormatan Allah, beliau menerimanya demi kemaslahatan yang lebih besar.
4. Mukjizat Air Memancar dari Sumur
Ketika pasukan Muslim kehabisan air di sumur Hudaibiyah, Nabi ﷺ mengambil anak panah dari wadahnya dan memerintahkan untuk meletakkannya di sumur. Air pun memancar deras hingga semua orang puas minum. Ini adalah mukjizat yang jelas yang disebutkan dalam hadits.
5. Dialog dengan Budail bin Warqa'
Budail dari Khuza'ah datang memberitahu bahwa Quraisy bersiap memerangi Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menyampaikan tawaran damai: beliau tidak datang untuk berperang, tetapi untuk umrah. Beliau menawarkan gencatan senjata dan memberi Quraisy pilihan. Ini menunjukkan keluwesan dan hikmah Nabi ﷺ dalam berdakwah dan berpolitik.
6. Dialog dengan Urwah bin Mas'ud
Urwah bin Mas'ud datang mewakili Quraisy. Ia berbicara dengan Nabi ﷺ dan mencoba menggoyahkan beliau. Ketika Urwah meraih janggut Nabi ﷺ, Al-Mughirah bin Syu'bah memukul tangannya dengan gagang pedang dan berkata:
أَخِّرْ يَدَكَ عَنْ لِحْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
"Jauhkan tanganmu dari janggut Rasulullah ﷺ!"
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan adab para sahabat yang sangat tinggi terhadap Nabi ﷺ — mereka tidak membiarkan siapa pun berlaku tidak sopan kepada beliau.
7. Kesaksian Urwah tentang Kecintaan Sahabat kepada Nabi ﷺ
Urwah memperhatikan para sahabat dan melihat betapa mereka mencintai Nabi ﷺ. Ia berkata:
فَوَاللَّهِ مَا تَنَخَّمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نُخَامَةً إِلاَّ وَقَعَتْ فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ
"Demi Allah, tidaklah Rasulullah ﷺ meludah kecuali ludahnya jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu ia mengusapkannya ke wajah dan kulitnya."
Urwah kemudian berkata setelah kembali kepada kaumnya:
وَاللَّهِ إِنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ يُعَظِّمُهُ أَصْحَابُهُ مَا يُعَظِّمُ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ ﷺ مُحَمَّدًا
"Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para pengikutnya seperti para sahabat Muhammad mengagungkan Muhammad."
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah bukti nyata kecintaan dan penghormatan sahabat kepada Nabi ﷺ, yang merupakan buah dari keimanan yang benar.
8. Perjanjian Hudaibiyah
Suhail bin Amr datang untuk membuat perjanjian. Beberapa poin penting:
a. Penulisan Bismillah:
Nabi ﷺ memerintahkan menulis "Bismillahir Rahmanir Rahim", tetapi Suhail menolak dan berkata, "Aku tidak tahu apa itu Ar-Rahman." Nabi ﷺ menerima permintaan mereka untuk menulis "Bismika Allahumma."
b. Penulisan Nama Nabi ﷺ:
Nabi ﷺ memerintahkan menulis "Muhammad Rasulullah", tetapi Suhail menolak dan berkata, "Jika kami tahu engkau Rasulullah, kami tidak akan menghalangimu." Nabi ﷺ menerima ditulis "Muhammad bin Abdullah."
c. Syarat Pengembalian Muslim:
Suhail mensyaratkan bahwa siapa pun dari Quraisy yang datang kepada Nabi ﷺ harus dikembalikan, meskipun sudah masuk Islam. Kaum Muslimin merasa berat, tetapi Nabi ﷺ menerima.
d. Umrah Ditunda:
Mereka tidak diizinkan umrah tahun ini, tetapi boleh tahun depan.
9. Sikap Umar bin Al-Khattab
Umar bertanya kepada Nabi ﷺ dengan beberapa pertanyaan karena merasa berat dengan syarat-syarat tersebut. Nabi ﷺ menjawab dengan tenang:
إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَلَسْتُ أَعْصِيهِ وَهْوَ نَاصِرِي
"Aku adalah Rasulullah, aku tidak mendurhakai-Nya, dan Dia akan menolongku."
Umar kemudian menyesali pertanyaannya dan melakukan banyak amal sebagai penebus. Ibn Qayyim menjelaskan bahwa Umar tidak bermaksud menentang, tetapi karena kecintaannya yang besar kepada Islam, ia merasa berat melihat kaum Muslimin "direndahkan."
10. Perintah Menyembelih Kurban dan Mencukur
Setelah perjanjian ditulis, Nabi ﷺ memerintahkan sahabat untuk menyembelih kurban dan mencukur rambut. Namun, karena perasaan berat, tidak ada yang berdiri hingga Nabi ﷺ mengulangi tiga kali. Nabi ﷺ kemudian masuk ke Ummu Salamah dan menceritakan hal itu. Ummu Salamah menyarankan:
يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَتُحِبُّ ذَلِكَ اخْرُجْ ثُمَّ لاَ تُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ كَلِمَةً حَتَّى تَنْحَرَ بُدْنَكَ، وَتَدْعُوَ حَالِقَكَ فَيَحْلِقَكَ
"Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin itu terjadi? Keluarlah, lalu jangan berbicara kepada siapa pun sampai engkau menyembelih kurbanmu dan memanggil tukang cukur untuk mencukurmu."
