Penjelasan Hadits Bukhari No. 2013 tentang Shalat malam Nabi sebelas rakaat dengan panjang dan indah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ di bulan Ramadan (tarawih) dan di luar Ramadan tidak lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat yang sangat panjang dan indah, kemudian empat rakaat lagi, lalu ditutup dengan tiga rakaat witir. Hadits ini juga mengajarkan bahwa tidurnya Nabi ﷺ tidak menghalangi kekhusyukan dan kesadaran hatinya kepada Allah, karena hati beliau senantiasa terjaga dalam dzikir dan ketaatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Telah menceritakan kepada kami Isma'il, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Malik, dari Sa'id al-Maqburi, dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman, bahwa dia bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha: "Bagaimana shalat Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan?" Maka dia menjawab: "Beliau tidak pernah menambah di bulan Ramadan dan tidak pula di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat — janganlah engkau tanya tentang bagus dan panjangnya — kemudian beliau shalat empat rakaat — janganlah engkau tanya tentang bagus dan panjangnya — kemudian beliau shalat tiga rakaat." Aku (Aisyah) berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum shalat witir?" Beliau menjawab: "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur." (HR. Al-Bukhari no. 2013)

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' [17]: 79)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil utama bahwa shalat malam Nabi ﷺ — baik di Ramadan maupun di luar Ramadan — adalah sebelas rakaat. Beliau juga menukil perkataan Imam Ahmad bin Hanbal yang menyatakan bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidak lebih dari sebelas rakaat, dan ini yang paling utama.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Jumlah Rakaat Shalat Malam Nabi ﷺ

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan shalat malam Nabi ﷺ di bulan Ramadan adalah sebelas rakaat. Ini menjadi dalil bagi madzhab yang memilih sebelas rakaat sebagai jumlah yang paling utama, sebagaimana dipilih oleh Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

Namun perlu dipahami, hadits ini tidak melarang shalat lebih dari sebelas rakaat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa yang disebutkan dalam hadits adalah kebiasaan Nabi ﷺ, bukan larangan menambah. Jika seseorang shalat tiga belas, dua puluh tiga, atau lebih, itu tetap dibolehkan selama dilakukan dengan khusyuk dan tidak memberatkan. Yang penting adalah kualitas shalat, bukan sekadar kuantitas.

2. Makna "Empat Rakaat" yang Dimaksud

Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa yang dimaksud "empat rakaat" dalam hadits ini adalah shalat dengan dua salam (dua rakaat salam, dua rakaat salam), bukan satu salam untuk empat rakaat. Ini berdasarkan hadits-hadits lain yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ shalat dua rakaat dengan satu salam. Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab tentang shalat tarawih untuk menunjukkan tata cara Nabi ﷺ.

3. Keutamaan Panjang dan Indahnya Shalat

Perkataan Aisyah "janganlah engkau tanya tentang bagus dan panjangnya" menunjukkan bahwa shalat Nabi ﷺ sangat panjang dan indah. Ini mengajarkan bahwa shalat malam yang utama adalah yang panjang bacaannya, bukan yang cepat dan terburu-buru. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa shalat malam adalah sarana terbesar untuk meraih ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah.

4. Makna "Mataku Tidur tetapi Hatiku Tidak Tidur"

Ini adalah keistimewaan khusus Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tidurnya mata Nabi ﷺ tidak menghilangkan kesadaran hatinya. Ini adalah mukjizat khusus beliau. Adapun bagi kita, tidur tetap membatalkan wudhu, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Namun pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya menjaga hati tetap hidup dengan dzikir kepada Allah dalam segala keadaan.

5. Hikmah Penetapan Witir Tiga Rakaat

Nabi ﷺ menutup shalat malamnya dengan tiga rakaat witir. Ini menunjukkan bahwa witir adalah penutup shalat malam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Adab al-Masyi ila ash-Shalah menyebutkan bahwa witir hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) dan sebaiknya dilakukan di akhir malam bagi yang mampu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang shalat malam Nabi ﷺ di bulan Ramadan. Beliau menceritakan dengan penuh kekaguman, sampai-sampai beliau berkata: "Janganlah engkau tanya tentang bagus dan panjangnya." Ini menunjukkan bahwa shalat Nabi ﷺ begitu indah dan panjang sehingga sulit digambarkan oleh kata-kata.

Para ulama menyebutkan bahwa Nabi ﷺ biasa membaca surat-surat panjang dalam shalat malamnya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa', dan Ali 'Imran dalam satu rakaat. Ini menunjukkan betapa besar kecintaan beliau kepada munajat kepada Allah.

Hikmah yang bisa diambil: shalat malam bukanlah soal cepat selesai, tetapi soal kedekatan hati kepada Allah. Semakin lama dan khusyuk, semakin besar pahala dan ketenangan yang diperoleh.

Kesimpulan Praktis

  1. Jumlah rakaat tarawih yang paling utama adalah sebelas rakaat (termasuk witir), sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ. Namun menambah lebih dari itu tetap dibolehkan.
  2. Perbaiki kualitas shalat — perpanjang bacaan, perbaiki kekhusyukan, dan jangan terburu-buru. Shalat yang sedikit tapi khusyuk lebih baik daripada banyak tapi tergesa-gesa.
  3. Jaga hati tetap hidup dengan dzikir dan mengingat Allah, baik saat terjaga maupun saat hendak tidur. Bacalah doa sebelum tidur dan perbanyak istighfar.
  4. Jangan tinggalkan witir — ia adalah penutup shalat malam yang sangat dianjurkan. Jika khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, boleh witir sebelum tidur.
  5. Niatkan shalat malam karena Allah, bukan karena riya atau ingin dipuji. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?