Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memerintahkan kita untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil yang tersisa: malam ke-21, ke-23, dan ke-25 (yakni malam ke-9, ke-7, dan ke-5 dari hitungan sisa sepuluh malam terakhir). Ini menunjukkan Lailatul Qadar berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil tersebut, sehingga kita dianjurkan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam tertentu.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Qadr [97]: 1
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar)."
QS. Ad-Dukhan [44]: 3
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam Kitab Keutamaan Malam Qadar, Bab Mencari Malam Qadar di Sepuluh Terakhir.
Hadits lain yang semakna, juga dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, diriwayatkan Al-Bukhari bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Lailatul Qadar: "هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ" — "Ia berada pada sepuluh malam terakhir."
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan "sembilan, tujuh, lima yang tersisa" adalah isyarat bahwa Lailatul Qadar berada pada malam-malam ganjil dari sepuluh terakhir, dan bahwa makna "tersisa" adalah hitungan mundur dari akhir Ramadan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa pendapat terkuat adalah Lailatul Qadar berpindah-pindah (mutanaqqilah) di antara malam-malam sepuluh terakhir, bukan tetap pada satu malam saja setiap tahunnya.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar agar hamba bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadan dan berada pada sepuluh malam terakhir, berdasarkan hadits-hadits shahih.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Kata "التمسوا" (iltamisuu) berarti "carilah dengan sungguh-sungguh", menunjukkan perintah yang menuntut keseriusan dan usaha maksimal, bukan sekadar menunggu.
Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tiga malam secara spesifik: "تَاسِعَةٍ تَبْقَى" (malam kesembilan yang tersisa, yaitu malam ke-21), "سَابِعَةٍ تَبْقَى" (malam ketujuh yang tersisa, yaitu malam ke-23), dan "خَامِسَةٍ تَبْقَى" (malam kelima yang tersisa, yaitu malam ke-25). Ini adalah hitungan mundur dari akhir Ramadan.
Pemahaman ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan malam-malam ganjil ini bukan berarti Lailatul Qadar hanya ada pada tiga malam itu saja, melainkan sebagai penekanan bahwa malam-malam ganjil lebih kuat harapannya. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami bahwa Lailatul Qadar bisa berpindah dari satu malam ganjil ke malam ganjil lainnya di tahun yang berbeda.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa jumhur ulama (mayoritas) berpendapat Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir, dan pendapat yang paling kuat adalah ia berpindah-pindah (تنتقل) di antara malam-malam tersebut. Ini sesuai dengan hikmah bahwa Allah menyembunyikannya agar hamba beribadah di seluruh malam, bukan hanya satu malam.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf, termasuk Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri, sangat bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir, bahkan ada yang mandi dan memakai wangi-wangian untuk menyambut malam-malam tersebut. Ini menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap malam-malam ini.
Perbedaan pendapat:
Ada perbedaan di antara ulama tentang apakah Lailatul Qadar tetap pada satu malam tertentu setiap tahun atau berpindah-pindah. Imam asy-Syafi'i dalam sebagian riwayat dari beliau cenderung pada malam ke-21, sementara Imam Ahmad bin Hanbal dan banyak ulama lain menguatkan bahwa ia berpindah-pindah. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil sepuluh terakhir, berdasarkan hadits-hadits yang tampak berbeda tentang malam terjadinya.
Hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar:
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Allah menyembunyikan Lailatul Qadar agar hamba-Nya bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, sehingga pahala mereka berlipat dan usaha mereka semakin besar. Jika Lailatul Qadar diketahui secara pasti, orang hanya akan beribadah pada satu malam saja dan meninggalkan malam-malam lainnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal — sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari murid-muridnya seperti Al-Khallal — sangat bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau mengurangi makan, memperbanyak doa, dan menghidupkan malam-malam tersebut dengan shalat dan munajat. Ini mengikuti petunjuk Nabi ﷺ yang menganjurkan mencari Lailatul Qadar dengan sungguh-sungguh.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa Sufyan ats-Tsauri berkata: "Aku lebih suka menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir daripada hanya satu malam tertentu, karena aku tidak tahu malam mana yang menjadi Lailatul Qadar." Ini menunjukkan sikap tawadhu dan kesungguhan para salaf dalam beribadah.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan dengan shalat malam, tilawah Al-Qur'an, dzikir, doa, dan istighfar — jangan hanya fokus pada malam ganjil saja.
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, terutama doa: "اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي" — "Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku" (HR. At-Tirmidzi, dari Aisyah رضي الله عنها).
- Jangan tinggalkan i'tikaf jika mampu, karena Nabi ﷺ beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir hingga wafatnya (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
- Sadar bahwa Lailatul Qadar bisa berpindah, maka jangan hanya mengandalkan satu malam tertentu, tetapi bersungguh-sungguhlah di semua malam ganjil — bahkan semua malam sepuluh terakhir.
- Ikuti pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dalam memahami hadits ini, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibn Rajab, dan Ibn Qayyim, tanpa ghuluw dan tanpa meremehkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.