Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa amal yang paling utama adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian jihad di jalan Allah, lalu haji yang mabrur. Ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi juga keyakinan hati yang dibuktikan dengan amal. Urutan ini mengajarkan bahwa fondasi segala amal adalah keimanan yang benar, lalu amal yang paling dicintai Allah setelah itu adalah berjuang di jalan-Nya dan menyempurnakan ibadah haji.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks hadits yang Anda sampaikan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ ditanya tentang amal yang paling utama. Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Lalu ditanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah." Ditanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Haji yang mabrur." (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Iman, Bab "Man Qala: Inna Al-Iman Huwa Al-'Amal", no. 26)
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah dan amal adalah bagian dari keimanan, bukan terpisah darinya. Iman yang benar akan melahirkan amal shalih.
Kaitan dengan ulama:
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Kitab Al-Iman" dengan bab "Bab Siapa yang Berkata Bahwa Iman adalah Amal". Ini menunjukkan pemahaman beliau—dan juga ulama Ahlus Sunnah—bahwa iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah juga menyatakan bahwa iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Iman adalah fondasi segala amal
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah amal yang paling utama karena ia menjadi syarat diterimanya semua amal lainnya. Tanpa iman, amal apa pun tidak akan bernilai di sisi Allah. Iman adalah akar, sedangkan amal lainnya adalah cabang dan buahnya.
2. Jihad di jalan Allah
Setelah iman, jihad adalah amal yang paling utama. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa jihad disebutkan di sini karena ia adalah puncak pengorbanan harta dan jiwa di jalan Allah. Namun perlu dipahami, jihad dalam konteks ini adalah jihad yang sesuai syariat—baik jihad melawan musuh yang menyerang kaum muslimin, maupun jihad melawan hawa nafsu. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu untuk menaati Allah, kemudian jihad melawan setan, lalu jihad melawan orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin.
3. Haji yang mabrur
Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah, yaitu haji yang dilakukan dengan ikhlas, mengikuti sunnah Nabi ﷺ, dan tidak disertai perbuatan dosa. Imam Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak bercampur dengan dosa, dan balasannya adalah surga sebagaimana disebutkan dalam hadits lain.
4. Urutan ini bukan berarti amal lain tidak penting
Perlu ditegaskan bahwa urutan ini bukan berarti shalat, zakat, puasa, dan amal lainnya tidak penting. Semua amal wajib tetap wajib. Namun hadits ini menunjukkan keutamaan dan prioritas. Imam Ibn Taymiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa keutamaan amal berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan maslahatnya. Terkadang jihad lebih utama bagi sebagian orang, dan terkadang haji lebih utama bagi yang lain.
5. Iman adalah amal
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab yang menunjukkan bahwa iman adalah amal. Ini adalah bantahan terhadap golongan Murji'ah yang mengatakan iman hanya cukup di hati tanpa amal. Ahlus Sunnah menyatakan bahwa iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Iman adalah perkataan, perbuatan, dan niat. Tidak sempurna salah satunya tanpa yang lainnya."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Dzar radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, ada seorang sahabat yang bertanya tentang amal yang paling dicintai Allah. Maka Rasulullah ﷺ menjawab: "Engkau beriman kepada Allah." Sahabat itu bertanya lagi: "Lalu apa?" Beliau menjawab: "Engkau berjihad di jalan Allah." Sahabat itu bertanya lagi: "Lalu apa?" Beliau menjawab: "Haji yang mabrur." (HR. Ahmad)
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias mengetahui amal yang paling utama agar mereka bisa bersungguh-sungguh menjalankannya. Mereka tidak bertanya tentang amal yang paling mudah, tetapi yang paling utama—karena mereka adalah generasi yang sangat mencintai kebaikan dan keutamaan.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah fondasi dan amal yang paling utama. Perbanyaklah belajar aqidah yang benar, memperbaiki keyakinan, dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah.
- Jihad di jalan Allah—dalam bentuknya yang luas—adalah amal yang sangat mulia. Saat ini, jihad yang bisa kita lakukan antara lain: berjuang melawan hawa nafsu, menuntut ilmu syar'i, berdakwah dengan hikmah, dan membantu kaum muslimin yang tertindas sesuai kemampuan.
- Haji yang mabrur adalah amal yang sangat utama. Jika Allah memberi kemampuan, bersegeralah menunaikan haji dengan ikhlas, mengikuti sunnah, dan menjaga diri dari perbuatan dosa selama berhaji.
- Jangan meremehkan amal lain. Semua amal wajib tetap wajib. Keutamaan satu amal tidak berarti amal lain boleh ditinggalkan.
- Perbaiki niat dalam setiap amal. Amal yang diterima adalah amal yang ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.