Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa para sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang bekerja dengan tangan mereka sendiri. Karena pekerjaan itu, tubuh mereka berkeringat dan terkadang menimbulkan bau. Lalu ada yang menyarankan agar mereka mandi. Hadits ini menunjukkan keutamaan bekerja dan betapa sederhananya kehidupan para sahabat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Jual Beli, Bab Penghasilan Seorang Pria dan Pekerjaannya dengan Tangan, nomor 2071. Perawi dari kalangan sahabat adalah Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Teks hadits:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو الأَسْوَدِ، عَنْ عُرْوَةَ، قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ ـ رضى الله عنها ـ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عُمَّالَ أَنْفُسِهِمْ، وَكَانَ يَكُونُ لَهُمْ أَرْوَاحٌ فَقِيلَ لَهُمْ لَوِ اغْتَسَلْتُمْ. رَوَاهُ هَمَّامٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ.
Terjemahan: Diriwayatkan dari Aisyah: Para sahabat Rasulullah ﷺ biasa melakukan pekerjaan manual, sehingga keringat mereka berbau, dan mereka disarankan untuk mandi.
Hadits ini juga memiliki kaitan dengan ayat Al-Qur'an tentang keutamaan bekerja dan mencari rezeki yang halal, di antaranya:
QS. Al-Jumu'ah [62]: 10
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Terjemahan: "Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk mencari rezeki yang halal setelah menunaikan ibadah, dan ini menunjukkan bahwa bekerja adalah bagian dari ketaatan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:
- Keutamaan bekerja dengan tangan sendiri: Para sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang mulia, namun mereka tidak segan bekerja keras dengan tangan mereka sendiri. Mereka tidak menggantungkan hidup pada orang lain. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab "Penghasilan Seorang Pria dan Pekerjaannya dengan Tangan", yang menunjukkan bahwa beliau ingin menegaskan bahwa bekerja dengan tangan adalah jalan yang terhormat.
- Kesederhanaan hidup sahabat: Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menggambarkan bahwa para sahabat memiliki "arwah" (bau keringat) karena pekerjaan mereka. Ini menunjukkan betapa sederhananya kehidupan mereka, tidak ada kemewahan, dan mereka tidak malu dengan kondisi fisik mereka yang lelah dan berkeringat.
- Anjuran menjaga kebersihan: Dalam hadits ini, ada saran kepada para sahabat untuk mandi. Ini menunjukkan bahwa Islam memperhatikan kebersihan, terutama ketika berinteraksi dengan orang lain. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mandi di sini hukumnya sunnah, bukan wajib, karena tujuannya menghilangkan bau yang mengganggu.
- Pemahaman ulama tentang hadits ini:
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat bekerja sendiri, tidak ada yang menjadi beban orang lain. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah dalil bahwa pekerjaan tangan lebih utama daripada meminta-minta.
- Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini mendorong umat Islam untuk bekerja dan tidak malas, serta menjaga kebersihan diri.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat adalah teladan dalam bekerja dan bersahaja, dan bahwa keringat mereka bukanlah aib, melainkan bukti usaha mereka.
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang makna hadits ini. Mereka sepakat bahwa hadits ini memuji kerja keras dan kesederhanaan para sahabat, serta menganjurkan kebersihan.
Story Telling
Diceritakan bahwa suatu ketika, seorang sahabat datang kepada Nabi ﷺ dengan tangan yang kasar dan berkapur karena bekerja sebagai tukang batu. Nabi ﷺ melihat tangannya dan bersabda bahwa tangan seperti itu dicintai Allah. Kisah ini diriwayatkan dalam berbagai riwayat, meskipun tidak disebutkan secara spesifik dalam hadits di atas, namun maknanya sejalan dengan hadits Aisyah ini. Para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum semuanya pernah bekerja dengan tangan mereka sendiri. Abu Bakar adalah seorang pedagang kain, Umar pernah menjadi penggembala, dan Ali bekerja sebagai buruh. Mereka tidak merasa hina dengan pekerjaan tersebut.
Hikmahnya adalah bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada jabatan atau kekayaan, tetapi pada ketakwaan dan usaha halal yang dilakukannya.
Kesimpulan Praktis
- Bekerja dengan tangan sendiri adalah pekerjaan yang mulia dan dicintai Allah.
- Jangan malu dengan pekerjaan yang halal, meskipun itu membuat kita berkeringat atau kotor.
- Jagalah kebersihan diri, terutama ketika berinteraksi dengan orang lain, karena Islam mencintai kebersihan.
- Teladani kesederhanaan para sahabat Nabi ﷺ dalam menjalani hidup.
- Hindari meminta-minta jika masih mampu bekerja.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.