Penjelasan Hadits Bukhari No. 2693 tentang Anjuran mendamaikan orang yang bertikai

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya akhlak Nabi ﷺ dalam menyelesaikan pertikaian. Beliau tidak tinggal diam, tidak memihak, dan tidak menunda-nunda. Beliau langsung mengajak para sahabat untuk berangkat mendamaikan pihak yang bertikai, meskipun itu terjadi di luar kota Madinah (Quba'). Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa mendamaikan manusia yang berselisih adalah bagian dari iman dan akhlak mulia yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap sesuai periwayatan):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأُوَيْسِيُّ، وَإِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَرْوِيُّ، قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ـ رضى الله عنه أَنَّ أَهْلَ، قُبَاءٍ اقْتَتَلُوا حَتَّى تَرَامَوْا بِالْحِجَارَةِ، فَأُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِذَلِكَ فَقَالَ " اذْهَبُوا بِنَا نُصْلِحُ بَيْنَهُمْ "

Makna ringkas: Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, bahwa penduduk Quba' saling bertikai hingga mereka saling melempar batu. Ketika Rasulullah ﷺ diberitahu tentang hal itu, beliau bersabda: "Mari kita pergi untuk mendamaikan mereka."

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya seorang pemimpin atau orang yang memiliki kedudukan untuk turun langsung mendamaikan rakyatnya yang bertikai. Beliau juga menyebutkan bahwa kata "اذْهَبُوا بِنَا" (mari kita pergi) menunjukkan ajakan langsung secara lisan, bukan dengan surat atau utusan, karena hal itu lebih menenangkan dan lebih cepat meredam kemarahan.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (dalam bab serupa) menekankan bahwa mendamaikan dua pihak yang berselisih adalah perbuatan yang sangat dianjurkan, bahkan termasuk sedekah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Setiap sendi tubuh manusia wajib bersedekah... dan mendamaikan dua orang yang bertikai adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Sahl bin Sa'd As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits tentang peristiwa-peristiwa di masa Nabi ﷺ. Peristiwa ini terjadi di Quba', sebuah desa di pinggiran Madinah yang terkenal dengan masjidnya yang pertama kali dibangun atas dasar takwa.

Yang menarik dari hadits ini:

  1. Nabi ﷺ tidak menunda-nunda. Begitu beliau mendengar kabar pertikaian, beliau langsung bergerak. Ini menunjukkan bahwa masalah perselisihan di antara kaum muslimin adalah masalah besar yang harus segera diselesaikan, bukan dibiarkan berlarut-larut.
  2. Nabi ﷺ turun langsung. Beliau tidak mengirim utusan, tidak menunggu laporan lebih lanjut, tetapi beliau sendiri yang berangkat. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang baik harus hadir di tengah rakyatnya saat terjadi masalah, bukan hanya memberi perintah dari jauh.
  3. Nabi ﷺ mengajak para sahabatnya dengan bahasa yang lembut. Beliau berkata, "Mari kita pergi..." Bukan "Pergilah kalian..." Ini menunjukkan kelembutan dan kebersamaan. Beliau tidak merasa terlalu mulia untuk ikut serta dalam urusan mendamaikan manusia.
  4. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pertikaian bisa terjadi di antara kaum muslimin. Namun yang penting adalah bagaimana menyikapinya. Nabi ﷺ tidak membiarkan api permusuhan itu menyala, tetapi beliau segera memadamkannya.

Pandangan ulama tentang keutamaan ishlah (mendamaikan):

  • Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa mendamaikan manusia adalah termasuk amalan yang paling utama, karena ia menggabungkan banyak kebaikan: menghilangkan kebencian, menyambung silaturahmi, dan mencegah perpecahan.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "fashlihu baina akhawaykum" (maka damaikanlah antara kedua saudaramu) menunjukkan bahwa mendamaikan adalah kewajiban bagi yang mampu, dan ia termasuk sebab turunnya rahmat Allah.
  • Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam "Kitab Perdamaian" dan memberi bab "Perkataan Imam kepada Sahabatnya: Mari Kita Berdamai", yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin boleh mengajak serta orang lain dalam upaya perdamaian, dan ini adalah sunnah.

Adab dalam mendamaikan:

  • Berniat ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji.
  • Tidak memihak salah satu pihak sebelum mendengar keduanya.
  • Menggunakan bahasa yang lembut dan menenangkan.
  • Bersegera, jangan menunda, karena menunda hanya akan memperbesar masalah.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Setiap sendi tulang manusia memiliki sedekah pada setiap harinya saat matahari terbit. Engkau berbuat adil antara dua orang adalah sedekah..." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah, betapa agungnya kedudukan mendamaikan manusia di sisi Allah. Bahkan disebut sebagai sedekah yang pahalanya mengalir setiap hari. Dan lihatlah teladan Nabi ﷺ: beliau yang merupakan manusia paling mulia di sisi Allah, tidak segan berjalan kaki menuju Quba' hanya untuk mendamaikan dua kelompok yang bertikai. Beliau tidak berkata, "Suruh mereka datang ke sini," tetapi beliau yang datang kepada mereka.

Ini mengajarkan kita sebuah pelajaran besar: kerendahan hati dan keikhlasan dalam melayani umat adalah ciri pemimpin yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera damaikan jika melihat dua orang atau dua kelompok berselisih, jangan biarkan masalah berlarut-larut.
  2. Turun langsung jika kita memiliki kemampuan dan kedudukan, jangan hanya menyuruh orang lain.
  3. Gunakan bahasa yang lembut dan ajakan yang menenangkan, seperti yang dicontohkan Nabi ﷺ.
  4. Niatkan karena Allah, karena mendamaikan manusia adalah sedekah yang besar pahalanya.
  5. Jangan memihak sebelum mendengar kedua belah pihak, dan berusahalah berlaku adil.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?