Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan mendasar tentang bahaya kezaliman. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa setiap perbuatan zalim kepada orang lain akan menjadi kegelapan yang menutupi pelakunya pada Hari Kiamat. Ini adalah peringatan keras agar kita menjauhi segala bentuk kezaliman, baik yang besar maupun yang kecil, karena akibatnya sangat berat di akhirat kelak.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sesuai riwayat Shahih Al-Bukhari, no. 2447):
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ الْمَاجِشُونُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
Terjemahan: Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ bersabda: "Kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
"Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Hud [11]: 117)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ Maha Adil dan tidak akan menzalimi hamba-Nya. Kezaliman adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah, dan pelakunya akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "kegelapan" di sini adalah kegelapan yang hakiki di Padang Mahsyar bagi orang-orang yang zalim, sebagai balasan atas kezaliman mereka di dunia. Beliau juga menukil pendapat ulama bahwa kezaliman di sini mencakup kezaliman terhadap diri sendiri (dengan berbuat maksiat) dan kezaliman terhadap sesama makhluk.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan keras terhadap perbuatan zalim. Kegelapan pada Hari Kiamat adalah balasan yang setimpal bagi orang yang menzalimi orang lain, karena kezaliman adalah sumber kegelapan hati di dunia dan akan menjadi kegelapan di akhirat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya pada Kitab Kezaliman, Bab "Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat". Ini menunjukkan bahwa para ulama hadits menempatkan hadits ini pada bab yang sangat penting, yaitu tentang larangan berbuat zalim.
Makna "Kezaliman" (الظلم):
Secara bahasa, zhulm berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dalam istilah syariat, kezaliman adalah melanggar hak orang lain, baik hak Allah ﷻ maupun hak sesama makhluk. Kezaliman bisa berupa:
- Kezaliman kepada Allah: Syirik, kufur, dan maksiat.
- Kezaliman kepada sesama manusia: Mengambil hak orang lain, menipu, memfitnah, membunuh, mencuri, dan segala bentuk pelanggaran hak.
- Kezaliman kepada diri sendiri: Melakukan perbuatan dosa yang merugikan diri sendiri.
Makna "Kegelapan" (ظُلُمَات):
Para ulama menjelaskan bahwa kegelapan di sini adalah balasan yang setimpal. Sebagaimana orang yang zalim telah "menggelapkan" kehidupan orang lain dengan kezalimannya, maka Allah ﷻ akan menghinakannya dengan kegelapan pada Hari Kiamat. Ini adalah bentuk keadilan Allah yang Maha Bijaksana.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kezaliman adalah salah satu dosa besar yang paling dibenci Allah. Pelaku kezaliman akan mendapatkan kegelapan di akhirat, dan ini adalah peringatan yang sangat serius. Beliau juga menekankan bahwa kezaliman tidak hanya terbatas pada perkara dunia, tetapi juga mencakup kezaliman dalam urusan agama, seperti berbuat bid'ah atau menyimpang dari sunnah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa bahayanya kezaliman. Beliau menegaskan bahwa kezaliman adalah salah satu penyebab utama kehancuran umat-umat terdahulu, dan kita harus berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya.
Perbedaan Pendapat Ulama:
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah "kegelapan" ini bersifat hakiki atau majazi (kiasan). Sebagian ulama seperti Imam Al-Bukhari dan Ibnu Hajar cenderung memahaminya secara hakiki, yaitu benar-benar ada kegelapan yang menimpa orang-orang zalim di Padang Mahsyar. Sementara sebagian ulama lain memahaminya sebagai kiasan dari kesempitan, kesedihan, dan kesusahan yang menimpa pelaku kezaliman. Namun, kedua pendapat ini tidak bertentangan secara substansial, karena keduanya menunjukkan bahwa kezaliman akan mendatangkan akibat yang sangat buruk di akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: "Sesungguhnya orang-orang zalim di dunia, ketika mereka melihat kegelapan pada Hari Kiamat, mereka akan berkata: 'Ya Tuhan kami, kami dahulu di dunia tidak pernah merasakan kegelapan malam karena kami selalu hidup dalam kemewahan dan cahaya. Maka dari mana datangnya kegelapan ini?' Maka dikatakan kepada mereka: 'Inilah balasan kezaliman kalian di dunia.'"
Kisah ini menggambarkan betapa dahsyatnya akibat kezaliman. Orang-orang yang di dunia hidup dengan nyaman dan tidak merasa bersalah atas kezaliman mereka, akan merasakan akibatnya di akhirat dengan sangat nyata. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita untuk selalu menjaga diri dari perbuatan zalim, sekecil apa pun.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi segala bentuk kezaliman, baik kepada Allah, sesama manusia, maupun diri sendiri.
- Segera minta maaf dan kembalikan hak orang lain jika kita pernah berbuat zalim, sebelum datang hari di mana tidak ada lagi penebusan.
- Jadikan hadits ini sebagai pengingat bahwa setiap perbuatan zalim akan menjadi kegelapan di akhirat, sehingga kita selalu berhati-hati dalam bertindak.
- Perbanyak istighfar dan taubat jika kita pernah berbuat zalim, karena Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang bertobat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.