Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 217 tentang Adab membersihkan diri setelah buang hajat dengan air

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terbiasa beristinja' (membersihkan diri setelah buang air) dengan menggunakan air. Ini adalah salah satu cara bersuci yang diajarkan dalam Islam, selain menggunakan batu atau benda padat lainnya. Hadits ini juga menggambarkan kedekatan Anas bin Malik dengan Nabi ﷺ dan bagaimana para sahabat melayani kebutuhan beliau dengan penuh cinta dan keikhlasan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Wudhu', Bab "Maa Jaa'a fi Ghasli Al-Baul" (Bab Apa yang Dikatakan tentang Mencuci Air Kencing), no. 217. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Ath-Thaharah, no. 271, dari jalur yang sama.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

(QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Ayat ini menunjukkan keutamaan kebersihan dan kesucian, yang salah satu penerapannya adalah beristinja' dengan air.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Atho' bin Abi Rabah (salah satu perawi hadits ini) dan Al-Hasan Al-Bashri, memahami bahwa istinja' dengan air adalah perkara yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ dan merupakan bagian dari fitrah dan kesucian. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya beristinja' dengan air, dan ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau menceritakan kebiasaan beliau yang mulia: "Kāna an-Nabiyyu ﷺ idzā tabaraza li hājatihi ataytuhu bi mā'in fa yaghsilu bih." Artinya: "Setiap kali Nabi ﷺ pergi untuk memenuhi kebutuhan alamiahnya, aku membawakan air, lalu beliau membersihkan diri dengannya."

Poin-poin penting dari hadits ini:

  1. Disyariatkannya Istinja' dengan Air: Hadits ini menunjukkan bahwa beristinja' dengan air adalah perbuatan yang dicontohkan Nabi ﷺ. Para ulama sepakat bahwa istinja' dengan air adalah cara yang paling sempurna dan paling utama dalam bersuci dari najis. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa beristinja' dengan air adalah lebih utama daripada dengan batu, karena air lebih sempurna dalam menghilangkan najis.
  2. Bolehnya Menggunakan Air dan Batu: Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah cukup dengan batu saja atau harus dengan air. Mayoritas ulama, di antaranya Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, berpendapat bahwa beristinja' dengan batu (atau benda padat sejenisnya) itu boleh dan sah, namun beristinja' dengan air itu lebih utama dan lebih sempurna. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang beristinja' dengan air dan terkadang dengan batu, untuk mengajarkan bahwa keduanya dibolehkan.
  3. Adab Pelayanan kepada Orang Tua dan Guru: Hadits ini juga mengajarkan adab yang mulia, yaitu melayani kebutuhan orang tua, guru, atau pemimpin dengan ikhlas. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dengan senang hati melayani Nabi ﷺ, dan ini menjadi teladan bagi kita dalam berbakti dan melayani orang-orang yang lebih tua atau lebih berilmu.
  4. Kebersihan adalah Bagian dari Iman: Perhatian Nabi ﷺ terhadap kebersihan diri, bahkan dalam hal yang paling pribadi sekalipun, menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menyebutkan bahwa kebersihan lahiriah adalah cerminan dari kebersihan batiniah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu adalah seorang anak kecil ketika ibunya, Ummu Sulaim, menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ untuk menjadi pelayan beliau. Anas tinggal bersama Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, dan selama itu ia melayani berbagai kebutuhan beliau, termasuk membawakan air untuk beristinja'.

Dalam riwayat lain, Anas berkata: "Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata kepadaku 'Uff' (kata kasar karena tidak suka) dan tidak pernah berkata tentang sesuatu yang aku lakukan, 'Mengapa kamu lakukan ini?' dan tidak pernah pula berkata tentang sesuatu yang tidak aku lakukan, 'Mengapa kamu tidak lakukan ini?'" (HR. Al-Bukhari, no. 6038)

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa melayani orang lain dengan ikhlas, terutama orang tua, guru, atau ulama, adalah perbuatan yang mulia dan dicintai Allah. Anas bin Malik mendapatkan keberkahan yang besar karena pengabdiannya kepada Nabi ﷺ, dan ia menjadi salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersuci dengan air adalah cara yang paling utama dalam beristinja', dan ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang mulia.
  2. Jika tidak ada air, dibolehkan menggunakan batu atau tisu (benda padat yang suci) sebanyak tiga kali atau hingga bersih, sebagaimana diajarkan dalam hadits-hadits lain.
  3. Menjaga kebersihan adalah bagian dari iman dan merupakan ciri seorang muslim yang baik.
  4. Melayani orang tua, guru, dan ulama dengan ikhlas adalah amal yang mulia dan mendatangkan keberkahan.
  5. Meneladani Nabi ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk hal-hal yang kecil dan pribadi, adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.