Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa silaturahmi adalah amalan yang mendatangkan dua keutamaan besar di dunia: diluaskannya rezeki dan dipanjangkannya umur. Ini adalah janji langsung dari Nabi ﷺ yang didasarkan pada keutamaan menjaga hubungan kekeluargaan. Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk selalu menyambung tali silaturahmi, bukan memutuskannya, karena di dalamnya terdapat keberkahan hidup.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
(QS. An-Nisa' [4]: 1)
Terjemahan: "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."
Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jual Beli, Bab Man Sarrahu an Yubsata Lahu Rizquhu, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Lafadz lengkapnya:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa yang ingin rizkinya diperluas dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Al-Bukhari no. 2067)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Al-Bukhari sendiri (w. 256 H) adalah ulama besar yang mengumpulkan hadits ini dalam kitabnya. Beliau menempatkan hadits ini di bab yang secara khusus membahas tentang keutamaan silaturahmi dalam konteks rezeki dan umur. Hal ini menunjukkan perhatian para ulama terhadap pemahaman bahwa amal saleh, khususnya silaturahmi, memiliki dampak langsung pada kehidupan dunia.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung dua janji besar bagi orang yang menyambung silaturahmi:
- Diluaskannya Rezeki (يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ): Maknanya adalah Allah akan melapangkan dan memberkahi rezeki orang tersebut. Rezeki tidak selalu berarti harta yang banyak, tetapi bisa berupa kemudahan, keberkahan, dan kecukupan. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "diluaskan" adalah diberkahi dan ditambah. Ini adalah bentuk karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang menjaga hubungan baik dengan kerabatnya.
- Dipanjangkannya Umur (يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ): Secara bahasa, "yunsa'a lahu fi atsarihi" berarti diakhirkan ajalnya. Ini adalah rahasia Allah. Para ulama, seperti Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa maksudnya adalah umurnya diberkahi sehingga ia bisa melakukan banyak kebaikan, atau ajalnya benar-benar diundur karena silaturahmi. Ini adalah bentuk takdir yang bisa berubah karena doa dan amal saleh, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebaikan." (HR. At-Tirmidzi, hasan).
Pemahaman Ulama:
- Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa silaturahmi adalah amalan yang paling utama setelah iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya. Beliau menekankan bahwa silaturahmi bukan hanya sekedar mengunjungi, tetapi juga saling menasihati, membantu, dan menjaga hubungan hati.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menegaskan bahwa silaturahmi adalah sebab turunnya rahmat dan keberkahan Allah. Beliau mengaitkan hal ini dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra'd [13]: 21 yang memuji orang-orang yang menyambung apa yang diperintahkan Allah untuk disambung (yaitu silaturahmi).
Perbedaan Pendapat: Secara umum, tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama Ahlus Sunnah tentang keutamaan silaturahmi. Namun, ada perbedaan dalam memahami makna "dipanjangkan umur". Sebagian ulama seperti Al-Khattabi dan Al-Qurthubi berpendapat bahwa ini adalah majaz (kiasan) yang berarti diberkahi waktunya, bukan bertambahnya usia secara hakiki. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipegang oleh jumhur ulama termasuk Ibnu Hajar dan An-Nawawi, adalah bahwa ini bisa terjadi secara hakiki, karena Allah Maha Kuasa untuk mengubah takdir dengan sebab amal saleh.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia memiliki seorang saudara dari kalangan Anshar. Suatu hari, ia mendengar bahwa saudaranya itu sedang sakit. Maka ia pun segera mengunjunginya. Setelah sampai, ia duduk di sampingnya dan bertanya tentang keadaannya. Saudaranya itu berkata, "Aku sangat senang engkau datang, wahai Abdullah. Aku bermimpi melihat Rasulullah ﷺ, dan beliau bersabda kepadaku, 'Wahai fulan, sambunglah silaturahmi, niscaya Allah akan memanjangkan umurmu dan meluaskan rezekimu.'" (Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd dengan sanad yang hasan).
Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya amalan yang diperintahkan, tetapi juga menjadi sebab datangnya kabar gembira dan keberkahan dalam hidup. Abdullah bin Umar, yang dikenal sangat menjaga silaturahmi, adalah contoh nyata bagaimana amalan ini membawa kebaikan di dunia dan akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan karena Allah: Lakukan silaturahmi semata-mata karena ingin mendapatkan ridha dan janji Allah.
- Mulai dari yang terdekat: Jangan hanya menunggu dikunjungi, tetapi mulailah untuk mengunjungi, menelepon, atau sekadar mengirim pesan kepada kerabat, terutama yang sudah lama tidak berkomunikasi.
- Jangan memutus: Hindari memutuskan tali silaturahmi karena alasan duniawi. Maafkan kesalahan kecil dan utamakan persaudaraan.
- Yakinlah pada janji Allah: Percayalah bahwa dengan menyambung silaturahmi, Allah akan meluaskan rezeki dan memberkahi umur kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.