Nabi ﷺ melakukannya, dan ketika sahabat melihat, mereka pun bangkit dan melaksanakan perintah. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan kecerdasan Ummu Salamah dan pentingnya musyawarah dengan istri yang shalihah.
11. Turunnya Ayat tentang Wanita Muhajirah
Setelah perjanjian, beberapa wanita mukminah berhijrah. Allah menurunkan ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian wanita-wanita mukmin yang berhijrah, maka ujilah mereka." (QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)
12. Kisah Abu Bashir dan Abu Jandal
Abu Bashir, seorang Muslim dari Quraisy, datang ke Madinah. Quraisy menuntutnya sesuai perjanjian. Nabi ﷺ menyerahkannya kepada dua utusan Quraisy. Di tengah jalan, Abu Bashir membunuh salah satu penjaganya dan melarikan diri. Nabi ﷺ berkata:
وَيْلُ أُمِّهِ مِسْعَرَ حَرْبٍ، لَوْ كَانَ لَهُ أَحَدٌ
"Celakalah ibunya, dia adalah pengobar perang, seandainya dia memiliki pendukung."
Abu Bashir memahami bahwa Nabi ﷺ akan mengembalikannya lagi, maka ia pergi ke pesisir. Abu Jandal bin Suhail juga melarikan diri dan bergabung dengannya. Mereka membentuk kelompok yang menghadang kafilah Quraisy. Akhirnya Quraisy meminta Nabi ﷺ untuk menarik mereka, dan Allah menurunkan ayat:
وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ
"Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari kalian dan tangan kalian dari mereka di tengah-tengah Makkah, setelah Dia memberi kalian kemenangan atas mereka." (QS. Al-Fath [48]: 24)
Story Telling
Kisah Ummu Salamah dan Hikmah Musyawarah
Ketika Nabi ﷺ dan para sahabat berada dalam kesedihan karena syarat-syarat Perjanjian Hudaibiyah, Nabi ﷺ masuk menemui Ummu Salamah radhiyallahu 'anha. Beliau menceritakan bahwa para sahabat tidak segera melaksanakan perintah untuk menyembelih kurban dan mencukur rambut.
Ummu Salamah, dengan kecerdasan dan kecintaannya kepada Nabi ﷺ, memberikan saran yang sangat bijak: "Wahai Nabi Allah, janganlah engkau berbicara kepada mereka. Keluarlah, sembelihlah kurbanmu, dan panggillah tukang cukur. Mereka akan melihat dan mengikuti."
Nabi ﷺ melaksanakan saran itu. Benar saja, ketika para sahabat melihat Nabi ﷺ telah menyembelih kurban dan mencukur rambutnya, mereka segera bangkit dan melaksanakan perintah dengan penuh semangat, hingga hampir saja mereka saling membunuh karena berebut.
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam kisah ini terdapat pelajaran tentang pentingnya musyawarah, kecerdasan seorang istri shalihah, dan bagaimana teladan pemimpin yang baik dapat menggerakkan hati manusia.
Kisah Urwah bin Mas'ud dan Kesaksiannya
Urwah bin Mas'ud, seorang pemimpin Quraisy yang cerdas, datang menemui Nabi ﷺ untuk bernegosiasi. Ia memperhatikan para sahabat dengan seksama. Ia melihat bagaimana mereka memperlakukan Nabi ﷺ dengan penuh hormat: jika Nabi ﷺ meludah, mereka menampung ludahnya dengan tangan dan mengusapkannya ke wajah; jika Nabi ﷺ berwudhu, mereka berebut air bekas wudhunya; jika Nabi ﷺ berbicara, mereka merendahkan suara dan tidak menatapnya tajam karena hormat.
Ketika kembali kepada kaumnya, Urwah berkata: "Wahai kaum, demi Allah, aku telah datang kepada raja-raja: Kaisar, Kisra, dan Najasyi. Tetapi aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para pengikutnya seperti Muhammad diagungkan oleh para sahabatnya."
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa kesaksian Urwah ini adalah bukti nyata kecintaan dan penghormatan sahabat kepada Nabi ﷺ, yang merupakan buah dari keimanan yang benar dan pengenalan yang mendalam terhadap pribadi Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kunci keberhasilan, meskipun secara lahir tampak merugikan. Perjanjian Hudaibiyah yang tampak merugikan justru menjadi kemenangan besar.
- Adab terhadap Nabi ﷺ dan para ulama harus dijaga dengan baik, sebagaimana para sahabat menjaga adab mereka.
- Musyawarah dengan orang-orang shalih, termasuk istri yang shalihah, adalah sunnah yang membawa keberkahan.
- Kesabaran dalam menghadapi ujian dan tidak tergesa-gesa dalam menilai keputusan pemimpin yang lebih mengetahui kemaslahatan.
- Kecintaan kepada Nabi ﷺ harus dibuktikan dengan mengikuti sunnahnya dan menghormati syiar-syiar agama.
- Hikmah dalam berdakwah dan berpolitik, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ dalam menerima syarat-syarat yang tampak merugikan demi kemaslahatan yang lebih besar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.