Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Kesaksian, bab tentang menepati janji. Intinya, Nabi Musa عليه السلام menunaikan janjinya kepada Nabi Syu'aib عليه السلام dengan menyelesaikan masa kerja yang paling lama dan paling sempurna, yaitu sepuluh tahun. Ibnu Abbas رضي الله عنهما menegaskan bahwa seorang nabi—dan lebih-lebih lagi Rasulullah ﷺ—selalu menepati apa yang ia ucapkan. Hadits ini mengajarkan keutamaan menepati janji, memilih yang lebih baik dalam memenuhi komitmen, dan adab bertanya kepada ahlinya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang menjadi latar kisah ini — QS. Al-Qashash [28]: 27–28:
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
Terjemah ringkas: "Syu'aib berkata: 'Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu putriku, dengan syarat engkau bekerja padaku selama delapan tahun; jika engkau sempurnakan sepuluh tahun, itu adalah kebaikan darimu. Aku tidak ingin memberatkanmu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang saleh.'"
Hadits terkait — Shahih Al-Bukhari no. 2684, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Kitab Kesaksian (Asy-Syahadat), bab "Siapa yang Memerintahkan untuk Menepati Janji".
Kaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan hadits ini dalam Fathul Bari pada kitab yang sama, bahwa di dalamnya terdapat dalil keutamaan menepati janji dan bahwa nabi selalu menunaikan ucapannya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Qashash [28]: 27–28 menyebutkan bahwa Musa عليه السلام menyempurnakan sepuluh tahun, sesuai pendapat yang masyhur dari Ibnu Abbas.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits. Seorang Yahudi dari Hira bertanya kepada Sa'id bin Jubair tentang masa kerja mana yang ditunaikan Nabi Musa عليه السلام — delapan tahun atau sepuluh tahun. Sa'id bin Jubair tidak menjawab tanpa ilmu; ia menunggu sampai bertemu "habrul 'Arab" (ulama Arab), yaitu Ibnu Abbas رضي الله عنهما. Ibnu Abbas menjawab: Musa menunaikan yang lebih lama dan lebih baik, yaitu sepuluh tahun. Lalu beliau menambahkan prinsip agung: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ apabila berkata, beliau melakukannya."
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
- Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menepati janji dan bahwa memilih yang lebih sempurna dalam menunaikan komitmen adalah sikap terpuji. Beliau juga menyebut bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa seorang nabi ma'shum (terjaga) dalam menunaikan janjinya.
- Ibnu Katsir (Tafsir) menegaskan bahwa pendapat Ibnu Abbas bahwa Musa menyempurnakan sepuluh tahun adalah pendapat yang paling kuat, karena Allah menyebutkan bahwa Musa menunaikan "ajal" (masa) yang paling sempurna.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan menepati janji dan bahwa janji seorang mukmin adalah hutang yang harus ditunaikan.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam (pada kaidah tentang menepati janji) menekankan bahwa menepati janji adalah bagian dari keimanan dan tanda kesempurnaan akhlak.
Adab bertanya kepada ahlinya. Perhatikan sikap Sa'id bin Jubair: beliau tidak menjawab dengan dugaan, tetapi berkata "aku tidak tahu" lalu mencari ahlinya. Ini sejalan dengan firman Allah:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
(QS. An-Nahl [16]: 43) — "Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui."
Perbedaan pendapat: Sebagian mufassir menyebut Musa menunaikan delapan tahun, sebagian menyebut sepuluh tahun. Namun menurut Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, dan jumhur ulama dalam daftar, yang paling kuat adalah sepuluh tahun, karena itulah yang "lebih lama dan lebih baik".
Story Telling
Dikisahkan bahwa Sa'id bin Jubair رحمه الله, seorang tabi'in murid Ibnu Abbas, suatu hari didatangi seorang Yahudi dari Hira. Orang itu bertanya: "Masa kerja mana yang ditunaikan Musa — yang delapan tahun atau yang sepuluh tahun?"
Sa'id bin Jubair, meski seorang ulama, tidak serta-merta menjawab. Beliau berkata dengan jujur: "Aku tidak tahu, sampai aku menemui ulama Arab dan bertanya kepadanya."
Maka ketika beliau sampai di Makkah, beliau langsung menemui Ibnu Abbas رضي الله عنهما — "habrul ummah", lautan ilmu umat ini. Ibnu Abbas menjawab dengan tenang: "Musa menunaikan yang lebih lama dan lebih baik." Lalu beliau menambahkan kalimat yang menjadi inti hadits ini: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ apabila berkata, beliau melakukannya."
Hikmahnya: (1) Kejujuran seorang alim untuk berkata "aku tidak tahu" adalah bagian dari ilmu; (2) Bertanya kepada ahlinya adalah jalan keselamatan; (3) Menepati janji adalah akhlak para nabi, dan puncaknya pada Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Tepati janji — baik janji kepada Allah, kepada manusia, maupun komitmen kerja/perjanjian. Janji adalah amanah.
- Pilih yang lebih baik dalam menunaikan komitmen — jika ada pilihan antara yang minimal dan yang lebih sempurna, pilihlah yang lebih baik selama tidak memberatkan.
- Jujur ketika tidak tahu — ucapkan "aku tidak tahu" dan rujuk kepada ahlinya, jangan menjawab dengan dugaan.
- Teladani akhlak Nabi ﷺ — beliau selalu menunaikan apa yang beliau ucapkan; ini standar akhlak seorang mukmin.
- Rujuk kepada ulama terpercaya dalam masalah agama, sebagaimana Sa'id bin Jubair merujuk kepada Ibnu Abbas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.