Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat menjaga kebersihan dan kesucian mulut, terutama ketika hendak melaksanakan ibadah di malam hari (qiyamul lail). Beliau bersiwak sebelum shalat malam sebagai bentuk persiapan diri untuk menghadap Allah ﷻ dalam keadaan yang paling baik dan suci. Ini adalah sunnah yang mulia dan mudah untuk kita amalkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits yang Anda sebutkan adalah benar sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Wudhu', Bab As-Siwak, no. 245. Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."
(QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Ayat ini menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-Nya yang menjaga kebersihan dan kesucian, baik lahir maupun batin. Bersiwak adalah bagian dari kebersihan lahir yang sangat dianjurkan.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya bersiwak ketika hendak bangun untuk shalat malam. Beliau juga menukil perkataan para ulama bahwa bersiwak disunnahkan pada setiap kali hendak beribadah, terutama shalat.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- Kebersihan mulut adalah bagian dari kesempurnaan ibadah. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menyebutkan bahwa bersiwak disunnahkan pada setiap keadaan, dan lebih ditekankan lagi ketika hendak shalat, membaca Al-Qur'an, dan ketika bangun dari tidur. Ini karena mulut adalah tempat bacaan Al-Qur'an dan dzikir, sehingga sudah sepantasnya dijaga kebersihannya.
- Bersiwak menghilangkan bau tidak sedap. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa ketika seseorang tidur, mulutnya bisa mengeluarkan bau yang kurang sedap. Maka Nabi ﷺ mengajarkan untuk bersiwak agar ketika berdiri menghadap Allah dalam shalat, mulut dalam keadaan bersih dan harum.
- Bersiwak adalah fitrah dan tanda kecintaan kepada kebersihan. Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sangat menjaga kebersihan mulut, dan ini termasuk akhlak mulia yang dicintai Allah.
- Hadits ini juga menunjukkan adab bangun malam. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Wudhu, Bab Siwak, yang mengisyaratkan bahwa bersiwak termasuk perkara yang berkaitan dengan thaharah (bersuci). Ini menunjukkan bahwa kebersihan mulut adalah bagian dari kesucian yang dituntut dalam ibadah.
Para ulama juga menyebutkan bahwa siwak yang digunakan Nabi ﷺ berasal dari pohon arak yang memiliki banyak manfaat, baik untuk kesehatan gigi dan gusi, maupun untuk menghilangkan bau mulut.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu, yang meriwayatkan hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat cinta kepada Nabi ﷺ. Suatu malam, beliau bangun dan ikut shalat bersama Nabi ﷺ. Beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ memulai ibadahnya dengan bersiwak terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian, bahkan sebelum beribadah di tengah malam yang sepi.
Hikmah yang bisa kita ambil: jika Nabi ﷺ yang sudah dijamin kesuciannya saja tetap bersiwak sebelum shalat, maka kita yang lebih membutuhkan kebersihan ini tentu lebih dianjurkan lagi untuk melakukannya. Ini adalah bentuk cinta dan penghormatan kita kepada Allah ﷻ ketika hendak bermunajat kepada-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Bersiwaklah setiap kali hendak shalat, terutama shalat malam (qiyamul lail) dan shalat lima waktu.
- Bersiwak juga dianjurkan ketika hendak membaca Al-Qur'an, masuk rumah, dan bangun dari tidur.
- Jika tidak ada siwak, boleh menggunakan sikat gigi atau alat lain yang bisa membersihkan mulut, karena tujuan utamanya adalah kebersihan.
- Niatkan bersiwak karena mengikuti sunnah Nabi ﷺ, agar mendapat pahala dan kecintaan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.