Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 244 tentang Keutamaan dan praktik bersiwak membersihkan gigi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam menggunakan siwak, hingga beliau mengeluarkan suara "u' u'" seperti orang yang hendak muntah karena siwaknya menyentuh tenggorokan. Ini menunjukkan bahwa siwak adalah sunnah yang sangat ditekankan dan dicintai oleh Nabi ﷺ, serta mengajarkan kita untuk tidak malas dalam membersihkan mulut, terlebih ketika hendak beribadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ غَيْلاَنَ بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَوَجَدْتُهُ يَسْتَنُّ بِسِوَاكٍ بِيَدِهِ يَقُولُ " أُعْ أُعْ "، وَالسِّوَاكُ فِي فِيهِ، كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ.

Makna ringkas: Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu datang menemui Nabi ﷺ dan mendapati beliau sedang bersiwak dengan sangat bersungguh-sungguh, sampai mengeluarkan suara seperti orang yang mual.

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman (tentang perintah menjaga kebersihan dan kesucian):

لَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak mensucikan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Ma'idah [5]: 6)

Kaitan dengan ulama: Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa siwak disunnahkan pada setiap keadaan, dan sangat ditekankan ketika hendak shalat, membaca Al-Qur'an, dan ketika mulut berubah bau. Beliau juga menukil kesepakatan ulama tentang keutamaan siwak.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Burdah dari ayahnya, yaitu Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Beliau datang menemui Rasulullah ﷺ dan mendapati beliau sedang bersiwak dengan sangat bersungguh-sungguh. Kata yasutannu artinya beliau menggosokkan siwak ke gigi dan mulutnya. Suara "u' u'" yang keluar dari mulut beliau adalah karena siwaknya masuk cukup dalam hingga menyentuh tenggorokan, sehingga menimbulkan refleks seperti orang yang hendak muntah (yatahawwa').

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran dari hadits ini:

Pertama: Siwak adalah sunnah yang sangat ditekankan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap kebersihan mulut. Beliau tidak sekedar bersiwak, tetapi melakukannya dengan sangat bersungguh-sungguh hingga siwaknya masuk ke bagian dalam mulut.

Kedua: Siwak disunnahkan setiap saat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa siwak disunnahkan pada setiap keadaan, baik sedang berpuasa maupun tidak. Bahkan sebagian ulama dari kalangan Syafi'iyah berpendapat siwak tetap disunnahkan bagi orang yang berpuasa sebelum tergelincir matahari, dan ini adalah pendapat yang kuat.

Ketiga: Siwak adalah sebab dicintai Allah. Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zaad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa siwak mengandung hikmah kebersihan, menghilangkan bau mulut, menguatkan gusi, dan membuat Allah dan malaikat mencintai orang yang menjaganya. Beliau juga menukil bahwa Nabi ﷺ bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

"Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Allah." (HR. An-Nasa'i, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Keempat: Adab menggunakan siwak. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa cara bersiwak yang baik adalah menggosokkan siwak ke seluruh bagian mulut dan gigi, dan tidak mengapa jika siwak masuk hingga ke bagian dalam mulut selama tidak membahayakan. Yang penting adalah membersihkan mulut dengan niat mengikuti sunnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Suatu hari beliau datang menemui Nabi ﷺ dan mendapati beliau sedang bersiwak dengan sangat bersungguh-sungguh. Pemandangan itu begitu membekas di hati Abu Musa, sehingga beliau meriwayatkan hadits ini kepada anaknya, Abu Burdah, dan kemudian tersebar ke seluruh umat Islam hingga hari ini.

Hikmah dari kisah ini: Perhatian Nabi ﷺ terhadap hal-hal yang tampak kecil seperti kebersihan mulut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk hal-hal yang sering dianggap remeh oleh manusia. Ini juga mengajarkan kita bahwa ibadah tidak hanya shalat dan puasa, tetapi juga menjaga kebersihan dan kesucian diri adalah bagian dari keimanan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersiwaklah setiap kali hendak shalat, membaca Al-Qur'an, dan ketika mulut berbau — karena ini adalah sunnah yang sangat ditekankan.
  2. Bersungguh-sungguhlah dalam membersihkan mulut — sebagaimana Nabi ﷺ melakukannya dengan penuh semangat.
  3. Niatkan siwak untuk mengikuti sunnah dan mencari ridha Allah — bukan sekedar kebiasaan.
  4. Ajarkan kebiasaan bersiwak kepada keluarga dan anak-anak — karena ini adalah bagian dari pendidikan adab dan kebersihan dalam Islam.
  5. Jangan meremehkan amalan kecil — karena amalan yang kecil tetapi dilakukan dengan istiqamah dan ikhlas akan besar pahalanya di sisi Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.