Penjelasan Hadits Bukhari No. 2064 tentang Larangan meninggalkan shalat karena urusan dunia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kejadian nyata di zaman Nabi ﷺ: ketika sedang shalat Jum'at, datang kafilah dagang, lalu banyak sahabat meninggalkan shalat untuk menyambut dagangan, kecuali dua belas orang. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya QS. Al-Jumu'ah [62]: 11, sebagai teguran halus bahwa urusan dunia tidak boleh mengalahkan kewajiban kepada Allah. Pelajarannya: jaga shalat dan majelis ilmu dari godaan dunia.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Jumu'ah [62]: 11

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Terjemahan ringkas: "Dan apabila mereka melihat perdagangan atau hiburan, mereka segera pergi kepadanya dan meninggalkanmu berdiri (di atas mimbar). Katakanlah: 'Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada hiburan dan perdagangan, dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki.'"

Hadits terkait

Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Jual Beli, no. 2064. Al-Bukhari juga meriwayatkannya di beberapa tempat lain, dan Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dari Jabir.

Kaitan dengan ulama

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini sebagai dalil bahwa sebab turunnya ayat adalah peristiwa konkret, dan beliau membahas jumlah dua belas orang yang tetap bertahan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa kejadian ini menunjukkan betapa sebagian sahabat tergoda urusan dagang, namun Allah menegur dengan lembut.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai teguran bahwa rezeki di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits

Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ sedang berkhutbah atau shalat Jum'at, datang kafilah dagang dari Syam. Orang-orang keluar menyambutnya karena mengharapkan keuntungan dagang, sehingga hanya dua belas orang yang tetap bersama Nabi ﷺ. Lalu turunlah ayat 11 Surah Al-Jumu'ah sebagai teguran.

Bagaimana ulama memahami

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi berulang — ada riwayat yang menyebut kejadian serupa beberapa kali, dan ayat ini turun sebagai koreksi. Beliau juga menegaskan bahwa meskipun para sahabat yang keluar tidak dihukumi munafik, perbuatan mereka tetap tercela karena meninggalkan kewajiban.

Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan: urusan duniawi — walau halal seperti dagang — tidak boleh mengalahkan ibadah wajib. Allah menyebut "apa yang di sisi Allah lebih baik", yaitu pahala dan rezeki yang Allah jamin.

Imam an-Nawawi menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian salaf terhadap majelis Nabi ﷺ, dan menjadi peringatan bagi umat setelahnya agar tidak mengulangi kelalaian serupa.

Perbedaan pendapat

Sebagian ulama membahas apakah yang ditinggalkan itu shalat Jum'at secara keseluruhan atau hanya khutbah. Namun yang paling kuat menurut dalil: mereka meninggalkan shalat/kegiatan Jum'at secara tidak sempurna, dan ini tercela. Tidak ada perbedaan di antara ulama daftar bahwa perbuatan itu adalah kelalaian yang ditegur Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika kafilah dagang itu datang, kota Madinah sedang dilanda paceklik dan harga mahal. Maka ketika terdengar suara kafilah datang, orang-orang bergegas keluar — sebagian bahkan saat Nabi ﷺ masih berdiri berkhutbah. Hanya dua belas orang yang tetap duduk, di antaranya Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma. Melihat itu, Nabi ﷺ bersabda dengan lembut, dan turunlah ayat yang menegur. Sejak itu, para sahabat sangat menjaga majelis Nabi ﷺ. Hikmahnya: ujian dunia sering datang saat kita sedang beribadah, dan kesabaran di saat itu adalah tanda keimanan yang kuat. (Riwayat ini disebutkan Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir, dan dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.)

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat wajib, terutama Jum'at — jangan tinggalkan karena urusan dagang atau hiburan.
  2. Prioritaskan akhirat di atas dunia; rezeki sudah dijamin Allah.
  3. Jangan meremehkan majelis ilmu dan khutbah — itu bagian dari ibadah.
  4. Bertaubat jika tergoda — para sahabat pun pernah tergoda, namun mereka kembali dan Allah mengampuni.
  5. Ingat ayat ini saat godaan dunia datang di waktu ibadah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?