Penjelasan Hadits Bukhari No. 2036 tentang Mencari Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah beritikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadan, lalu beliau diberitahu tentang Lailatul Qadr namun dilupakan, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Tanda yang beliau sebutkan — sujud di tanah dan air — benar-benar terjadi sebagai bukti kebenaran sabda beliau. Hadits ini juga menunjukkan disyariatkannya itikaf dan keutamaan mencari Lailatul Qadr dengan ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Qadr [97]: 1-3

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab I'tikaf, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil utama tentang anjuran mencari Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil.

Penjelasan Rinci

1. Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  • Disyariatkannya itikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Nabi ﷺ melakukannya pada sepuluh hari pertengahan Ramadan, kemudian berpindah ke sepuluh hari terakhir.
  • Lailatul Qadr benar adanya, dan Nabi ﷺ diberitahu tentang waktunya namun dilupakan (dinisahkan) oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah menyembunyikan waktunya agar hamba-Nya bersungguh-sungguh mencarinya di setiap malam sepuluh terakhir.
  • Perintah mencari pada malam ganjil (malam ke-21, 23, 25, 27, 29) di sepuluh malam terakhir Ramadan.
  • Mukjizat Nabi ﷺ: beliau mengabarkan akan sujud di tanah dan air, dan hal itu benar-benar terjadi pada malam ke-21 sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain.

2. Pemahaman para ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr bisa berpindah-pindah antar malam, dan tidak selalu tetap pada satu malam tertentu. Beliau juga menyebutkan bahwa hikmah dilupakannya waktu Lailatul Qadr adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam saja.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa itikaf disunnahkan dan waktunya paling utama adalah sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau juga menegaskan bahwa mencari Lailatul Qadr adalah ibadah yang sangat dianjurkan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah malam yang penuh berkah, di mana Al-Qur'an diturunkan dan para malaikat turun. Beliau menekankan bahwa menghidupkan malam tersebut dengan ibadah adalah tanda keimanan dan keinginan kuat untuk mendapatkan ampunan Allah.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, bahkan sebagian mereka mandi dan memakai wangi-wangian untuk menyambut malam-malam tersebut.

3. Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang malam pasti Lailatul Qadr. Sebagian mengatakan malam ke-27 (berdasarkan hadits Ubay bin Ka'b), sebagian mengatakan malam ke-21 (berdasarkan hadits ini yang menyebutkan sujud di tanah dan air terjadi pada pagi ke-21), dan sebagian mengatakan berpindah-pindah setiap tahun. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa Lailatul Qadr berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil sepuluh terakhir, dan seorang Muslim hendaknya bersungguh-sungguh di semua malam tersebut.

Story Telling

Dikisahkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu — sebagaimana dalam hadits ini — bahwa para sahabat sedang beritikaf bersama Nabi ﷺ pada sepuluh hari pertengahan Ramadan. Pada pagi hari ke-20, Nabi ﷺ keluar dan berkhutbah, memberitahu bahwa beliau telah diberitahu tentang Lailatul Qadr namun lupa, dan memerintahkan mereka kembali beritikaf untuk mencari malam tersebut di sepuluh malam terakhir, khususnya malam ganjil.

Saat itu langit cerah, tidak ada awan sedikit pun. Para sahabat pun kembali ke masjid. Tiba-tiba datang awan dan hujan turun. Ketika shalat ditegakkan, Nabi ﷺ sujud di tanah yang basah dan berlumpur. Abu Sa'id berkata, "Aku melihat tanah dan air di dahi dan hidung Nabi ﷺ." Ini adalah bukti nyata kebenaran sabda beliau, dan menjadi tanda bahwa malam itu adalah Lailatul Qadr — yaitu malam ke-21.

Hikmah: Allah menyembunyikan waktu Lailatul Qadr agar hamba-Nya bersungguh-sungguh beribadah, bukan hanya mengandalkan satu malam. Nabi ﷺ pun menunjukkan kesungguhan beliau dengan beritikaf dan beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah: shalat malam, tilawah Al-Qur'an, dzikir, doa, dan istighfar.
  2. Fokuskan pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29) karena kemungkinan besar Lailatul Qadr ada di sana.
  3. Lakukan itikaf jika mampu, karena Nabi ﷺ melakukannya dan ini adalah sunnah yang agung.
  4. Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, terutama doa: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku).
  5. Jangan hanya mengandalkan satu malam, tetapi bersungguh-sungguhlah di semua malam sepuluh terakhir, karena bisa jadi Lailatul Qadr berpindah-pindah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?