Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menyewa seorang pemandu jalan (yang saat itu masih kafir) untuk perjalanan hijrah, dengan kesepakatan waktu dan upah yang jelas. Hadits ini menjadi dalil bahwa akad sewa (ijarah) boleh dilakukan dengan menentukan waktu tertentu di masa depan, dan boleh pula bermuamalah dengan non-Muslim selama tidak menyangkut urusan agama. Para ulama seperti Imam Al-Bukhari, Ibnu Hajar, dan Imam An-Nawawi menjadikan hadits ini sebagai landasan dalam bab ijarah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Qashash [28]: 26
فَقَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Terjemahan: "Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata: 'Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.'"
Ayat ini menunjukkan prinsip dasar ijarah (sewa/upah) yang telah dikenal sejak masa Nabi Syu'aib 'alaihissalam, yaitu mempekerjakan orang yang memiliki kemampuan dan amanah.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ijarah (Sewa), nomor 2264, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Jalur periwayatan: Yahya bin Bukair → Al-Laits → 'Uqail → Ibnu Syihab (Az-Zuhri) → 'Urwah bin Az-Zubair → 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan lafaz yang semakna.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Al-Ijarah, menunjukkan bahwa beliau memandangnya sebagai dalil utama dalam bab sewa-menyewa.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak faedah fiqih, di antaranya bolehnya menentukan waktu ijarah di masa depan dan bolehnya mengambil non-Muslim sebagai pekerja selama amanah.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menyewa orang kafir sebagai pemandu jalan selama tidak ada unsur pengkhianatan terhadap agama.
Penjelasan Rinci
1. Konteks hadits — kisah hijrah:
Hadits ini merupakan potongan dari kisah hijrah Nabi ﷺ bersama Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Setelah keluar dari Makkah dan bersembunyi di Gua Tsur selama tiga malam, Nabi ﷺ dan Abu Bakar menyewa seorang pemandu jalan bernama Abdullah bin Uraiqith dari Bani Ad-Dail. Meskipun saat itu ia masih mengikuti agama kafir Quraisy, Nabi ﷺ mempercayakannya sebagai pemandu karena keahliannya dalam mengetahui jalur-jalur tersembunyi menuju Madinah.
2. Pemahaman ulama tentang ijarah dengan waktu tertentu:
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya akad ijarah dengan menentukan waktu tertentu di masa depan. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ dan Abu Bakar membuat perjanjian dengan pemandu tersebut untuk bertemu di Gua Tsur pada pagi hari ketiga. Ini menunjukkan bahwa:
- Akad ijarah boleh dilakukan untuk pekerjaan yang akan datang pada waktu yang disepakati.
- Upah dan waktu penyerahan harus jelas dan disepakati bersama.
- Kedua belah pihak wajib menunaikan kesepakatan tersebut.
3. Bermuamalah dengan non-Muslim:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama mengambil faedah dari hadits ini bahwa boleh hukumnya menyewa atau mempekerjakan orang kafir selama pekerjaan tersebut tidak berkaitan dengan urusan agama Islam dan tidak mengandung pengkhianatan. Ini sejalan dengan kaidah fiqih yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya bahwa muamalah duniawi dengan non-Muslim diperbolehkan selama tidak ada unsur yang merusak agama.
4. Sifat amanah dan keahlian (khirrit):
Kata "خِرِّيتًا" (khirritan) dalam hadits ini bermakna pemandu jalan yang sangat mahir dan berpengalaman. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memilih orang ini karena keahliannya, meskipun ia belum masuk Islam. Ini menunjukkan bahwa dalam urusan duniawi, keahlian dan amanah menjadi pertimbangan utama, bukan hanya faktor agama.
5. Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah boleh menyewa orang kafir untuk pekerjaan yang berkaitan dengan kaum Muslimin. Namun, mayoritas ulama dari kalangan empat mazhab — sebagaimana disebutkan Ibnu Qudamah (yang merupakan ulama dalam daftar) — membolehkan selama tidak ada unsur bahaya bagi kaum Muslimin. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang membolehkan, berdasarkan dalil tegas dari hadits ini.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu bersiap untuk hijrah, mereka mencari pemandu yang benar-benar mengetahui jalur-jalur rahasia menuju Madinah. Mereka memilih Abdullah bin Uraiqith, seorang pemuda dari Bani Ad-Dail yang saat itu masih mengikuti agama kafir Quraisy. Meskipun demikian, Nabi ﷺ mempercayakan dua unta terbaik mereka kepadanya dan membuat janji untuk bertemu di Gua Tsur pada pagi hari ketiga.
Abdullah bin Uraiqith menepati janjinya. Ia datang tepat waktu dengan dua unta tersebut, lalu memandu Nabi ﷺ dan Abu Bakar melalui jalur yang tidak biasa dilalui orang, sehingga mereka selamat dari kejaran kaum Quraisy. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kejujuran dan amanah bisa dimiliki siapa saja, dan Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita untuk menghargai keahlian seseorang tanpa memandang latar belakang agamanya dalam urusan duniawi.
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kisah ini juga mengandung pelajaran tentang pentingnya perencanaan yang matang dalam perjalanan dakwah, serta tawakkal kepada Allah setelah melakukan usaha maksimal.
Kesimpulan Praktis
- Bolehnya akad ijarah dengan waktu yang ditentukan di masa depan — seperti menyewa pekerja untuk bekerja setelah beberapa hari, bulan, atau tahun, selama waktu dan upahnya jelas dan disepakati.
- Bolehnya bermuamalah dengan non-Muslim dalam urusan duniawi seperti sewa-menyewa, jual-beli, dan pekerjaan, selama tidak mengandung unsur yang merusak agama dan tidak ada pengkhianatan.
- Keahlian dan amanah adalah pertimbangan utama dalam memilih pekerja atau mitra kerja, bukan semata-mata faktor agama.
- Wajib menunaikan kesepakatan — baik bagi pemberi kerja maupun pekerja, sebagaimana Nabi ﷺ dan Abu Bakar menepati janji mereka, dan Abdullah bin Uraiqith juga menepati janjinya.
- Perencanaan yang matang disertai tawakkal — Nabi ﷺ merencanakan hijrah dengan detail, termasuk menyewa pemandu ahli, lalu bertawakkal kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.