Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar shalat malam di bulan Ramadan (qiyam Ramadan / tarawih). Siapa yang mengerjakannya dengan dua syarat — iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (mengharap pahala, bukan riya' atau sekadar kebiasaan) — maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. Yang dimaksud "dosa yang lalu" menurut para ulama adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat khusus.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Furqan [25]: 70
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
Terjemahan: "Dan barangsiapa bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya."
QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Terjemahan: "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Tarawih, no. 2008, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Yahya bin Bukair ← Al-Laits ← 'Uqail ← Ibnu Syihab (Az-Zuhri) ← Abu Salamah ← Abu Hurairah.
Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah, dan Imam An-Nasa'i serta Imam Ibnu Majah dari Abu Hurairah juga, dengan lafaz yang semakna.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "imanan wa ihtisaban".
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menguraikan syarat pengampunan dosa.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas keutamaan qiyam Ramadan.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna pengampunan dosa dalam konteks ayat-ayat taubat.
Penjelasan Rinci
Makna "man qamahu" (siapa yang menghidupkan malamnya):
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, yang dimaksud "qiyam Ramadan" adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan shalat, dan ini mencakup shalat tarawih yang dikerjakan berjamaah maupun sendiri. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa shalat tarawih termasuk bagian dari qiyam Ramadan yang paling utama.
Makna "imanan" (dengan iman):
Kata "imanan" di sini menurut Ibnu Hajar berarti: membenarkan janji Allah bahwa qiyam Ramadan itu memiliki pahala besar, dan meyakini bahwa ia adalah ibadah yang disyariatkan — bukan karena ingin dilihat orang atau karena kebiasaan semata.
Makna "ihtisaban" (mengharap pahala):
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "ihtisab" berarti mengharapkan pahala dari Allah semata, ikhlas karena-Nya, tidak mengharapkan pujian manusia, dan tidak menganggapnya sebagai beban. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan bahwa ihtisab mencakup kesabaran dalam mengerjakannya dan tidak mengungkit-ungkitnya.
Makna pengampunan dosa:
Menurut Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar, yang dimaksud "maghfirah" (pengampunan) di sini adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir), karena dosa besar (kaba'ir) memerlukan taubat khusus sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa pengampunan dosa yang disebutkan dalam hadits-hadits keutamaan biasanya merujuk pada dosa kecil, kecuali jika disertai taubat yang sempurna.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama seperti Ibnu Rajab berpendapat bahwa hadits ini bersifat umum dan mencakup semua dosa dengan syarat taubat yang benar. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa pengampunan tersebut berlaku untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat tersendiri. Ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan dalam hadits-hadits lain tentang keutamaan amal.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Al-Bukhari ketika menyusun kitab Shahih-nya, beliau sangat teliti dalam memilih hadits. Hadits ini beliau letakkan dalam "Kitab Shalat Tarawih" — sebuah bab khusus yang menunjukkan betapa pentingnya qiyam Ramadan dalam pandangan beliau.
Diceritakan pula bahwa Ibnu Syihab az-Zuhri — salah satu perawi dalam sanad hadits ini — adalah seorang tabi'in yang sangat tekun dalam meriwayatkan hadits. Beliau dikenal sebagai ulama yang menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan ilmu. Muridnya, Al-Laits bin Sa'd, juga seorang ulama besar yang dikenal kezuhudannya. Sanad hadits ini menggambarkan rantai emas para ulama yang mengamalkan apa yang mereka riwayatkan.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat bersemangat menghidupkan malam-malam Ramadan. Mereka menganggap qiyam Ramadan sebagai kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan, dan mereka berlomba-lomba dalam kebaikan.
Kesimpulan Praktis
- Kerjakan shalat tarawih/qiyam Ramadan dengan penuh kesungguhan, baik berjamaah maupun sendiri.
- Hadirkan dua syarat utama: iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (ikhlas mengharap pahala, bukan riya').
- Jangan menganggap remeh dosa kecil — hadits ini mendorong kita untuk bertaubat dan memperbanyak amal di bulan Ramadan.
- Dosa besar tetap butuh taubat khusus — jangan hanya mengandalkan qiyam Ramadan tanpa memperbaiki diri dari dosa-dosa besar.
- Ikhlaskan niat — jangan mengungkit-ungkit amal atau mengharapkan pujian manusia.
- Manfaatkan setiap malam Ramadan — karena keutamaannya sangat besar dan waktunya terbatas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.