Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 24 tentang Malu adalah bagian dari iman

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa sifat malu (al-haya') bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari iman. Rasulullah ﷺ melarang seseorang melarang saudaranya yang memiliki rasa malu yang berlebihan, karena malu justru mendorong seseorang untuk meninggalkan maksiat dan melakukan kebaikan. Malu adalah cabang iman yang mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. Al-Qashash [28]: 25

فَجَآءَتْهُ إِحْدَىٰهُمَا تَمْشِى عَلَى ٱسْتِحْيَآءٍۢ

Terjemahan: "Kemudian datanglah salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu."

Ayat ini menggambarkan sifat malu sebagai akhlak mulia yang dimiliki oleh wanita salehah, yang merupakan buah dari iman.

2. Hadits Terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 24) dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 36) dari sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

Terjemahan: "Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan."

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (2/6) menjelaskan bahwa malu adalah akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan buruk dan mencegah dari kekurangan hak orang lain. Ini adalah sifat yang lahir dari iman yang kuat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (1/52) menukil perkataan Al-Khattabi bahwa malu adalah sifat yang mendorong pemiliknya untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Ini adalah cabang dari iman.
  • Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/144) menjelaskan bahwa malu adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Malu yang terpuji adalah yang mencegah dari maksiat, bukan yang menghalangi dari kebenaran.

Penjelasan Rinci

Hadits ini terjadi ketika Rasulullah ﷺ melewati seorang laki-laki Ansar yang sedang menasihati saudaranya yang memiliki rasa malu yang sangat besar. Orang Ansar itu berkata, "Sesungguhnya engkau terlalu malu hingga menyusahkan dirimu sendiri." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Biarkan dia, karena malu itu adalah bagian dari iman."

Makna Malu (al-Haya') Menurut Ulama:

  1. Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata: "Malu itu ada dua: malu kepada Allah dan malu kepada manusia. Malu kepada Allah adalah engkau menjaga diri dari apa yang Allah haramkan, dan malu kepada manusia adalah engkau menjaga diri dari apa yang mereka cela."
  2. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin (2/294) menjelaskan bahwa malu adalah akhlak yang paling mulia. Ia adalah sifat yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan segala yang buruk dan jelek. Malu adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh.
  3. Imam asy-Syafi'i (w. 204 H) berkata: "Malu adalah akhlak yang mulia. Barangsiapa yang tidak memiliki malu, maka ia tidak memiliki iman yang sempurna."

Mengapa Malu Termasuk Iman?

Para ulama menjelaskan bahwa malu termasuk iman karena:

  • Malu mendorong seseorang untuk meninggalkan maksiat karena takut kepada Allah.
  • Malu mencegah seseorang dari berbuat zalim dan buruk kepada sesama.
  • Malu adalah sifat yang lahir dari rasa takut kepada Allah dan pengagungan terhadap-Nya.

Perbedaan Malu yang Terpuji dan Tercela:

  • Malu terpuji: Malu yang mencegah dari maksiat dan mendorong kepada kebaikan. Contoh: malu berbuat dosa di hadapan Allah, malu melanggar hak orang lain.
  • Malu tercela: Malu yang menghalangi seseorang dari menuntut ilmu, menyampaikan kebenaran, atau melakukan kebaikan yang wajib. Ini bukanlah malu yang dimaksud dalam hadits.

Imam an-Nawawi menegaskan bahwa malu yang dimaksud dalam hadits adalah malu yang menjadi tabiat asli seseorang, bukan hasil usaha. Namun, jika malu itu menghalangi dari kewajiban agama, maka itu tercela.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah ﷺ melewati seorang laki-laki Ansar yang sedang menasihati saudaranya tentang malu. Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Biarkan dia, karena malu itu adalah bagian dari iman.'" (HR. al-Bukhari no. 24)

Hikmah dari Kisah Ini:

  • Rasa malu yang berlebihan pada seseorang janganlah dilarang, karena itu adalah tanda iman.
  • Malu yang mendorong seseorang untuk meninggalkan maksiat adalah akhlak mulia.
  • Jangan memaksa orang untuk mengubah sifat malunya jika itu mencegahnya dari keburukan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meremehkan sifat malu, karena malu adalah bagian dari iman.
  2. Latihlah rasa malu kepada Allah dengan meninggalkan maksiat dan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.
  3. Jadikan malu sebagai pengendali diri agar tidak berbuat zalim, kasar, atau melanggar hak orang lain.
  4. Hindari malu yang tercela, yaitu malu yang menghalangi dari menuntut ilmu, menyampaikan kebenaran, atau melakukan kewajiban agama.
  5. Didik anak-anak dengan sifat malu, karena malu adalah perhiasan iman yang akan menjaga mereka dari perbuatan buruk.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.