Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 2419 tentang Perbedaan bacaan Al-Qur'an dan cara menyikapinya dengan bijak

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terbesar tentang turunnya Al-Qur'an dengan tujuh huruf (ahruf). Maknanya, Al-Qur'an dibacakan dengan beberapa dialek atau ragam bacaan yang berbeda namun tetap sah, sebagai bentuk kemudahan dari Allah ﷻ kepada umat ini. Hadits ini juga mengajarkan adab yang sangat agung: ketika terjadi perselisihan dalam perkara agama, kita harus kembali kepada Rasulullah ﷺ dan tidak terburu-buru menyalahkan orang lain sebelum ada kejelasan.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hijr [15]: 9

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ menjaga Al-Qur'an, dan salah satu bentuk penjagaannya adalah dengan membolehkan beberapa ragam bacaan yang semuanya bersumber dari wahyu.

2. Hadits terkait:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perselisihan, Bab Pembicaraan Para Pihak dalam Perselisihan, no. 2419, dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab) adalah salah satu perawi dalam sanad hadits ini. Beliau dikenal sebagai ulama besar yang sangat teliti dalam periwayatan hadits.
  • Imam Malik bin Anas meriwayatkan hadits ini dalam Al-Muwaththa' dan menjadikannya sebagai dalil tentang sahnya perbedaan qira'at yang mutawatir.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar tentang makna tujuh huruf dan menukil pendapat para ulama, termasuk dari Imam At-Thabari (meski tidak dalam daftar, penjelasan Ibnu Hajar tetap menjadi rujukan utama kita).
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in dan kitab-kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dalam memudahkan umat membaca Al-Qur'an.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menceritakan peristiwa ketika Umar bin Al-Khattab mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca Surat Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Umar. Umar hampir saja bertindak kasar, tetapi ia menahan diri hingga Hisyam selesai. Kemudian Umar membawanya menghadap Rasulullah ﷺ dan mengadukan perbedaan bacaan tersebut.

Rasulullah ﷺ meminta Hisyam untuk membaca, lalu beliau bersabda: "Begitulah ia diturunkan." Kemudian beliau meminta Umar membaca, dan beliau pun bersabda: "Begitulah ia diturunkan." Lalu beliau bersabda:

"Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah yang mudah bagimu."

Makna "tujuh huruf" menurut para ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "tujuh huruf" ini. Namun pendapat yang paling kuat dan dipilih oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam An-Nawawi, dan Syaikh Al-Utsaimin adalah: tujuh huruf berarti tujuh ragam bahasa/dialek Arab yang berbeda dalam pengucapan, seperti perbedaan kata, perbedaan bentuk, perbedaan harakat, dan lain-lain — namun semuanya membawa makna yang sama atau saling melengkapi.

Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/21) menjelaskan bahwa perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan bentuk kemudahan. Beliau menukil dari Imam Al-Khathabi bahwa tujuh huruf ini mencakup perbedaan dalam:

  1. Isim (kata benda) yang berbeda bentuknya
  2. Fi'il (kata kerja) yang berbeda bentuknya
  3. Harakat (baris) yang berbeda
  4. Penambahan dan pengurangan huruf
  5. Perbedaan dalam mendahulukan dan mengakhirkan
  6. Perbedaan dalam penggantian huruf
  7. Perbedaan dalam dialek pengucapan (seperti imalah, tafkhim, tarqiq)

Syaikh Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa perbedaan ini adalah rahmat, bukan untuk dijadikan ajang perselisihan. Beliau menekankan bahwa semua qira'at yang sahih adalah wahyu dari Allah, dan tidak boleh ada yang saling menyalahkan.

Adab yang diajarkan hadits ini:

  1. Tidak terburu-buru menghakimi — Umar menahan diri hingga Hisyam selesai membaca.
  2. Kembali kepada Rasulullah ﷺ — ketika ada perselisihan, rujuklah kepada sumber yang jelas.
  3. Bersikap tegas namun beradab — Umar membawa Hisyam dengan cara yang tegas, tetapi tetap dalam kerangka mencari kebenaran.
  4. Menerima kebenaran — ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa keduanya benar, Umar dan Hisyam menerima dengan lapang dada.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal — semoga Allah merahmatinya — ketika ditanya tentang perbedaan qira'at, beliau berkata: "Janganlah engkau melarang seseorang membaca dengan satu qira'at yang sahih. Perbedaan ini adalah kelapangan dari Allah untuk umat ini." Beliau sangat membenci sikap fanatik terhadap satu qira'at dan menyalahkan qira'at lainnya, karena semua qira'at yang sahih bersumber dari Rasulullah ﷺ.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa para ulama salaf sangat menjaga persatuan umat. Mereka tidak menjadikan perbedaan qira'at sebagai alat perpecahan, justru sebagai bukti keluasan syariat.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa Al-Qur'an yang kita baca sekarang adalah terjaga — semua qira'at yang sahih adalah wahyu dari Allah.
  2. Jangan mudah menyalahkan orang lain dalam perkara yang masih diperselisihkan oleh ulama, terutama dalam masalah qira'at dan furu'iyah.
  3. Kembalikan perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
  4. Jaga adab dalam berdialog — seperti Umar yang menahan diri dan kembali kepada Rasulullah ﷺ.
  5. Bersyukurlah atas kemudahan yang Allah berikan melalui tujuh huruf ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id gratis

Bantu penjelasan AI tetap berjalan

Baca kalimat awal di atas. Lanjutkan dengan donasi seikhlasnya, atau nanti saja.

Donasi