Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kisah seorang ahli ibadah dari Bani Israil bernama Juraij yang diuji oleh Allah melalui ibunya dan seorang wanita. Kisah ini mengandung pelajaran besar tentang keutamaan berbakti kepada ibu, adab menjawab panggilan orang tua ketika sedang shalat sunnah, serta bukti kekuasaan Allah dalam menjaga hamba-Nya yang ikhlas. Juraij diselamatkan dari fitnah keji melalui mukjizat berupa bayi yang berbicara, dan ia memilih membangun kembali tempat ibadahnya dari tanah sebagai bentuk tawadhu dan kezuhudan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Penganiayaan, Bab "Jika Merobohkan Tembok, Hendaknya Membangun yang Serupa", no. 2482, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil terkait berbakti kepada orang tua:
QS. Al-Isra' [17]: 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
Dalil terkait menjaga kehormatan dan kesabaran dalam menghadapi fitnah:
QS. Al-Ankabut [29]: 2-3
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Keutamaan Berbakti kepada Ibu
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kisah Juraij ini menunjukkan besarnya hak ibu atas anaknya. Doa ibu kepada anaknya adalah doa yang mustajab. Ketika Juraij tidak menjawab panggilan ibunya karena sedang shalat sunnah, ibunya mendoakan keburukan baginya, dan doa itu pun dikabulkan sebagai ujian baginya. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih didahulukan daripada melanjutkan shalat sunnah ketika dipanggil oleh keduanya.
2. Adab Menjawab Panggilan Orang Tua
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menjawab panggilan orang tua ketika sedang shalat. Pendapat yang lebih kuat menurut jumhur ulama dari kalangan Syafi'iyah dan lainnya: jika shalat tersebut shalat sunnah, maka boleh memutusnya untuk menjawab panggilan orang tua. Adapun jika shalat wajib, maka tidak boleh diputus kecuali jika dikhawatirkan terjadi kemudharatan. Namun kisah Juraij menunjukkan bahwa pilihan untuk menyempurnakan shalatnya bukanlah perbuatan dosa, tetapi ia kehilangan keutamaan berbakti kepada ibunya.
3. Tawadhu dan Kezuhudan Juraij
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa ketika orang-orang menawarkan membangunkan tempat ibadahnya dari emas, Juraij menolak dan meminta dibangun dari tanah saja. Ini menunjukkan sifat tawadhu dan tidak berbangga diri dengan dunia. Ia tidak ingin tempat ibadahnya menjadi simbol kemewahan yang bisa menimbulkan kesombongan.
4. Kesabaran dalam Menghadapi Fitnah
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah ini mengajarkan agar seorang mukmin bersabar ketika difitnah dan dituduh dengan kebatilan. Juraij tidak membalas cacian orang-orang, tidak marah, tetapi ia berwudhu, shalat, kemudian berdoa kepada Allah. Ia menyerahkan urusannya kepada Allah, dan Allah membuktikan kebersihannya melalui mukjizat.
5. Hikmah Membangun Kembali yang Rusak
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab "Jika Merobohkan Tembok, Hendaknya Membangun yang Serupa" untuk menunjukkan bahwa orang yang merusak sesuatu milik orang lain wajib menggantinya atau membangunnya kembali. Dalam kisah ini, orang-orang yang merobohkan tempat ibadah Juraij menawarkan untuk membangunnya kembali, bahkan dari emas. Namun Juraij memilih yang sederhana.
Story Telling
Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda menceritakan kisah ini. Ada pelajaran yang sangat menyentuh dari kisah ini:
Juraij adalah seorang ahli ibadah yang tekun. Ia tinggal di sebuah tempat ibadah (shau-ma'ah) yang terpencil. Suatu hari, ibunya yang sudah tua datang memanggilnya ketika ia sedang shalat sunnah. Juraij bingung antara menjawab panggilan ibunya atau menyempurnakan shalatnya. Ia memilih untuk melanjutkan shalatnya. Ibunya datang lagi dan memanggilnya, namun Juraij tetap tidak menjawab. Maka ibunya berdoa, "Ya Allah, jangan Engkau matikan dia hingga Engkau perlihatkan kepadanya wajah-wajah para pelacur."
Doa itu dikabulkan. Seorang wanita yang terkenal buruk akhlaknya mendengar tentang Juraij dan bersumpah akan menggoda dan menjatuhkannya. Ia mendatangi Juraij dan merayunya, tetapi Juraij menolak dengan tegas. Wanita itu lalu pergi kepada seorang penggembala dan berzina dengannya hingga hamil. Ketika melahirkan, ia menuduh bayi itu adalah anak Juraij.
Orang-orang marah dan mendatangi Juraij. Mereka merobohkan tempat ibadahnya, menyeretnya keluar, dan mencacinya. Juraij tidak membela diri dengan kata-kata. Ia hanya berwudhu, shalat, kemudian menghadap bayi yang masih kecil itu dan bertanya, "Wahai anak, siapa ayahmu?" Maka dengan izin Allah, bayi yang masih menyusu itu berbicara, "Ayahku adalah penggembala."
Orang-orang pun tersadar bahwa mereka telah keliru. Mereka meminta maaf dan menawarkan membangunkan tempat ibadahnya dari emas. Namun Juraij menolak dan meminta dibangun dari tanah saja, sebagai bentuk kerendahan hati.
Hikmah dari kisah ini: doa orang tua sangat mustajab, kesabaran dalam menghadapi fitnah akan berbuah kemenangan, dan Allah selalu membela hamba-Nya yang ikhlas.
Kesimpulan Praktis
- Dahulukan berbakti kepada orang tua — jika orang tua memanggil ketika kita sedang shalat sunnah, jawablah panggilan mereka. Ini lebih utama.
- Jangan remehkan doa orang tua — doa ibu sangat mustajab, baik untuk kebaikan maupun keburukan anaknya.
- Bersabar ketika difitnah — jangan membalas dengan kemarahan; serahkan urusan kepada Allah dan perbanyak doa.
- Hidup sederhana dan tawadhu — jangan berbangga dengan kemewahan dunia; yang penting adalah keikhlasan hati.
- Jika merusak sesuatu, wajib memperbaikinya — sebagaimana orang-orang yang merobohkan tempat ibadah Juraij menawarkan untuk membangunnya kembali.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.