Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa bekerja mencari rezeki dengan tangan sendiri—walau pekerjaan itu tampak rendah seperti mencari kayu bakar—jauh lebih mulia daripada meminta-minta kepada orang lain. Islam memuliakan usaha dan mencela sifat mengemis yang tidak perlu. Nabi ﷺ mendorong setiap muslim untuk mandiri dan tidak menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jual Beli, Bab Penghasilan Seorang Pria dan Pekerjaannya dengan Tangan, dari sahabat Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ أَحْبُلَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ
"Sungguh, salah seorang dari kalian mengambil tali (tambang)nya itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia."
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan bekerja dan larangan meminta-minta:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
QS. At-Taubah [9]: 105
"Dan katakanlah: 'Bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.'"
Juga firman Allah:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ
QS. Al-Mulk [67]: 15
"Dialah yang menjadikan bumi untuk kalian agar mudah dijelajahi, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya."
Penjelasan Rinci
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang penghasilan seseorang dari pekerjaan tangannya sendiri, menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai dalil keutamaan bekerja dan tercelanya meminta-minta.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dorongan untuk bekerja dan menjauhi meminta-minta tanpa kebutuhan. Beliau menyebutkan bahwa kata "أَحْبُلَهُ" (tali/tambangnya) menunjukkan pekerjaan paling sederhana sekalipun—yaitu mencari kayu bakar—lebih baik daripada meminta kepada orang lain. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan bukan pada jenis pekerjaan, tetapi pada usaha dan kemandirian.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits semakna menyatakan bahwa hadits ini merupakan dalil tegas bahwa pekerjaan dengan tangan—walau berat dan rendah menurut pandangan manusia—lebih utama daripada meminta-minta. Beliau juga menegaskan bahwa meminta-minta tanpa darurat adalah perkara yang tercela dalam syariat.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menyebut "mengambil tali" sebagai gambaran usaha mandiri, dan ini mencakup semua bentuk pekerjaan halal. Beliau menekankan bahwa seorang muslim hendaknya menjaga kehormatan dirinya dengan bekerja, bukan dengan mengulurkan tangan kepada manusia.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam penjelasannya tentang ayat-ayat rezeki menegaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha dan berjalan di muka bumi mencari rezeki, dan bahwa tawakkal yang benar adalah disertai usaha, bukan meninggalkan usaha.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan bekerja dan bahwa meminta-minta kepada manusia tanpa kebutuhan adalah kehinaan. Beliau juga menyebutkan bahwa pekerjaan yang halal—walau tampak rendah—lebih baik daripada kedudukan yang diperoleh dengan cara meminta.
Para ulama sepakat bahwa meminta-minta hukumnya haram atau paling tidak makruh bagi yang mampu bekerja. Perbedaan pendapat hanya pada derajat larangannya: sebagian menyatakan haram jika tanpa kebutuhan, sebagian menyatakan makruh. Namun yang paling kuat—sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi—adalah bahwa meminta-minta tanpa darurat adalah terlarang, dan bekerja adalah kewajiban bagi yang mampu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu—salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga—adalah seorang yang sangat gigih bekerja. Beliau dikenal sebagai pedagang dan pekerja keras. Meskipun beliau memiliki kedudukan mulia di sisi Nabi ﷺ, beliau tidak pernah menggantungkan diri pada orang lain. Ketika Nabi ﷺ menyampaikan hadits ini, Az-Zubair sendiri adalah teladan nyata dari semangat mandiri yang diajarkan.
Dalam riwayat lain yang shahih, Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabat bahwa seorang yang membawa tali dan mencari kayu bakar, lalu bersedekah dari hasilnya, lebih baik daripada meminta-minta kepada orang yang kaya maupun miskin. Para sahabat memahami bahwa kemuliaan seorang muslim terletak pada usaha dan kehormatan dirinya, bukan pada pemberian orang lain.
Imam Al-Bukhari sendiri—sebagaimana disebutkan dalam biografinya—adalah contoh ulama yang bekerja dan berdagang, bukan hanya duduk menerima pemberian. Beliau menempatkan hadits ini dalam kitab jual beli untuk mengajarkan bahwa usaha ekonomi adalah bagian dari ajaran Islam.
Kesimpulan Praktis
- Bekerjalah dengan tangan sendiri walau pekerjaan itu tampak sederhana, karena itu lebih mulia daripada meminta-minta.
- Jaga kehormatan diri dengan tidak mengulurkan tangan kepada manusia selama masih mampu berusaha.
- Jangan meremehkan pekerjaan halal apa pun jenisnya—mencari kayu, berdagang, bertani, atau pekerjaan lainnya—selama itu halal dan tidak melanggar syariat.
- Bersikap tawadhu dan tidak sombong dengan pekerjaan atau penghasilan, karena semua rezeki dari Allah.
- Hindari meminta-minta tanpa darurat, dan jika terpaksa meminta, lakukan dengan adab dan hanya sebatas kebutuhan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.