Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa malam Qadar berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan, dan Nabi ﷺ memberi isyarat bahwa ia bisa jatuh pada malam ke-21 (sembilan malam tersisa), malam ke-23 (tujuh malam tersisa), atau menurut sebagian riwayat pada malam ke-24. Karena itu, seorang muslim dianjurkan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya satu malam tertentu, agar tidak kehilangan keutamaannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Qadr [97]: 1
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Qadar."
QS. Al-Qadr [97]: 3
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Terjemahan: "Malam Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Malam Qadar, Bab Mencari Malam Qadar di Sepuluh Malam Terakhir (no. 2022), dari sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما.
Hadits pendukung dari Aisyah رضي الله عنها dalam Shahih Al-Bukhari: Nabi ﷺ bersabda, "Carilah malam Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan." (diriwayatkan juga oleh Muslim).
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "هِيَ فِي الْعَشْرِ" (ia berada di sepuluh malam terakhir) menunjukkan malam Qadar tidak keluar dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat adalah malam Qadar berpindah-pindah (mutanawwi'ah) di antara malam-malam sepuluh terakhir, bukan tetap pada satu malam saja.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan hikmah disembunyikannya malam Qadar agar hamba bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam sepuluh terakhir.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menyembunyikan waktunya agar hamba bersungguh-sungguh mencari dan beribadah.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Sabda Nabi ﷺ "هِيَ فِي الْعَشْرِ" menunjukkan bahwa malam Qadar berada dalam rentang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kemudian beliau menyebut "تِسْعٍ يَمْضِينَ" (sembilan malam yang berlalu) yaitu malam ke-21, dan "سَبْعٍ يَبْقَيْنَ" (tujuh malam yang tersisa) yaitu malam ke-23. Adapun tambahan dari Ibnu Abbas "التمسوا في أربع وعشرين" (carilah pada malam ke-24) adalah pendapat pribadi Ibnu Abbas yang diriwayatkan melalui jalur lain.
Pemahaman ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan angka-angka ini bukan berarti malam Qadar hanya pada satu malam tertentu, tetapi Nabi ﷺ memberi isyarat kepada malam-malam ganjil yang paling kuat kemungkinannya. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat: sebagian menguatkan malam ke-27 (pendapat Ubay bin Ka'b), sebagian malam ke-21, sebagian malam ke-23, dan sebagian lagi berpendapat malam Qadar berpindah setiap tahun.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyimpulkan bahwa pendapat terkuat adalah malam Qadar berpindah-pindah di antara sepuluh malam terakhir, dan inilah yang menjadi kesepakatan mayoritas ulama Ahlus Sunnah. Karena itu, menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir adalah sikap yang paling selamat.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa hikmah disembunyikannya malam Qadar adalah agar hamba tidak hanya beribadah pada satu malam saja, tetapi bersungguh-sungguh di seluruh malam sepuluh terakhir. Ini termasuk rahmat Allah agar hamba memperbanyak amal.
Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa Allah menyembunyikan waktunya untuk menguji hamba, siapa yang bersungguh-sungguh mencari dan siapa yang malas.
Perbedaan pendapat:
- Ubay bin Ka'b (sahabat, diriwayatkan dalam Shahih Muslim) menguatkan malam ke-27.
- Ibnu Abbas dalam riwayat ini menguatkan malam ke-24.
- Mayoritas ulama (an-Nawawi, Ibnu Hajar) menguatkan bahwa malam Qadar berpindah-pindah.
Pendapat yang paling kuat: Malam Qadar berpindah-pindah di antara sepuluh malam terakhir, dan yang paling ditekankan adalah malam-malam ganjil, terutama malam ke-27. Namun, sikap paling selamat adalah menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ubay bin Ka'b رضي الله عنه pernah ditanya tentang malam Qadar, lalu beliau bersumpah bahwa malam itu adalah malam ke-27. Ketika ditanya alasannya, beliau menyebutkan tanda-tanda yang disebutkan Nabi ﷺ, di antaranya matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang menyengat. (Diriwayatkan dalam Shahih Muslim)
Ibnu Abbas رضي الله عنهما sendiri sangat bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir, bahkan beliau pernah berkata bahwa beliau lebih suka menghidupkan seluruh sepuluh malam daripada hanya satu malam tertentu. Ini menunjukkan sikap kehati-hatian dan kesungguhan salaf dalam mencari malam Qadar.
Hikmah: Para salaf tidak hanya fokus pada satu malam, tetapi menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah, doa, dan tilawah Al-Qur'an. Ini mengajarkan kita untuk tidak bermalas-malasan dan bersungguh-sungguh di seluruh malam sepuluh terakhir.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan shalat malam, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan doa. Jangan hanya fokus pada malam ganjil atau malam ke-27 saja.
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, terutama doa yang diriwayatkan Aisyah رضي الله عنها: "اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku). (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
- Jangan tinggalkan i'tikaf jika mampu, karena Nabi ﷺ selalu beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir hingga wafatnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
- Perbanyak sedekah dan amal kebaikan pada malam-malam tersebut, karena pahala amal pada malam Qadar lebih baik dari seribu bulan.
- Jaga niat dan keikhlasan, karena yang dinilai bukan banyaknya amal, tetapi keikhlasan dan kesungguhan hati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.