Penjelasan Hadits Bukhari No. 2008 tentang Keutamaan shalat malam Ramadan dengan iman dan ihtisab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar shalat malam di bulan Ramadan (qiyam Ramadan / tarawih). Siapa yang mengerjakannya dengan dua syarat — iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (mengharap pahala, bukan riya' atau sekadar kebiasaan) — maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. Yang dimaksud "dosa yang lalu" menurut para ulama adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat khusus.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Furqan [25]: 70

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

Terjemahan: "Dan barangsiapa bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya."

QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Tarawih, no. 2008, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Yahya bin Bukair ← Al-Laits ← 'Uqail ← Ibnu Syihab (Az-Zuhri) ← Abu Salamah ← Abu Hurairah.

Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah, dan Imam An-Nasa'i serta Imam Ibnu Majah dari Abu Hurairah juga, dengan lafaz yang semakna.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "imanan wa ihtisaban".
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menguraikan syarat pengampunan dosa.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas keutamaan qiyam Ramadan.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna pengampunan dosa dalam konteks ayat-ayat taubat.

Penjelasan Rinci

Makna "man qamahu" (siapa yang menghidupkan malamnya):

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, yang dimaksud "qiyam Ramadan" adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan shalat, dan ini mencakup shalat tarawih yang dikerjakan berjamaah maupun sendiri. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa shalat tarawih termasuk bagian dari qiyam Ramadan yang paling utama.

Makna "imanan" (dengan iman):

Kata "imanan" di sini menurut Ibnu Hajar berarti: membenarkan janji Allah bahwa qiyam Ramadan itu memiliki pahala besar, dan meyakini bahwa ia adalah ibadah yang disyariatkan — bukan karena ingin dilihat orang atau karena kebiasaan semata.

Makna "ihtisaban" (mengharap pahala):

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "ihtisab" berarti mengharapkan pahala dari Allah semata, ikhlas karena-Nya, tidak mengharapkan pujian manusia, dan tidak menganggapnya sebagai beban. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan bahwa ihtisab mencakup kesabaran dalam mengerjakannya dan tidak mengungkit-ungkitnya.

Makna pengampunan dosa:

Menurut Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar, yang dimaksud "maghfirah" (pengampunan) di sini adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir), karena dosa besar (kaba'ir) memerlukan taubat khusus sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa pengampunan dosa yang disebutkan dalam hadits-hadits keutamaan biasanya merujuk pada dosa kecil, kecuali jika disertai taubat yang sempurna.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama seperti Ibnu Rajab berpendapat bahwa hadits ini bersifat umum dan mencakup semua dosa dengan syarat taubat yang benar. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa pengampunan tersebut berlaku untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat tersendiri. Ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan dalam hadits-hadits lain tentang keutamaan amal.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Bukhari ketika menyusun kitab Shahih-nya, beliau sangat teliti dalam memilih hadits. Hadits ini beliau letakkan dalam "Kitab Shalat Tarawih" — sebuah bab khusus yang menunjukkan betapa pentingnya qiyam Ramadan dalam pandangan beliau.

Diceritakan pula bahwa Ibnu Syihab az-Zuhri — salah satu perawi dalam sanad hadits ini — adalah seorang tabi'in yang sangat tekun dalam meriwayatkan hadits. Beliau dikenal sebagai ulama yang menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan ilmu. Muridnya, Al-Laits bin Sa'd, juga seorang ulama besar yang dikenal kezuhudannya. Sanad hadits ini menggambarkan rantai emas para ulama yang mengamalkan apa yang mereka riwayatkan.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat bersemangat menghidupkan malam-malam Ramadan. Mereka menganggap qiyam Ramadan sebagai kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan, dan mereka berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Kerjakan shalat tarawih/qiyam Ramadan dengan penuh kesungguhan, baik berjamaah maupun sendiri.
  2. Hadirkan dua syarat utama: iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (ikhlas mengharap pahala, bukan riya').
  3. Jangan menganggap remeh dosa kecil — hadits ini mendorong kita untuk bertaubat dan memperbanyak amal di bulan Ramadan.
  4. Dosa besar tetap butuh taubat khusus — jangan hanya mengandalkan qiyam Ramadan tanpa memperbaiki diri dari dosa-dosa besar.
  5. Ikhlaskan niat — jangan mengungkit-ungkit amal atau mengharapkan pujian manusia.
  6. Manfaatkan setiap malam Ramadan — karena keutamaannya sangat besar dan waktunya terbatas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?